Minggu, 22 Desember 2019

Yang Hijau dan Segar di Garut Selatan: Kampung Saparantu

Di Garut Selatan, ada satu desa yang masih sangat asri dan hijau. Kampung Saparantu namanya. Suasananya bikin betah, cocok untuk menyepi dari Jakarta.

Menikmati suasana alam yang segar diiringi dengan semilir angin di antara perpisahan siang dan pertemuan senja, merupakan momen spesial yang traveler dapatkan selama berlibur dan menikmati wisata alam di Kampung Saparantu, Garut.

Ya, benar banget. Kampung Saparantu terletak di Garut Selatan, tepatnya di Desa Pangrumasan, Kecamatan Pendeuy ini bagaikan surga yang tersembunyi di antara sendi-sendi alam yang masih kokoh.

Inilah Garut, yang menyimpan jutaan keindahan yang belum diketahui dan menampakan wujud keindahannya. Bagaimana traveler, mau meninggalkan desa tercinta ini berlama-lama kalau surga wisata ada di sini?

Itulah alasan traveler untuk tetap lekat dengan Desa Saparantu. Saya menemukan destinasi desa wisata ini dua bulan yang lalu, pada saat letih menyapa dan lelah yang berkepanjangan.

Entah apa yang saya rasakan, hingga berjalan melampaui batas daerah Garut kota, dan tertuju ke satu tempat dimana tempat itu bernama Kampung Saparantu, kampung yang penuh cerita, sejarah baru, dan titik yang indah.

Kampung ini bagaikan berlian yang menyelinap di antara daun yang tertimbun tanah. Susah diungkapkan pokoknya. Namun lewat sebuah tulisan ini, saya berusaha untuk mengartikan dan mengenalkan sedikit demi sedikit indahnya kampung ini.

Ya, sebuah kampung yang ada di ujung Garut ini menyimpan potensi yang sangat melimpah. Mulai dari pertanian yang mendominasi mata pencaharian masyarakat di kampung ini, peternakan yang menunjang perekonomian masyarakatnya, serta pegunungan yang memberikan sumber kehidupan lewat sumber airnya yang jernih.

Dalam satu bulan sudah kelima kalinya saya berkunjung ke Desa ini. Rasa cinta dan sayang akan Kampung Saparantu sudah menjadi bagian dari ruang hati saya, dimana selain menemukan sebuah tempat yang indah, sejuk, asri, segar, dan tentunya menyenangkan.

Selain itu mendapatkan keluarga baru dan rumah kedua saya, plus sahabat yang lekat dengan hobi menjelajah dan bersahabat dengan alam. Kampung Saparantu sangat amazing untuk dieksplorasi.

Perjalanan yang sangat berkesan, tak hanya menikmati liburan yang seru, melinakan bisa menemukan segalanya, ruang baru dan sejarah baru bagi traveler. Setiap jeda dan pertemuan dan pengalaman baru, semua itu terangkum melalui silaturahmi.

The Power of Silaturahmi memang mantra yang jitu untuk membuka dunia baru. Bagaimana kesan-kesan pada saat berkunjung ke Kampung Saparantu? Luar biasa.

Traveler bisa menikmati sajian makanan dan kuliner khas desa, main bersama anak kecil, dan diskusi senja mengulas tentang bagaimana pencapaian hidup dan menjadi generasi yang bisa menikmati hidup yang sesungguhnya tanpa rekayasa.

Kuliner Rekomendasi Khas Simeulue: Mie Lobster

Pulau Simeulue dikenal akan lobster yang jadi hasil laut unggulannya. Namun, lobster pun kian sedap ketika diracik untuk olahan mie. Yummy!

Di sejumlah kota besar, umumnya kuliner berbahan baku lobster hanya dapat dijumpai di hotel mau pun restoran ternama dengan harga fantastis. Hanya di Simeulue, makanan berbahan lobster dapat dijumpai di rumah makan kaki lima pinggir jalan.

Tim detikcom dan Bank BRI melakukan kunjungan ke Pulau Simeulue yang masuk Provinsi Aceh pada 28 Agustus hingga 5 September 2019 lalu. Pada kunjungan itu, detikcom pun sempat menjajal kuliner mie lobster yang jadi andalan Simeulue.

Berbekal informasi dari warga setempat, detikcom pun bertandang ke rumah makan Mie Sinan di pusat Kota Sinabang. Menurut beberapa orang, rumah makan yang satu ini kerap menjadi tempat jamuan tamu Pemkab hingga wisatawan.

Dari segi ukuran, rumah makan yang satu ini memang terbilang standar. Presentasinya pun biasa, seperti layaknya rumah makan Aceh yang mulai menjamur di Jakarta. Hanya untuk soal rasa, wanginya sudah menyeruak sejak sebelum kami masuk ke dalam rumah makan.

Setelah duduk di tempat yang disediakan, pandangan pun beralih pada pilihan menu yang menempel di tembok. Tertulis aneka menu mie dengan berbagai bahan, contohnya seperti udang, cumi-cumi, kepiting hingga lobster. Tentunya kami memilih yang opsi terakhir.

Tak sampai situ, kami pun diperbolehkan memilih mie yang ingin diolah. Ada mie kuning khas Aceh, hingga mie instan rasa kari ayam. Masing-masing punya citarasa berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar