Untuk pertama kalinya, bus tanpa sopir akan diuji coba di Bandara Haneda, Tokyo. Rencananya teknologi ini akan bisa dinikmati wisatawan pada 2020 mendatang.
Soal inovasi, Jepang bisa dibilang juaranya. Yang terbaru, mereka akan meluncurkan bus tanpa sopir yang akan melayani wisatawan di Bandara Haneda, Tokyo. Bus ini akan melayani wisatawan yang ingin berpindah dari satu terminal ke terminal lainnya.
Dihimpun detikTravel dari beberapa sumber, Kamis (17/1/2019), maskapai ANA (All Nippon Airways) sudah mulai menguji coba bus tanpa sopir ini di beberapa area terbatas di Bandara Haneda.
Jika uji coba ini sukses, bus tanpa sopir ini akan siap melayani penumpang tahun depan, bertepatan pula dengan pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020.
Cara kerja bus tanpa sopir ini yaitu dengan menggunakan bantuan sensor magnetik yang dipasang di bagian bawah bus. Nantinya bus ini akan mengikuti jalur bermagnet yang akan membantu bus untuk tetap berjalan sesuai dengan rutenya.
Meski tanpa pengemudi, bus ini tetap akan bisa dikontrol oleh operator lewat sistem kontrol yang disebut 'Dispatcher'. Kontrol ini bersifat real time, sehingga begitu ada masalah para operator sudah siap untuk mengatasinya.
"Bus otomatis ini akan membantu mengurangi arus lalu lintas di bandara dan juga membantu meningkatkan kenyamanan bagi para penumpang," ujar Shigeru Hattori, Senior Vice President ANA.
Selain di Bandara Haneda, bus tanpa sopir ini rencananya juga akan di uji coba di Bandara Narita, Bandara Sendai dan juga Bandara Nagoya.
Wisata Bhinneka, Cara Milenial Pahami Indahnya Perbedaan di Indonesia
Puluhan pelajar SMA dan mahasiswa mengikuti Wisata Bhinneka. Mereka membuka pandangan baru tentang kehidupan agama lain di Indonesia. Berbeda itu ternyata indah.
Hal itu dimulai dari mengunjungi tempat ibadah Kristen, Islam hingga Buddha. Kegiatan ini diinisiasi oleh komunitas Wisata Kreatif Jakarta, Kamis (17/1/2019).
Komentar datang dari Baiquni Al Farouq (20), mahasiswa dari STAN. Ia menilai kegiatan ini amat menarik dan memberi pengetahuan baru.
"Menarik dan jadi pengalaman baru. Kita bisa melihat dalamnya tempat ibadah yang berbeda agama dengan aku. Aku Muslim dan bisa melihat kegiatannya ngapain aja. Di katedral tadi ada nikahan. Jadi lebih tahu tentang agama mereka," ucap Baiq.
Imbuh dia, jika ingin lebih mengenal suatu agama memang tak bisa dengan sekali kunjungan. Namun hal tersebut sudah bisa untuk membuka pandangan kita ke agama lain supaya lebih terbuka menerima perbedaannya.
"Kalau cuma sekali kunjungan nggak terlalu memberi efek. Yang paling bagus memang seperti ini bisa mencegah perpecahan karena agama. Kita lebih terbuka pandangannya," jelas Baiq.
Ada pula komentar dari siswa-siswi SMAK 2 Penabur Jakarta Pusat. Mereka sangat menikmati tur ini.
"Seru, unik. Soalnya belum pernah nemu kegiatan yang ke agama berbeda gitu. Jarang yang ngadain kayak gitu yang mengajarkan toleransi," ucap Farel, Viki dan Jennifer bersahutan.
"Nggak ada larangan buat semua orang memasuki suatu tempat ibadah. Jadi ya nggak perlu didiskriminasi dan menonjolkan perbedaan dengan adanya larangan," imbuh mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar