Jumat, 07 Mei 2021

Kasus COVID-19 RI Terbanyak Datang dari 10 Negara Ini

 Berbagai varian baru COVID-19 sudah masuk ke Indonesia, sebagian di antaranya termasuk yang diwaspadai. Berdasarkan catatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kementerian Kesehatan, ada beberapa negara yang paling banyak menyumbang masuknya kasus positif ke Indonesia.

Hal itu diungkap juru bicara satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam siaran pers Kamis (6/5/2021).


Tercatat selama periode 28 Desember 2020 hingga 3 Mei 2021, berikut 10 negara penyumbang kasus positif terbanyak:


Arab Saudi

Uni Emirat Arab

Turki

Malaysia

Qatar

Mesir

Jepang

Singapura

Kongo

Lebanon

Sedangkan 5 teratas negara sumber kasus pada WNA (Warga Negara Asing) adalah sebagai berikut:


India

Uni Emirat Arab

Qatar

Jepang

Turki

Prof Wiku mengingatkan, pembatasan pelaku perjalanan perlu dilakukan untuk mencegah masuknya berbagai mutasi dan varian baru virus Corona. Termasuk varian B1617 dari India, yang belakangan sudah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.


"Virus tidak mengenal batas teritorial dan setiap negara saling terhubung," pesannya.

https://trimay98.com/movies/side-effects-2/


Dialami Suami Joanna Alexandra, Apa Itu Komorbid Asma dan Badai Sitokin?


Suami Joanna Alexandra, Raditya Oloan, meninggal dunia pada Kamis (6/5/2021) dalam perawatan intensif akibat terpapar COVID-19. Dikabarkan ia sempat mengalami badai sitokin dan punya komorbid asma.

Kondisi Radit sebelum meninggal dunia antara lain diungkap oleh sang istri, Joanna, dalam salah satu unggahan di media sosial.


"Kondisinya post covid dengan komorbid asma, and he is going through a cytokine storm yang menyebabkan hyper-inflammation in his whole body," tulis Joanna di akun Instagramnya, Selasa (4/5/2021).


Apa yang dimaksud badai sitokin dan komorbid asma?


Badai sitokin

Dikutip dari Newscientist, sitokin adalah protein kecil yang dilepaskan oleh berbagai macam sel di dalam tubuh, termasuk sel-sel di sistem imun. Fungsinya adalah mengkomunikasikan sinyal untuk merespons infeksi dan merangsang radang atau inflamasi.


Kadang-kadang, tubuh merespons infeksi secara berlebihan dan tidak terkontrol. Sitokin yang berlebih mengaktifkan lebih banyak sel imun dan menyebabkan hiperinflamasi yang membahayakan, bahkan bisa berakibat fatal.


Badai sitokin tidak hanya disebabkan oleh COVID-19, tapi juga infeksi pernapasan lain. Bahkan bisa juga disebabkan oleh penyakit tidak menular seperti multiple sclerosis.


Komorbid asma

COVID-19 utamanya menyerang saluran pernapasan, demikian juga asma. Karenanya, adanya asma sebagai komorbid atau penyakit penyerta seringkali memicu dampak lebih buruk pada infeksi COVID-19.


The Center of Disease Control and Prevention (CDC) menyebut, infeksi COVID-19 pada pengidap asma bisa menyebabkan pneumonia hingga penyakit pernapasan akut. Perburukan yang terus menerus bisa memicu kondisi kritis.


Kerupuk Vs Keripik, Mana Sih yang Lebih Memicu Hipertensi?


Bagi sebagian warga +62, kriuk kerupuk bikin makan siang makin afdol. Dicampur nasi nikmat, dicampur kuah pun tak kalah sedap.

Seperti goreng-gorengan lainnya, kerupuk disebut-sebut membawa sederet bahaya bagi tubuh. Terlebih karena gurih, banyak yang mengaitkannya dengan kandungan garap dan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi. Namun rupanya, ada yang lebih mengkhawatirkan dibanding kerupuk.


"Dia (kerupuk) nggak manis, kandungan garamnya juga saya nggak tahu. Tapi sepanjang yang saya tahu, orang nggak bisa makan kerupuk 1 blek (kaleng kerupuk). Mungkin sebagai teman makan bolehlah, selama tidak banyak," terang dr Erwinanto, SpJP(K), FIHA, dokter jantung yang juga ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) dalam diskusi daring, Kamis (6/5/2021).


Jangan senang dulu. Ia menegaskan, tak berarti makanan kriuk aman dikonsumsi semena-mena. Apapun jika berlebihan, pasti tidak baik untuk kesehatan.


Nah, yang menurutnya lebih berbahaya dibanding kerupuk adalah keripik-keripikan baik yang berbahan kentang, ubi, dan lain-lain. Kalau itu, garamnya memang mengkhawatirkan.

https://trimay98.com/movies/side-effects/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar