Belum lama misi Chandrayaan 2 hilang kontak saat akan mendarat di Bulan, tapi India sudah memulai merajut mimpi lagi di bidang antariksa lewat Chandrayaan 3. Misi tersebut dilaporkan memiliki tenggat waktu sampai November 2020.
Itu artinya, Indian Space Research Organization (ISRO) akan berupaya keras meluncurkan Chandrayaan 3 dalam setahun ke depan. Begitu yang diwartakan oleh Times of India, seperti yang dikutip oleh detikINET, Kamis (14/11/2019).
Untuk memuluskan rencana besar tersebut, ISRO telah membentuk sejumlah komite dan mengadakan empat pertemuan tingkat tinggi sejak Oktober kemarin. Langkah ini juga untuk mengatasi kegagalan seperti yang terjadi pada Chandrayaan 2 pada September lalu.
Mereka juga menerima berbagai saran dari para ahli guna meningkatkan peluang keberhasilan pendaratannya nanti. Salah satu ilmuwan membocorkan bahwa mereka memprioritaskan untuk memperkuat kaki lander agar bisa bertahan saat mendarat di Bulan.
Dalam misi Chandrayaan 3, ISRO memutuskan untuk mencoba melakukan pendaratan robotik di Bulan, namun tidak disertakan wahana yang mengorbitnya. Adapun wahana Chandrayaan 2 masih berada jalur orbit di Bulan meskipun rovernya gagal mendarat.
Sejauh ini ISRO telah melihat 10 aspek dari misi ini, termasuk pemilihan lokasi pendaratan, navigasi absolut dan navigasi lokal. "Sangat penting untuk melakukan anslisis terperinci tentang perubahan untuk meningkatkan sistem pendaratan rekomendasi dari komite ahli," kata sumber. https://bit.ly/336B7r0
Gagal Mendarat di Bulan, India Mau ke Venus
Gagal mendarat di Bulan tidak membuat India berhenti melakukan eksplorasi luar angkasa. Negeri Bollywood ini malah lebih berani dan menyasar destinasi baru, ke Venus.
Para ilmuwan dan engineer Indian Space Research Organisation (ISRO) telah mengajukan rencana untuk pengorbit Venus ke pemerintah India dan berharap mereka akan mendapatkan persetujuan untuk melanjutkan misi. Pesawat ruang angkasa mereka bisa diluncurkan hanya dalam beberapa tahun dan akan membawa lebih dari selusin instrumen.
"Tujuan utama adalah untuk memetakan permukaan Venus," kata salah satu ilmuwan ISRO, Nigar Shaji, seperti dikutip dari Space.com, Minggu (10/11/2019).
Menurut Shaji, pengorbit Venus saat ini sedang dirancang ISRO untuk bisa membuat dataset Venus dalam waktu sekitar satu tahun. Selain memetakan permukaan Venus, misi ini juga akan melihat lebih dalam ke planet itu untuk membantu para ilmuwan mengidentifikasi hotspot vulkanik yang tersebar di seluruh Venus.
"Instrumen di atas pesawat ruang angkasa juga akan mempelajari atmosfer planet dan ionosfer, serta bagaimana Venus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya," tambah Shaji.
ISRO telah mengidentifikasi 16 instrumen yang diajukan para ilmuwan India untuk diterbangkan. Instrumen ini antara lain termasuk yang berfokus pada pemantauan awan, mengidentifikasi sambaran petir, mempelajari aliran udara dan mengukur partikel plasma bermuatan tinggi yang melewati Venus dalam perjalanan keluar dari Matahari.
Beberapa instrumen lainnya berasal dari kemitraan internasional. Sebanyak tiga instrumen di antaranya, merupakan usulan dari para ilmuwan AS. Namun menurut Shaji, ISRO memahami bahwa pendanaan untuk instrumen tersebut tidak layak, sehingga tiga instrumen tersebut tidak akan ikut diterbangkan.
Jika pengajuan misi disetujui, pesawat ruang angkasa menuju ke Venus akan meluncur Juni 2023, tepatnya menggunakan salah satu kendaraan peluncuran satelit ISRO Geosynchronous. Ini adalah jenis kendaraan yang sama dengan digunakan dalam misi peluncuran Chandrayaan-2 India ke Bulan. https://bit.ly/3497S8q
Tidak ada komentar:
Posting Komentar