Analisis awal uji coba fase ketiga vaksin Corona Sputnik V menunjukkan efikasi 91,6 persen. Disebut efektif melawan gejala COVID-19, dan 100 persen bisa mencegah kondisi parah dan sedang akibat COVID-19.
Data yang dimuat dalam jurnal The Lancet, menjelaskan usai 21 hari pemberian dosis pertama pada 19.866 peserta, ada 16 kasus gejala COVID-19 ditemukan dalam kelompok vaksin, 62 kasus positif COVID-19 lain dicatat pada kelompok plasebo.
Hasil efikasi uji coba vaksin Corona Sputnik V dilaporkan berbeda dari beberapa data awal sebelumnya. Hal tersebut berdasarkan pada tahap uji klinis dan jumlah relawan uji sebelum data terbaru menunjukkan efikasi 91,6 persen, berikut catatannya.
- 92 persen: data awal uji klinis tahap pertama
Efikasi vaksin Corona Sputnik V terus diupdate, dengan melibatkan ;ebih banyak relawan pada uji klinis. Diklaim, hasil efikasi melebihi 90 persen.
"Data awal vaksin Sputnik V COVID-19 Rusia menunjukkan bahwa itu 92 persen efektif," kata dana kekayaan kedaulatan negara itu, dikutip dari Independent.
Hasil sementara Sputnik V ini didasarkan pada data dari 16.000 peserta uji coba pertama, yang menerima suntikan vaksin Sputnik V sebanyak dua dosis. Vaksin Sputnik V sempat menjadi sorotan dunia karena menjadi salah satu yang lebih dulu menyetujui penggunaan vaksin tersebut meski belum selesai uji klinis.
- 95 persen: hasil awal uji klinis fase akhir
Vaksin Sputnik V mengumumkan hasil efikasi uji klinis fase akhir 95 persen efektif melawan COVID-19. Data disebutkan diperoleh dari hasil pasca 42 hari suntik dosis vaksin pertama menunjukkan 91,4 persen.
Sementara usai menerima dosis vaksin Corona Sputnik V kedua, efikasi diklaim berhasil di atas 95 persen.
"Kemanjuran vaksin di atas 95 persen," ujar Kementerian Kesehatan Rusia seperti dikutip dari laman The Moscow Times.
Data ini berasal dari 39 relawan COVID-19, tetapi tidak disebutkan jumlah kasus virus Corona yang digunakan untuk membuat perhitungan akhir.
https://kamumovie28.com/movies/bitcoin-heist/
SilkAir Resmi Gabung Singapore Airlines
Pada 28 Januari 2021, SilkAir resmi menjadi anak perusahaan Singapore Airlines (SIA). SilkAir resmi menghentikan operasinya lantaran sudah bergabung atau merger menjadi penerbangan di bawah SIA.
Aksi merger ini sudah direncanakan sejak lama. Mengutip mothership.sg, Rabu (3/2/2021), rencana merger ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2018. Rencana ini ditargetkan selesai tahun ini.
Selama beberapa dekade terakhir, SilkAir pada dasarnya telah beroperasi sebagai cabang regional SIA, di mana melayani penerbangan jarak pendek ke negara-negara di kawasan Asia PAsifik (APAC).
Namun, karena bukan maskapai Star Alliance membuat maskapai ini agak rumit dan tidak memberikan manfaat apapun untuk tingkatan elit mereka.
Setelah merger, semua anggota Star Alliance akhirnya akan dapat menerima manfaat dan kualitas layanan yang sama seperti SIA, termasuk hiburan dalam penerbangan di kursi belakang, yang menghilangkan beban membawa perangkat sendiri.
Proses merger ini juga bertujuan untuk merampingkan operasi SIA, dan memberikan pengalaman yang konsisten bagi semua pelanggannya.
Dalam email mereka, Singapore Airlines menulis kepada anggota KrisFlyer. Berikut isinya:
Selama lebih dari 30 tahun, SilkAir telah menjadi sayap regional Singapore Airlines, terbang untuk menjangkau 40 tujuan di Asia Pasifik. Sering dipilih karena keandalan layanan dan janjinya untuk membuat setiap perjalanan menyenangkan untuk diterbangi.
Mulai 28 Januari 2021, SilkAir akan memulai integrasinya ke SIngapore Airlines yang merupakan bagian dari rencana merger yang diumumkan pada 2018.
Sekarang Anda dapat menikmati pengalaman kelas dunia, tidak peduli seberapa singkat perjalanan Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar