Kamis, 08 April 2021

Bukan 'Eek', Ini Mutasi Corona Paling Dominan di Indonesia Saat Ini

  Mutasi E484K atau 'Eek' yang tengah ramai dibicarakan baru ditemukan satu kasus di Indonesia. Sebenarnya, mutasi Corona manakah yang dominan saat ini?

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Subandrio mengatakan mutasi D614G masih menjadi mutasi yang dominan saat ini. Mutasi ini diidentifikasi di Indonesia awal tahun lalu dan sempat dikhawatirkan mempengaruhi efektivitas vaksin.


Namun sejauh ini, organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan vaksin yang ada saat ini masih efektif melawan mutasi tersebut. Karenanya, belum ada anjuran untuk mengubah vaksin yang ada.


Selain mutasi tertentu, para ilmuwan juga mewaspadai beberapa varian virus Corona yang telah menyebar di seluruh dunia. Sekurangnya ada tiga varian yang diwaspadai yakni B117 dari Inggris, B1351 asal Afrika Selatan, dan P1 dari Brasil.


Dari ketiganya, manakah yang sudah ditemukan di Indonesia?


"Sejauh ini yang ditemukan masih B117," kata Prof Amin.

https://tendabiru21.net/movies/bound-2/


Eropa Tetap Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Meski Ada Kemungkinan Risiko


Regulator di Eropa dan Inggris mengklaim telah menemukan kemungkinan kaitan antara vaksin AstraZeneca dengan kejadian langka pembekuan darah. Meski begitu, mereka tetap merekomendasikan vaksin tersebut.

Pertimbangannya tidak lain karena melindungi orang terhadap COVID-19 tidak kalah penting. Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya memberikan perlindungan.


Dikutip dari Reuters, badan penasihat di Inggris mengatakan vaksin ini sebaiknya tidak diberikan pada usia di bawah 30 tahun jika memungkinkan. Namun para pakar menyebut hal itu sebagai bentuk kewaspadaan, bukan benar-benar karena ada masalah keamanan serius.


Sejumlah negara sempat menangguhkan vaksin AstraZeneca. Namun sebagian besar di antaranya telah kembali melanjutkan, termasuk Prancis, Belanda, dan Jerman.


Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memastikan akan terus memantau perkembangan vaksin AstraZeneca dan evaluasi pada pakar di Eropa. Koordinasi dengan para pakar di dalam negeri juga terus menerus dilakukan.


"BPOM terus berkoordinasi dengan KOMNAS KIPI dalam mengevaluasi kejadian pembekuan darah akibat pemberian vaksin AstraZeneca," kata juru bicara vaksinasi BPOM, Lucia Rizka Andalusia, saat dihubungi detikcom Rabu (7/4/2021)


Pakar Sebut Mutasi Corona E484K Bisa Pengaruhi Efektivitas Vaksin


Menyoal mutasi baru virus Corona E484K yang disebut lebih menular, pakar pun menyebut mutasi ini bisa saja mempengaruhi efikasi dari vaksin COVID-19.

Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengingatkan adanya kemungkinan mutasi baru virus Corona COVID-19 E484K akan berpengaruh terhadap kerja vaksin.


"Karena E484K ini kurang rentan terhadap antibodi, maka akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Tapi, saya masih menunggu hasil studi lanjutan dan bagaimana efeknya terhadap vaksin yang selama ini beredar," jelas Prof Zubairi, dikutip dari dikutip dari akun Twitter @ProfesorZubairi atas izin yang bersangkutan, Kamis (8/4/2021).


Perlu diketahui, E484K merupakan mutasi varian P.1, yang diketahui memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi pada anak muda.


Setidaknya, ada tiga varian yang kini jadi perhatian para ahli. Yaitu, B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru P1 di Brasil.


"Oleh BBC, E484K dijuluki double mutant atau mutan ganda. Pasalnya, E484K ini mengandung tidak hanya satu, tetapi dua mutasi mengkhawatirkan dalam komposisi genetiknya yang telah diidentifikasi U.S. Centers for Disease Control and Prevention," tambah Prof Zubairi.


Dalam sebuah pengujian di laboratorium, E484K terbukti membantu virus Corona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya. Sehingga membuat virus tersebut kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin.


Terpenting, Prof Zubairi mengingatkan untuk masyarakat agar tetap patuh terhadap protokol kesehatan.


"Yang jelas, tetap pakai masker, cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, plus menjaga jarak. Bismillah, kita bisa melewati pandemi COVID-19 ini dengan benar, dan semoga penjelasan ini tidak dianggap fear mongering," pungkasnya.

https://tendabiru21.net/movies/war-dogs-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar