Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut ada 129 juta serangan siber di Indonesia selama Januari-September 2019. Menurut pengamat, hal tersebut sebenarnya wajar saja.
Hal ini diutarakan Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber dari Vaksincom. Menurutnya jumlah serangan sebanyak itu secara umum terbilang wajar, utamanya karena memang pengguna internet di Indonesia yang sangat tinggi, bahkan masuk ke dalam lima besar pengguna internet terbanyak di dunia.
Kalau diasumsikan sebulan ada 10 sampai 12 juta serangan, dibandingkan dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 140-an juta (menurut Internet World Stats), atau bahkan 171 juta (data APJII tahun 2018), maka sebenarnya jumlah serangan itu terbilang wajar.
"Serangan malware itu satu komputer terinfeksi bisa menyebabkan ribuan sampai puluhan ribu serangan. Jadi kalau 10 juta serangan tidak berarti 10 juta perangkat terinfeksi," ujar Alfons ketika dihubungi detikINET.
"Kalau asumsinya 1 komputer terinfeksi melakukan 5.000 serangan. Maka 10 juta serangan kira-kira 2.000 perangkat terinfeksi," tambahnya.
Inilah yang membuat Alfons menyatakan bahwa jumlah serangan siber yang terjadi itu terbilang wajar. Namun ia tak memungkiri bahwa tingginya penggunaan aplikasi bajakan di Indonesia ini kondisinya memprihatinkan, menyebut pentingnya mengedukasi pengguna, baik pengguna ponsel maupun komputer.
"Kebiasaan berkomputer yang baik juga penting seperti membackup data penting dan menyimpan secara offline, mengamankan kredensial dengan baik seperti melindungi dengan TFA (two factor authentication-red). Dan menggunakan aplikasi anti Ransomware yang jika dienkripsi tinggal klik data akan kembali semua bisa membantu mengamankan dari ancaman," jelas Alfons.
Seperti diberitakan sebelumnya, BSSN menyebut ada 129 juta serangan siber di Indonesia selama Januari-September 2019. Serangan sibernya itu didominasi malware.
Menurut Direktur Pengendalian Informasi, Investigasi dan Forensik Digital BSSN Brigjen TNI Bondan Widiawan, hal itu terjadi karena kesadaran masyarakat akan serangan siber cukup rendah.
"Pemicunya bisa dari operating system (OS) bajakan, tidak update OS, khususnya bagi pengguna Microsoft," ujar Bondan saat ditemui di Pusdikhub TNI AD, Cimahi, Selasa (19/11/2019). https://bit.ly/2XFo7HS
Pertumbuhan Ransomware di Windows Meroket, Kian Sulit Dilawan
Pertumbuhan serangan ransomware semakin besar dan diperkirakan bakal makin sulit dilawan. Pasalnya pelakunya berubah dari beberapa pemain besar menjadi banyak pemain kecil.
Ini adalah analisis dari Bitdefender terkait ancaman keamanan terhadap sistem operasi Windows. Dalam analisis tersebut, menganalisa sejumlah serangan cyber terhadap Windows, termasuk ransomware, penambang bitcoin, malware tanpa file, eksploit, potentially unwanted application (PUA), dan trojan perbankan.
Menurut Bitdefender, dari semua serangan cyber yang ada, ransomware adalah jenis serangan yang pertumbuhannya sangat pesar secara year on year. Pertumbuhan malware penyandera ini mencapai 74,2%.
Sebenarnya jumlah laporan serangan ransomware sempat menurun pada pertengahan pertama 2019, yang disebabkan oleh grup hacker di balik ransomware GandCrab mengurangi intensitas serangannya.
Namun sejak itu laporan serangan ransomware melesat kembali, setelah ada ransomware baru yang banyak digunakan dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh GandCrab, demikian dikutip detikINET dari Zdnet, Selasa (19/11/2019).
Ransomware semacam Sodinokibi alias REvil atau Sodin memang tak bisa menggantikan GandCrab, namun pertumbuhannya terbilang pesat. GandCrab sendiri sebelumnya mendominasi marketshare ransomware dengan angka lebih dari 50%.
Kekosongan yang ditinggalkan oleh GandCrab itu sangat cepat terisi oleh ransomware lain, yang membuat serangan ransomware semakin terfragmentasi, atau terpecah. Hal tersebut membuat ransomware semakin kuat karena sulit untuk dilawan oleh para penegak hukum ataupun industri keamanan siber.
Meningkatnya serangan siber ke platform Windows ini diasumsikan membuat para pembuat malware tak sempat mengembangkan malwarenya untuk platform lain, dalam hal ini Mac.
"Dengan Windows yang menjadi medan pertempuran utama, hanya sedikit pembuat malware yang menginvestasikan waktu dan sumber dayanya untuk mengembangkan ancaman terhadap Mac, dan hanya berfokus pada ancaman canggih yang didesain untuk eksekutif C-level dan para pembuat keputusan," tulis Bitdefender dalam laporannya.
Namun ini bukan berarti Mac tak tak mendapat ancaman serangan cyber. Platform bikinan Apple itu mungkin memang jarang terserang ransomware, namun mereka menjadi target empuk bagi serangan cryptojacking, serangan dengan memanfaatkan celah yang ada, dan serangan PUA yang mungkin bisa berdampak pada privasi ataupun keamanan pengguna. https://bit.ly/334Lhsd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar