- Gejala COVID-19 yang dikeluhkan pasien semakin beragam. Beberapa di antaranya bahkan sulit dikenali sebagai gejala COVID-19, salah satunya sakit kepala.
Sebagai gambaran, penelitian menemukan sakit kepala terjadi pada sekitar 11 hingga 34 persen orang-orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19. Perkiraan ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Dikutip dari Healthline, laporan WHO mengamati lebih dari 55 ribu kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, 13,6 persen di antaranya mengeluhkan gejala COVID-19 sakit kepala.
Sementara laporan CDC terkait orang yang dirawat di RS dengan COVID-19 menemukan bahwa sakit kepala dilaporkan di antara 9,6 hingga 21,3 persen, tergantung pada usia individu. Sakit kepala ditemukan sebagai gejala yang lebih umum pada orang di bawah usia 65 tahun.
Bagaimana cara membedakan sakit kepala karena COVID-19?
- Sakit kepala cukup intens terjadi pada pasien, sedang hingga parah
- Sensasi berdenyut atau menekan
- Terjadi di kedua sisi kepala (bilateral)
- Sakit menjadi lebih buruk saat membungkuk
Seperti penyakit virus lainnya, sakit kepala karena COVID-19 bisa diikuti dengan demam. Demam jarang terjadi pada migrain, serta jenis sakit kepala lainnya.
Meskipun sakit kepala adalah gejala potensial COVID-19, ada gejala lain yang lebih umum seperti berikut.
- Demam
- Kelelahan
- Batuk
- Sesak napas
Gejala tambahan yang mungkin terjadi pada frekuensi yang sama, atau lebih jarang dari sakit kepala adalah sebagai berikut.
- Sakit tenggorokan
- Sakit dan nyeri tubuh
- Pilek atau hidung tersumbat
- Gejala pencernaan, seperti mual, muntah, atau diare
- Gangguan pada indra penciuman dan perasa
https://nonton08.com/the-darkness/
Viral Kisah Nakes Disebut Idap DBD, Ternyata Positif Terinfeksi COVID-19
Viral kisah tenaga kesehatan yang disebut mengidap DBD ternyata positif COVID-19. Cerita ini dikisahkan akun TikTok milik Nofha atau @Nurfhazila dalam sebuah video pada Jumat (/18/09/2020). Ia merupakan seorang tenaga kesehatan (nakes) dari salah satu rumah sakit di Bengkulu.
"Jauh sebelum virus ini ditemukan, aku adalah salah satu orang yang selalu pakai masker. Hingga akhirnya virus ini ditemukan, aku semakin yakin pakai masker, bahkan tiap kerja, aku pakai APD yang lengkap dan kenyataannya, aku masih terpapar dengan virus ini," ujar @Nurfhazila pada akun TikToknya.
Sejumlah dukungan pun diberikan oleh para netizen di kolom komentar TikTok milik Nofha.
"Semangat mbk.. semoga kuat dan cepet sembuh ya.. amin," ujar @safeea.
"Allah Swt mbk utk kita lebih mendekatkan diri pada sang pencipta segala yang ada di dunia ini," ujar @SOLMET.
Nofha menceritakan pengalamannya bahwa sebelum diswab, ia mengalami demam tinggi selama seminggu dan hilangnya indra penciuman. Namun, saat diperiksa melalui laboratorium, ia malah dicurigai terkena sakit DBD karena trombositnya turun.
"Indra penciumanku hilang, sampai-sampai buang air besar aja ga kecium baunya. Aku uda feeling sih, kayaknya COVID deh, tapi pas dicek, hasilnya malah DBD. Iya aku mikir antara demam COVID-19 sama DBD emang ga jauh beda gejalanya," ujar Nofha, saat dihubungi detikcom, Jumat (02/10/2020).
Selain itu, Nofha juga menceritakan bahwa ia berkonsultasi dengan dokter pribadi khusus nakes. Akhirnya, ia disarankan untuk melakukan rapid. Namun, hasil rapidnya menunjukkan non reaktif.
"Jadi syarat dikasih fasilitas swab itu kalau hasil rapidnya reaktif. Masalahnya, hasil rontgen-ku juga belom kelihatan. Akhirnya, di rumah sakit, aku dirawat di ruangan biasa," ujar Nofha.
Saat beristirahat di ruangan biasa selama tiga hari, tiba-tiba Nofha mendapatkan informasi bahwa beberapa teman-teman nakesnya mengeluh hilangnya indra penciuman. Karena itu, pada 10 September, rumah sakit melakukan swab kepada seluruh nakes, tak terkecuali dengan Nofha. Pada 13 September, ada tujuh orang nakes di rumah sakit itu yang positif COVID-19.
"Tapi namaku nggak tercantum di daftar positif COVID-19, atasanku bilang, artinya aku negatif. Aku masih tanda tanya, kok aku jelas-jelas bergejala gini, dibilangnya negatif? sedangkan beberapa temenku yang gak bergejala, dinyatakan positif," ujar Nofha.
Dengan firasat yang kuat bahwa dirinya pasti positif COVID-19, ia berinisiatif untuk langsung menghubungi orang laboratorium. Rupanya, hasil swab milik Nofha belum keluar. Oleh sebab itu, sambil menunggu hasil keluar, Nofha berupaya untuk tidak melakukan kontak fisik kepada siapapun, termasuk melakukan jaga jarak kepada orang-orang yang ada di rumahnya.
Pada 15 September, hasil swab milik Nofha keluar. Benar saja, ia dinyatakan positif COVID-19. Ia segera dijemput ambulans pada pukul satu pagi untuk dikarantina di rumah sakit, tempat dirinya bekerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar