Tahun yang baru, gaya traveling pun juga harus baru. Kira-kira, apa saja prediksi tren traveling di tahun 2019 ini?
Lonely Planet baru-baru ini mengeluarkan daftar prediksi tren traveling yang akan banyak ditemukan di tahun 2019. Bisa dibilang, cukup banyak perbedaan dari tahun sebelumnya.
Seperti dilihat detikTravel dari Lonely Planet, Senin (14/1/2019) setidaknya ada 5 poin yang akan booming. Mulai dari tipe traveler, sampai atraksi yang dilakukan.
Berikut selengkapnya, 5 tren traveling yang diprediksi tahun 2019:
1. Menjauhi tempat-tempat turis
Biasanya, traveling ke sebuah tempat baru destinasinya adalah yang banyak dikunjungi wisatawan. Tapi, menurut Lonely Planet, di tahun 2019 makin banyak orang yang menghindari tempat ramai turis.
Umumnya, wisatawan akan menghindari keramaian dan pergi di musim low season. Mungkin, bisa jadi alternatif kamu yang suka tempat sepi nih.
2. Menjelajah lewat Augmented Reality
Teknologi semakin lama, semakin berinovasi, begitupun dunia traveling yang ikut terdampak. Kalau di tahun sebelumnya orang lebih gemar menggunakan smartphone, di tahun ini, prediksinya akan sedikit berbeda.
Traveler akan lebih gemar menggunakan Augmented Reality. Dengan menggunakan bantuan headset, aplikasi, teknologi 360 derajat wisatawan akan mendapat informasi dan pengalaman yang berbeda saat berkunjung ke sebuah destinasi.
3. Mencari Leluhur
Mungkin, traveler mayoritas lahir di Indonesia. Namun, bisa jadi, ada darah negeri lain yang belum diketahui.
Menurut Lonely Planet, di tahun 2019, makin banyak orang yang traveling untuk mencari dari mana ia sesungguhnya, atau akar asal-usul leluhurnya. Tentunya, ini akan seperti sebuah petualangan yang tidak terbayangkan. Kamu mau coba mencarinya?
4. Road trip dengan kendaraan elektrik
Jalan-jalan jalur darat naik kendaraan berbahan bakar bensin mungkin sudah biasa. Kalau pakai kendaraan elektrik bagaimana?
Nah, kalau barangkali ingin merasakan yang berbeda, bisa coba gaya traveling yang satu ini. Bukan cuma pengalaman baru, bisa jadi salah satu alternatif ramah lingkungan yang patut dicoba nih.
5. Langit gelap
Beberapa wisatawan gemar berfoto dengan cahaya terang dengan pemandangan indah. Tapi, sepertinya langit gelap juga tidak kalah menarik.
Bisa saja, traveler pergi ke lapangan terbuka dan mencari tempat dengan pemandangan langit yang cantik. Bintang-bintang dan bulan, jadi suasana asyik untuk kemping atau hanya sekadar bersantai.
Menjaga Gunung-gunung Papua Lewat Papua Mountaineering Association
Bukan hanya pesisir pantai, wilayah gunung-gunung di Papua sejatinya menarik untuk dijelajahi. Apalagi, Papua punya puncak tertinggi di negeri ini.
Lewat pelajaran Geografi di masa sekolah, kita diajarkan tentang bentang alam Indonesia. Jika menyebut Papua, salah satu bentang alam yang familiar di telinga adalah Pegunungan Jayawijaya.
Tak ayal, Pegunungan Jayawijaya terbentang panjang. Berada di bagian tengah Pulau Papua, dari timur sampai ke barat. Di sana pula, terdapat beberapa puncak-puncak gunung yang jadi impian para pendaki. Sebut saja Puncak Carstensz, Puncak Jaya, Puncak Trikora dan masih banyak lagi.
Beberapa puncaknya memiliki fenomena unik. Puncak Jaya misalnya, memiliki bentangan es abadi. Apalagi Puncak Carstensz, suatu impian para pendaki untuk berdiri di sana yang juga merupakan Seven Summits dunia!
Namun rupanya, belum ada regulasi pendakian yang jelas. Kesannya masih sulit terjamah, butuh biaya besar dan segi keamanan dipertanyakan. Maka itu, kini dibentuklah Papua Mountaineering Association (PMA) Asosiasi Pendaki dan Pemandu Gunung Papua.
"Lewat PMA, kami ingin menjaga gunung-gunung di Papua. Juga, kami ingin menjadikan gunung-gunung di Papua sebagai destinasi wisata yang mana nantinya akan menjadi sumber pendapatan ekonomi bagi orang-orang Papua," kata ketua PMA, Maximus Tipagau kepada detikTravel, Senin (14/1/2019).
Maximus menjelaskan, Sabtu (12/1) kemarin, PMA sudah bertemu dengan beberapa stakeholder pariwisata di Papua seperti ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) Papua, HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Papua, Dinas Pariwisata Provinsi Papua hingga FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar