Sebuah pulau cantik di Australia menarik hati pengembang dari China. Setelah dijual, warga sana malah diusir pelan-pelan.
Dilansir dari Newsweek, China Bloom pengembang dari China membeli sebuah pulau bernama Keswick. Pulau ini masuk dalam Kepulauan Whitsundays di lepas pantai Queensland, Australia.
Mayoritas Pulau Keswick dinyatakan sebagai taman nasional. Warga di sana kerap menyewakan propertinya untuk wisatawan yang ingin liburan di Keswick.
Namun kehadiran China Bloom dianggap bermasalah. Menurut klaim warga, para penduduk di sana mulai dilarang untuk mengakses destinasi-destinasi di Pulau Keswick.
Warga dilarang masuk ke pantai, kapal dilarang masuk, bahkan landasan udaranya pun tak boleh diakses. Properti rumah dilarang untuk disewakan untuk wisatawan atau pun diiklankan lewat Airbnb.
Karena tak ada kejelasan, warga menyimpulkan bahwa nantinya pulau tersebut akan dijual kepada turis China.
"Saya tidak menyangka kalau mereka tak menginginkan orang Australia di pulau itu. Saya pikir mereka ingin memiliki pulau ini untuk keperluan pariwisata China," ujar Julie Willis, mantan penduduk di Pulau Keswick.
Willis menceritakan pengalamannya saat mereka diusir. Properti yang sudah mereka sewa selama enam tahun, mendadak harus kosong dalam waktu 3 hari. Tak hanya itu Willis juga harus deposit uang sebanyak USD 70.000 sebagai biaya penggantian kerusakan properti.
"Saya pikir mereka mencoba menghalangi kita untuk membeli properti. Mereka tidak ingin kita di sini," ucapnya.
Menurut juru bicara dari Departemen China Bloom bekerja untuk memperbaiki jalan-jalan di pulau, dermaga kapal dan infrastruktur kelautan.
"Tanggung jawab Departemen adalah untuk bekerja sama dengan kepala penyewa China Bloom dan sub penerima untuk memastikan semua kegiatan yang relevan sesuai dengan persyaratan sewa," tutup juru bicara.
https://tendabiru21.net/movies/lady-ninja-kaede-2/
Jadi Pasien Pertama di Kota Bogor, Bima Arya Ceritakan Rasanya Kena Corona
Wali Kota Bogor Bima Arya menceritakan rasanya saat terinfeksi virus Corona COVID-19. Kala itu, tanggal 17 Maret 2020, ia sedang rapat dengan Dinas Kesehatan dan jajarannya untuk membahas penanganan COVID-19 di Kota Bogor.
"Kita membahas satu hal yang menurut kita penting banget, orang Bogor susah banget dikasih tahu. Orang Bogor diberitahu ancaman COVID, walaupun belum ada kasusnya (saat itu), susah banget," kata Bima Arya dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Jumat (4/12/2020).
Dalam rapat tersebut, Bima Arya yang baru berpulang dari Turki merasa tidak enak badan dan menduga ini hanyalah jet lag. Hingga akhirnya, karena sedikit kesal dengan warga Bogor yang saat itu sulit diberitahu tentang bahaya COVID-19, ia mengatakan "masa harus ada yang positif baru orang Bogor ngerti bahwa COVID itu berbahaya?".
"Sejam kemudian saya ditelepon Pak Gubernur bahwa hasil swab saya positif. Jadi malam itu langsung saya dibawa ke rumah sakit dan mulailah masa-masa berat selama 22 hari di rumah sakit. Gejalanya seperti demam berdarah, lemas, pusing, mual, tapi plus batuk-batuk," jelas Bima Arya.
Bima Arya pun menjadi pasien Corona pertama di Kota Bogor. Namun, sekarang ia telah pulih dari COVID-19.
Meski begitu, Bima Arya mengaku usai sembuh dari COVID-19 hingga kini ia masih suka merasa cepat lelah dan badan seperti meriang.
"Jadi ada dua hal yang masih saya suka rasakan. Pertama, mudah lelah kadang-kadang, kalau dulu dari subuh sampai malam jalan, sekarang sore-sore kita harus sudah atur," keluhnya.
"Kedua, semriwing-semriwing, jadi kaya merasa demam meriang, tapi suhu badan normal, tapi di dalam itu kaya panas terutama saat kecapian," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar