Rabu, 04 Maret 2020

Tarif Tiket dan Bagasi Pesawat Naik, Omzet Oleh-oleh Pempek Menurun

Siapa sangka kalau harga tiket dan bagasi pesawat yang mahal mempengaruhi bisnis pempek Palembang. Pesanan dari wisatawan jadi berkurang.

Di Palembang, para pengusaha pempek mengaku omzetnya turun hingga 70 persen. Penurunan omzet dan pengiriman kuliner khas Kota Palembang ini dirasakan sejak awal Januari lalu. Khusus untuk Pempek, pengusaha mengaku pengiriman mereka ke luar daerah turun drastis.

"Kebijakan maskapai menaikkan tarif tiket dan bagasi ini sudah mulai kami rasakan awal Januari. Contoh saja pempek, kalau biasanya pengiriman ke luar daerah bisa 8-12 ton, sekarang pengiriman itu hanya 6-8 ton sehari," terang Humas Asosiasi Pengusaha Pempek Palembang, Jimmy, Selasa (29/1/2019).

Menurut Jimmy, banyak langganan luar daerah yang saat ini mengurangi jumlah pembelian pempek. Bahkan tak jarang mereka mengaku kaget karena biasanya pengiriman 10 Kg hanya Rp 180 ribu, kini menjadi Rp 200 ribu lebih.

"Iya banyak yang kaget, biasanya nggak sampai segitu. Sekarang harganya naik drastis. Otomatis mereka belinya pasti dikurangi," kata Jimmy.

Untuk mengatasi masalah pengiriman yang terlalu mahal, banyak pengusaha pempek yang harus putar otak. Salah satunya dengan memanfaatkan jasa pengiriman jalur darat meskipun nanti barang akan lama sampai.

Selain pengiriman jalur darat, pengusaha juga tidak jarang menggratiskan ongkos kirim untuk di Kota Palembang. Berbagai upaya dilakukan agar geliat usaha tetap jalan dan tidak gulung tikar.

"Untuk pengiriman lewat ojek online itu biasa bayar, tapi beberapa hari ini sudah banyak kita gratiskan. Setidaknya usaha tetap jalan. Termasuk kirim barang ya pakai ekspedisi darat lah, itu solusinya," kata Jimmy.

Jimmy mengaku banyak wisatawan yang mengurangi belanja pempek untuk oleh-oleh. Wisatawan jadi belanja pempek lebih sedikit karena faktor bagasi.

"Itu ya salah satunya, wisatawan bisanya bawa 5-10 Kg pempek setiap berkunjung ke Palembang, sekarang paling cuma 2-3 Kg. Mereka mengeluh semua, jadi jarang sekarang ada yang bawa banyak," imbuh Jimmy saat menceritakan nasib ratusan pengusaha yang mengeluh.

Batu-batu Angus yang Tak Biasa

Batu Angus di Ternate bentuknya tak biasa. Batuan ini menjadi saksi bisu letusan Gunung Gamalama di masa lalu.

Batu Angus adalah sebutan untuk lahar kering yang berwarna kehitaman seperti hangus. Ada beberapa lokasi muntahan lahar itu, namun yang paling luas dan banyak berada di objek wisata Batu Angus yang berjarak hanya 10 meter dari pusat kota Ternate.

Batu Angus sendiri menjadi ikon utama wisata Pulau Ternate. Katanya belum ke Ternate kalau belum ke sini. Bagaimana tidak, Batu Angus menjadi bukti nyata kedahsyatan letusan Gunung Gamalama tahun 1673.

Maka tidak heran jika objek wisata Batu Angus ini menjadi salah satu favorit di Ternate. Selain untuk jalan-jalan, berkunjung ke Batu Angus menjadi seperti sebuah pengingat bagi manusia untuk senantiasa menjaga alam dengan baik.

Untuk kondisi objek ini sendiri terbilang cukup terawat. Sudah tersedia jalur untuk jalan kaki atau naik motor yang memudahkan pengunjung untuk menjelajahi kawasan Batu Angus. Terlebih harga tiketnya masih sangat terjangkau hanya Rp 5.000/orang, pengunjung sudah bisa menikmati lanskap gunung dan laut secara bersamaan.

Oiya, saran saya cobalah untuk datang pada pagi hari. Udara masih terasa sangat segar dan masih sepi pengunjung. Bagi yang berkunjung siang hari, jangan lupa untuk memakai sunblock karena cuaca di Ternate terbilang panas, terlebih saat berada di antara bebatuan, terasa makin panas.

Tapi tenang, hal itu tidak mengurangi rasa bahagia menikmati alam ternate yang luar biasa indah. Jadi traveler sudah siap belum mengelilingi jalan Batu Angus yang ikonik itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar