- Osteoporosis seringkali dikaitkan dengan penyakit yang hanya dialami oleh orang tua lanjut usia. Padahal, kondisi di mana tulang mengalami kerapuhan dan menyebabkan tulang keropos ini juga bisa dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Perhitungan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), dr Bagus Putu Putra Suryana, SpPD-KR, pada acara webinar dalam rangka memperingati Hari Aktivitas Fisik dan Hari Kesehatan Sedunia.
"Osteoporosis itu tidak hanya menyerang usia lansia. Bahkan pada anak-anak pun bisa mengalami osteoporosis, ya," ujar dr Bagus, Rabu (7/4/2021).
Tulang keropos pada anak dapat terjadi jika pertumbuhan tulangnya tidak bagus, di mana anak tidak mengonsumsi cukup nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang, seperti kalsium dan vitamin D.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya osteoporosis pada usia muda.
"Kalau dari awal memang pertumbuhan tulangnya tidak bagus. Jadi persepsi yang salah di masyarakat memang dikatakan osteoporosis (terjadi) pada lansia. Pada anak-anak, pada orang dewasa pun bisa mengalami osteoporosis," lanjutnya.
dr Bagus menjelaskan, patah tulang yang disebabkan oleh kerapuhan tulang bisa terjadi pada usia berapapun, tidak hanya pada orang tua atau lansia.
"Sehingga patah tulang bisa terjadi pada usia berapa saja. Osteoporosis pada anak-anak itu bisa mengalami patah tulang juga," tutur dr Bagus.
https://tendabiru21.net/movies/war-dogs/
Bukan 'Eek', Ini Mutasi Corona Paling Dominan di Indonesia Saat Ini
Mutasi E484K atau 'Eek' yang tengah ramai dibicarakan baru ditemukan satu kasus di Indonesia. Sebenarnya, mutasi Corona manakah yang dominan saat ini?
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Subandrio mengatakan mutasi D614G masih menjadi mutasi yang dominan saat ini. Mutasi ini diidentifikasi di Indonesia awal tahun lalu dan sempat dikhawatirkan mempengaruhi efektivitas vaksin.
Namun sejauh ini, organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan vaksin yang ada saat ini masih efektif melawan mutasi tersebut. Karenanya, belum ada anjuran untuk mengubah vaksin yang ada.
Selain mutasi tertentu, para ilmuwan juga mewaspadai beberapa varian virus Corona yang telah menyebar di seluruh dunia. Sekurangnya ada tiga varian yang diwaspadai yakni B117 dari Inggris, B1351 asal Afrika Selatan, dan P1 dari Brasil.
Dari ketiganya, manakah yang sudah ditemukan di Indonesia?
"Sejauh ini yang ditemukan masih B117," kata Prof Amin.
Eropa Tetap Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Meski Ada Kemungkinan Risiko
Regulator di Eropa dan Inggris mengklaim telah menemukan kemungkinan kaitan antara vaksin AstraZeneca dengan kejadian langka pembekuan darah. Meski begitu, mereka tetap merekomendasikan vaksin tersebut.
Pertimbangannya tidak lain karena melindungi orang terhadap COVID-19 tidak kalah penting. Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya memberikan perlindungan.
Dikutip dari Reuters, badan penasihat di Inggris mengatakan vaksin ini sebaiknya tidak diberikan pada usia di bawah 30 tahun jika memungkinkan. Namun para pakar menyebut hal itu sebagai bentuk kewaspadaan, bukan benar-benar karena ada masalah keamanan serius.
Sejumlah negara sempat menangguhkan vaksin AstraZeneca. Namun sebagian besar di antaranya telah kembali melanjutkan, termasuk Prancis, Belanda, dan Jerman.
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memastikan akan terus memantau perkembangan vaksin AstraZeneca dan evaluasi pada pakar di Eropa. Koordinasi dengan para pakar di dalam negeri juga terus menerus dilakukan.
"BPOM terus berkoordinasi dengan KOMNAS KIPI dalam mengevaluasi kejadian pembekuan darah akibat pemberian vaksin AstraZeneca," kata juru bicara vaksinasi BPOM, Lucia Rizka Andalusia, saat dihubungi detikcom Rabu (7/4/2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar