Pesta rakyat dan kuliner ditampilkan dalam Festival Pamalayu yang digelar di Dharmasraya, Sumatera Barat. Festival ini dihelat hingga 7 Januari 2020 mendatang.
Salah satu agenda menarik, berlangsung pada Senin (23/9/2019), di mana ratusan kapal hias mengarungi Sungai Batanghari. Selain melewati Propinsi Jambi, Sungai Batanghari juga membelah Dharmasraya.
Rombongan kapal bergerak dari jembatan kabel dan melewati sekitar 7 kilometer dengan garis finish di kawasan Candi Pulau Sawah. Ribuan orang memadati lokasi untuk menyaksikan pawai kapal yang diberi nama "Arung Pamalayu" tersebut.
"Ini rangkaian Festival Pamalayu yang kita launching di Museum Nasional 22 Agustus lalu. Nah, dari festival ini kita mengambil semangat peradaban dan persatuan dengan sungai. Kita ingin mengingat sejarah Dharmasraya masa lalu," kata Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan kepada Detikcom, Senin (23/09/2019).
"Kita Mengingat peradaban masa lalu. Tidak ada jalan, tidak ada tol, tidak ada keretapi. Semua melewati sungai. Sungai itu sumber kehidupan. Karena itu dengan hari ini kita menjaga sungai dan lingkungan,"
Sampai di Kawasan Candi Pulau Sawah, rombongan disambut dengan prosesi adat. Berbagai macam tarian ditampilkan. Juga ada penyembelihan kerbau putih, lalu dilanjutkan dengan makan bajamba, yakni makan bersama secara adat Minang.
Festival sendiri untuk memperkenalkan, mengkaji dan mengenang kembali Ekpedisi Pamalayu.
Ekspedisi Pamalayu dikenal sebagai sebuah diplomasi melalui operasi kewibawaan militer yang dilakukan Kerajaan Singhasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1286 terhadap Kerajaan Melayu di Dharmasraya di Pulau Sumatra.
Singosari merupakan kekuatan besar di Jawa, sebelum Majapahit lahir. Kekuasaanya bahkan sampai Kamboja.
Kata Sutan Riska, karnaval juga bertujuan mengajak masyarakat untuk menjaga sungai Batang Hari. Menurutnya, dari hasil penelitian, sungai itu tercemar oleh merkuri atau zat yang sangat berbahaya bagi masyarakat.
"Saat ini, pucuk ubi pun sudah tercemar oleh merkuri," kata dia.
Selain Arung Pamalayu, rangkaian festival juga dimeriahkan berbagai agenda berbagai pesta rakyat dan penampilan beragam kuliner. Pesta akan berakhir pada 7 Januari 2020, atau bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Dharmasraya yang ke-16.
Datang ke Dharmasraya yuk!
Kebijakan Trump Sudah Bikin 31.000 Turis Tak Bisa Masuk AS
Hingga kini, sudah lebih dari 31 ribu wisatawan mancanegara dilarang masuk ke Amerika Serikat sejak adanya kebijakan berupa aturan pelarangan Presiden AS Donald Trump.
Dilansir CNN, Rabu (25/9/2019), penolakan izin masuk AS ini sebagian besar diterima negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Pembatasan perjalanan, yang ditegakkan oleh Mahkamah Agung tahun lalu itu menyasar warga dari negara Iran, Libya, Somalia, Suriah, Yaman, Venezuela dan Korea Utara.
Warga Chad telah dihapus dari daftar blacklist pada April lalu, setelah Gedung Putih mengatakan negara itu meningkatkan langkah-langkah keamanannya. Edward Ramotowski, wakil asisten sekretaris untuk Layanan Visa di Biro Urusan Konsuler, mengatakan bahwa ada sekitar 31.334 penolakan hingga 14 September 2019.
Beberapa pemohon visa mungkin memenuhi syarat di Departemen Luar Negeri, tapi bisa saja tertahan di salah satu departemen lain. Ramotowski mengatakan kepada anggota parlemen bahwa departemennya telah mengeluarkan lebih dari 7.600 keringanan.
Menurut data yang dikeluarkan oleh departemen pada bulan Februari, selama 11 bulan pertama larangan, sampai Oktober lalu, hanya 5,9% dari pelamar visa tidak diberikan izin, sementara 29% lainnya menunggu proses administrasi.
Ramotowski mengatakan totalnya ada sekitar 72.000 orang telah mendaftar visa dan menyatakan bahwa sekitar 15.000 di antaranya masih melalui proses keamanan. Trump berulang kali mengatakan selama kampanyenya bahwa ia akan melarang semua warga muslim memasuki AS.
Pengadilan federal lalu mengutip kata-katanya untuk memblokir wisatawan dalam dua versi larangan perjalanan pada tahun 2017. Pada bulan Desember 2017, Mahkamah Agung mengizinkan versi ketiga dari larangan ini berlaku, dan pada akhirnya menegakkan larangan pada Juni lalu.
Demokrat telah mengecam larangan itu dan menyanggah argumen pemerintah bahwa larangan itu bertujuan untuk keamanan nasional. "Larangan muslim tidak membuat kami lebih aman," kata Ketua Peradilan House Jerry Nadler, seorang Demokrat dari New York.
"Itu telah melemahkan posisi kita di dunia dan bertentangan dengan landasan moral juga filosofi negara kita. Amerika Serikat selalu, dan harus terus menjadi, tempat yang menyambut dan merangkul orang-orang dari semua agama dan kebangsaan," imbuh dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar