Minggu, 22 Desember 2019

Negeri di Atas Awan Gunung Luhur, Bagaimana Bisa Sampai Viral?

 Negeri di Atas Awan Gunung Luhur jadi perbincangan. Sebenarnya, bagaimana sih ceritanya bisa sampai viral begitu?

Sejak akhir pekan kemarin pada Sabtu (21/9) Gunung Luhur di Desa Citorek Kidul, Lebak, Banten mendadak viral. Antrean kendaraan wisatawan mengular sampai berkilo-kilometer di sana, demi melihat fenomena Negeri di Atas Awan.

detikcom mendatangi Gunung Luhur pada Rabu (25/9/2019) dinihari. Setelah menyaksikan fenomena Negeri di Atas Awan yang terlihat mulai pukul 05.00-07.00 WIB, kami mendatangi Narta yang biasa disapa Jaro Atok sebagai Kepala Desa Citorek Kidul.

Bagaimana Gunung Luhur ini bisa sampai viral?

"Fenomena ini bukan hal baru bagi warga Desa Citorek Kidul, sudah ada dari dulu. Namun karena kini zaman sudah canggih, ada media sosial dan sebaginya makanya jadi viral dan terkenal," jawab Jaro Atok.

Jaro Atok menjelaskan, mulanya terdapat pembangunan jalan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh perusahaan Semindo. Pembangunan jalannya dari Cikumpay Bayah sampai tembus Cigude.

"Saat itu 8 bulan lalu, banyak anak-anak SMA yang datang untuk melihat pengerjaan pembangunan jalannya. Mereka sekalian belajar soal alat-alat berat," tuturnya.

"Selain itu, dengan adanya jalanan ini maka ada semacam tanah lapang maka memudahkan melihat lautan awan di atas Kampung Ciusul," tambah Jaro Atok.

Namanya anak-anak SMA, pasti suka memotret pakai ponsel dan mempostingnya di media sosial. Barulah, pelan-pelan nama Gunung Luhur mulai terdengar.

"Kita pun lalu pelan-pelan merapikan sekitar wilayah pembangunan jalan. Anak-anak muda dari karang taruna membangun kayu-kayu untuk pijakan dan pembatas. Mereka juga mengusulkan ada warung sampai pembangunan saung atau juga disebut home stay tapi dari kayu, supaya ada kearifan lokal dan menjaga lingkungan," papar Jaro Atok.

"Pihak Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) ikut memoles. Kemudian kita atur juga soal kebersihan, fasilitas seperti toilet dan sebagainya," katanya.

Puncak viralnya Gunung Luhur adalah pada pekan lalu, Sabtu (21/9). Kemacetan panjang mengular sampai 9 kilometer di sana, kendaraan mobil dan motor wisatawan terjebak tak bergerak!

"Akhir pekan kemarin, kami benar-benar tidak menyangka sampai seperti itu ramainya. Sangat ramai, semua warga desa ikut membantu mengurai kemacetan," tutur Jaro Atok.

Dia pun berharap, Gunung Luhur dapat menjadi sumber perekonomian warga Desa Citorek Kidul. Sekaligus, jadi destinasi wisata andalan Provinsi Banten di kemudian hari.

"Alhamdulillah Pemkab dan Pemprov juga makin peduli. Sekarang masih terus kita benahi pariwisata di Gunung Luhur," tutupnya.

Ngopi ala Warga Lokal di Simeulue

Budaya berkumpul di warung kopi tak cuma ada di Bangka Belitung. Warga di Simeulue pun punya tradisi serupa.

Hal itu pun diketahui Tim detikcom dan Bank BRI saat berkunjung ke Pulau Simeulue di Provinsi Aceh pada 28 Agustus hingga 5 September 2019 lalu.

Kebetulan, penginapan detikcom tak jauh dari warung kopi yang berlokasi persis di samping kantor Bupati Simeulue. Memiliki nama Kopi Pratama, warung yang satu ini sudah ramai oleh pengunjung dari pagi.

Ditemui oleh detikcom, tampak sang peracik kopi bernama Ali yang tengah mempertunjukkan kebolehannya mengolah kopi. Layaknya di kedai kopi peranakan, Ali lihai mengangkat air seduhan kopi dengan kain dan menuangkan airnya satu per satu ke gelas yang telah berjajar.

Hasilnya, satu gelas kopi hitam tanpa bubuk pun segera tersaji. Hanya bagi kamu yang suka kopi pahit, penyajian kopi di Simeulue selalu disajikan manis dengan gula. Pastikan kamu memesannya tanpa gula.

Hanya buat kamu yang tak terlalu suka kopi, bisa memesan kopi susu. Olahan susu yang dicampur dengan susu kental manis. Untuk kudapan, bisa memilih anekaa kue basah yang dijajar di etalase khusus samping 'dapur' warung kopi.

Segelas kopi hitam cukup Rp 5 ribu saja (Rifkianto/detikcom)Segelas kopi hitam cukup Rp 5 ribu saja (Rifkianto/detikcom)

Saat detikcom bertandang ke sana, tampak aneka pengunjung dari sejumlah kalangan. Mulai dari masyarakat biasa, PNS sampai aparat militer. Semua saling membaur dengan rekan masing-masing sambil bertukar cerita lewat segelas kopi.

Tak heran, kalau keberadaan warung kopi di Simeulue tak ubahnya dengan saluran gosip di televisi. Semua cerita muncul dan menyebar di sana dengan lebih hangat dan menyenangkan.

Secangkir kopi biasa pun dihargai sekitar Rp 5 ribu saja. Murah meriah dan tentunya asyik buat berlama-lama.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar