Hasil uji klinis fase 3 menunjukkan vaksin COVID-19 Sputnik V memiliki efikasi 91,6 persen terhadap infeksi Corona. Peneliti mengatakan hasil ini sejalan dengan data kemanjuran yang dilaporkan pada tahap awal uji coba yang telah dimulai di Moskow, September 2020.
Vaksin ini dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow, sebuah pusat penelitian yang dikelola negara. Gamaleya memproduksi vaksin dengan dukungan dari Dana Investasi Langsung Rusia.
Vaksin ini sudah disetujui di Rusia, Belarusia, Serbia, Argentina, Bolivia, Aljazair, Venezuela, Paraguay, Turkmenistan, Hongaria, UEA, Iran, Guinea, Tunisia, Armenia dan wilayah Palestina.
Berikut fakta-fakta terkait vaksin Corona Sputnik V.
1. Metode pembuatan vaksin
Vaksin buatan Rusia ini didasarkan pada DNA adenovirus jenis SARS-CoV-2. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan untuk mengirimkan sebagian kecil patogen dan menstimulasi respons imun.
Alexander Gintsburg, direktur Pusat Penelitian Nasional Gamaleya, menyatakan bahwa partikel virus Corona dalam vaksin tersebut tidak dapat membahayakan karena tidak dapat berkembang biak.
2. Efek samping yang timbul
Dalam laporan uji klinis, peneliti mengatakan tidak ada efek samping serius yang dilaporkan terkait vaksinasi. Mayoritas efek samping yang dilaporkan ringan, seperti nyeri di tempat suntikan, gejala seperti flu dan kelelahan.
3. Harga
Salah satu keuntungan dari vaksin adenoviral yang digunakan sebagai metode pembuatan vaksin ini adalah tidak perlu disimpan dan diangkut dalam suhu yang sangat dingin.
Harganya US$ 10 atau sekitar Rp 142 ribu per dosis, menurut Russian Direct Investment Fund, yang mendanai produksi vaksin dan bertanggung jawab untuk menjualnya secara global.
4. Vaksinasi sudah mulai sejak Desember 2020
Vaksinasi massal di Rusia sudah mulai dilakukan sejak Desember 2020. Rusia telah memulai program vaksinasi COVID-19 yang diawali di Kota Moskow, dengan orang-orang paling berisiko termasuk tenaga medis dan guru.
Sputnik V sejauh ini telah diberikan kepada lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia.
https://kamumovie28.com/movies/japanese-woman-is-cheap-in-the-next-room/
Termasuk 5 Wilayah DKI, Ini Daftar 63 Zona Merah Corona di Indonesia
- Kasus COVID-19 di Indonesia per Selasa (2/2/2021) lagi-lagi bertambah 10.379. Jumlah totalnya sudah mencapai di angka 1.099.687 kasus, dengan 896.530 sembuh dan 30.581 kasus meninggal.
Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab angka positif COVID-19 masih tinggi. Salah satunya adalah pencatatan data yang terlambat, sehingga pencatatan kasus dari waktu yang lalu baru tercatat hari ini.
"Namun, sekali lagi kondisi ini tidak serta merta meniadakan fakta bahwa tingkat penularan masih tinggi di Indonesia. COVID-19 masih menjadi ancaman besar bagi masyarakat dan perekonomian kita," jelas Prof Wiku dalam konferensi pers di YouTube BNPB pada Selasa (2/2/2021).
Selain itu, Prof Wiku juga menyampaikan bahwa indikator dalam menentukan warna zonasi wilayah terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan kasus COVID-19 terkini. Pertama, insiden kumulatif atau jumlah seluruh kasus COVID-19 per 100 ribu penduduk di suatu wilayah tertentu.
Kedua, angka kematian per 100 ribu penduduk atau jumlah kematian akibat COVID-19 per 100 ribu penduduk di suatu wilayah tertentu.
"Pembaharuan yang dilakukan pada kedua indikator ini didasari oleh perkembangan rata-rata insiden kumulatif dan angka kematian di tingkat kabupaten/kota yang meningkat. Indikator ini akan terus diperbaharui sesuai dengan perkembang kasus untuk menjaga agar pemerintah bisa mengambil kebijakan yang tepat sesuai dengan keadaan saat ini," jelasnya.
https://kamumovie28.com/movies/league-of-gods/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar