Rabu, 11 Maret 2020

Bukan Kotanya Superman, Ini Metropolis Kota Hantu

Penggemar DC pasti tahu Metropolis, kota yang jadi tempat tinggal Superman. Tapi Metropolis yang ini, adalah kota hantu!

Diceritakan dalam komik DC dan film-film, Metropolis adalah rumahnya Superman (Clark Kent). Di sanalah Clark Kent bekerja menjadi wartawan, yang sewaktu-waktu menjadi Superman jika ada kejahatan.

Di dunia nyata, nyatanya tempat bernama Metropolis sungguhan ada. Dilansir dari CNN Travel, Selasa (15/1/2019) Metropolis adalah suatu kota hantu di Amerika Serikat.

Disebut sebagai kota hantu, sebab Metropolis ini ditinggalkan penduduknya. Hanya tersisa satu komplek bangunan yang dulunya tempat tinggal, itu pun sudah banyak yang rusak di mana-mana.

Metropolis berada di bagian timur negara Bagian Nevada. Tepatnya, berada di perbatasan Kota Utah dan Idaho. Sejarahnya, Metropolis dibangun oleh perusahaan Pacific Reclamation sebagai tempat tinggal bagi 7.500 orang di tahun 1910.

Seiring berjalan waktu, Metropolis pelan-pelan ditinggalkan penduduknya. Sebabnya, lanskap kota yang tandus dan sulit mendapatkan air bersih menyulitkan penduduknya untuk berkebun. Ditambah rangakaian cuaca buruk, makin sulit untuk bertahan hidup di sana.

Tahun 1929, penduduk Metropolis meninggalkan kotanya. Tak ada yang bisa bertahan hidup di sana.

Kini, Metropolis dikenal dengan sebutan Ghost Town alias Kota Hantu. Banyak wisatawan yang datang untuk menguji nyali.

Sungguhan Terjadi di Singapura, Malu Bertanya Sesat di Jalan

Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi traveler. Seorang pemuda tersesat di Singapura selama 10 hari, akibat malu bertanya untuk jalan pulang. Duh!

Dilansir detikTravel dari beberapa media China dan Malaysia, Selasa (15/1/2019) Zhang Daming, pemuda berusia 18 tahun dari Malaysia pergi ke Singapura untuk mencari kerja. Dia bermalam di apartemen temannya dan semua baik-baik saja.

Tanggal 26 Desember 2018 adalah awal kisah malu bertanya sesat di jalan bagi Zhang. Pagi itu, dia meninggalkan apartemen temannya untuk mencari pekerjaan. Dia pun membawa uang pegangan sebesar SGD 50 atau setara Rp 520 ribu.

"Saya berjalan ke suatu kafe untuk makan siang, tetapi setelah itu saya tidak menemukan jalan pulang," kata Zhang.

Celakanya, Zhang juga tidak membawa ponsel dan paspor karena ditinggal di apartemen temannya. Tak hanya itu, dia pun meninggalkan uang sebesar SGD 495 atau setara Rp 5,1 juta di apartemen temannya.

Tambah celakanya lagi, Zhang malu untuk bertanya. Dia mencoba sendiri berjalan kaki untuk menemukan apartemen temannya, tapi yang ada malah tersesat.

"Saya sangat kebingungan. Semua apartemen kelihatannya sama," ujarnya.

Alhasil, Zhang makin tersesat. Saat malam tiba, dia tidur di taman sampai di luar gedung. Untuk ke toilet, dia menggunakan toilet yang ada di mal dan restoran. Dalam sehari dia bisa berjalan kaki hingga 12 jam!

Bukan cuma 1-2 hari, tapi Zhang tersesat hingga 10 hari. Zhang pun sempat mengemis, karena uangnya mulai habis.

Entah apa alasan Zhang yang malu bertanya, sehingga dia terus mencoba menemukan jalan pulang. Hingga akhirnya di hari ke-10, Zhang ditemukan di suatu taman oleh beberapa masyarakat yang melihatnya mirip seperti di daftar orang hilang.

Akhirnya Zhang kembali ke apartemen temannya dan tak lama kembali ke Malaysia. Dia mengaku, tidak akan kembali ke Singapura dalam waktu dekat.

Banyak masyarakat Singapura yang tak habis pikir, mengapa Zhang malu sekali untuk bertanya. Padahal jika bertanya, sudah tentu dibantu oleh orang-orang. Namun tak sedikit masyarakat Singapura yang menaruh curiga pada Zhang. Mereka menganggap, Zhang hanya datang ke Singapura untuk mengemis dan mengarang cerita tersesat.

Apapun itu, belajar dari kisah Zhang, jangan pernah malu untuk bertanya saat tersesat di jalan. Jika masih ragu bertanya mungkin bakal dibohongi atau lainnya, ada baiknya menemui petugas keamanan atau polisi supaya merasa aman.

Sekali lagi, malu bertanya sesat di jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar