- Sindrom turner merupakan kelainan genetik langka yang disebut juga dengan monosomy X, gonadal dysgenesis, dan sindrom Bonnevie-Ullrich. Sindrom ini ternyata hanya terjadi pada jenis kelamin perempuan saja.
Kondisi ini dinyatakan langka karena sindrom turner hanya ditemukan pada satu dari 2.000 wanita.
Dikutip dari Healthline, tubuh manusia memiliki 23 pasang kromosom yang masing-masing menyimpan materi genetik berbeda-beda. Keberadaan kromosom X dan Y yang kemudian membedakan jenis kelamin tiap manusia.
Seseorang dengan jenis kelamin pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y, sementara wanita memiliki dua kromosom X.
Sindrom turner dapat terjadi saat ditemukan kelainan genetik langka yang terjadi pada salah satu jenis kromosom yang dimiliki.
Pada perempuan yang memiliki dua kromosom X, kelainan ini terjadi saat sebagian atau seluruh bagian dari salah satu kromosom X menghilang atau tidak terbentuk.
Kondisi ini membuat pengidap sindrom turner tidak bisa bertumbuh sehat dan tidak dapat berumur panjang. Mereka membutuhkan supervisi medis yang dilakukan secara terus menerus dan harus konsisten untuk bertahan hidup.
Hal tersebut dilakukan guna mendeteksi dan mengobati komplikasi yang dapat muncul seiring bertambahnya usia pengidap.
Sindrom turner dapat menyerang anak perempuan tanpa pandang bulu, untuk meningkatkan kewaspadaan berikut ini adalah gejala sindrom turner.
Bentuk tangan dan kaki yang tampak bengkak (pada saat masih balita)
Perawakan tubuh yang pendek
Kondisi langit-langit mulut yang tinggi
Posisi telinga lebih rendah dari bayi normal
Cenderung obesitas
Kelopak mata yang tampak jatuh
Bentuk dasar kaki yang datar
KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA
https://cinemamovie28.com/movies/secret-love-2/
Maaf, Tak Ada Vaksin Corona 'Drive Thru' di Bantul! Ini Alasannya
Kabupaten Sleman telah mengawali vaksinasi COVID-19 secara drive thru di Candi Prambanan beberapa waktu lalu. Dinkes Bantul tidak tertarik mengikutinya karena keterbatasan vaksin dan sulitnya melakukan pemantauan 30 menit pasca vaksinasi.
Kasie Surveilans dan Imunisasi Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul Abednego Dani Nugroho mengatakan, bahwa ada 2 pertimbangan yang membuat vaksinasi COVID-19 sistem drive thru di Bantul tidak terlaksana. Pertama, karena keterbatasan persediaan vaksin di Kabupaten Bantul.
"Kemarin dari Dinkes DIY datang kira-kira 10.000 dosis, itu untuk 5.000 sasaran. Tapi vaksin tersebut akan kami prioritaskan untuk lansia dan untuk menyelesaikan vaksinasi pelayan publik lewat Puskesmas-puskesmas," katanya saat dihubungi wartawan, Rabu (14/4/2021).
Terlebih jumlah fasilitas layanan kesehatan di Kabupaten Bantul mencukupi. Untuk itu pihaknya tidak melaksanakan vaksinasi dengan sistem drive thru.
"Jumlah puskemas dan rumah sakit yang bisa melaksanakan vaksin mencukupi. Jadi untuk vaksinasi drive thru mungkin belum ya," ucap Abed.
Pertimbangan lainnya, kata Abed adalah pemantauan dampak vaksin. Menurut Abed, pemantauan tersebut akan sulit dilakukan jika dilaksanakan secara drive thru.
"Pemantauan 30 menitnya bagaimana? Apakah harus tetap menunggu di dalam mobil atau seperti apa? Apalagi tidak semua penerima sasaran punya mobil. Itu juga yang jadi pertimbangan kami tidak menggelar vaksinasi secara drive thru," ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah pelaku pariwisata dan pekerja transportasi menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama di taman parkir Ramayana Ballet, Candi Prambanan, Sleman, Senin (5/4/2021). Selengkapnya baca di halaman berikut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar