Jumat, 22 November 2019

Harga Minyak di Balik Seretnya Penerimaan Pajak

Pertumbuhan penerimaan pajak negara pada bulan Oktober 2019 melambat. Kondisi ini disebabkan karena kontribusi pajak dari sektor migas terbebani harga minyak yang turun.

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo di konferensi pers APBN KITA, di Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (18/11/2019).

"Secara agregat penerimaan perpajakan khususnya pajak dalam hal ini PPh migas dan non migas, tekanan pada harga minyak sangat berefek dari pengumpulan PPH. Sampai Oktober 2019 bahwa pertumbuhan PPh migas -9,3% jadi kalau dibandingkan tahun sebelumnya 17% jadi mengalami tekanan karena turunnya harga minyak," ujar Suryo. https://bit.ly/2OsgfoE

Suryo merinci, pajak penghasilan dan pajak non migas tumbuh 3,3% namun mengalami kontraksi. Selain itu, PPN impor dan ekspor juga tumbuh, namun secara volume mengalami konstraksi -4,2%.

"Pertumbuhan lain di PPh final di 6,4% masih positiif," ujarnya.

Perhatikan! Ini Cara Bedakan Meterai Palsu dan Asli

Meterai palsu atau meterai bekas pakai masih beredar di toko online. Untuk menghindari pembelian meterai palsu, masyarakat perlu mengetahui perbedaannya dengan yang asli.

Kepala Unit Pemeriksaan Keaslian Produk Perum Peruri Fuguh Prasetyo mengatakan ada banyak perbedaan antara meterai palsu dan yang asli. Yang pertama, meterai asli memiliki lambang Garuda serta cetakan bunga yang memakai tinta alih warna atau berubah warna.

Meterai asli juga memiliki 17 digit nomor seri yang tercetak dengan jelas. Nomor seri ini memiliki angka yang berbeda-beda di setiap meterai.

"Untuk mengetahui keaslian pakai 3D, dilihat diraba, dan digoyang. Identifikasi pertama dilihat dari cetakan," kata Fuguh di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Selanjutnya, meterai asli memiliki desain security. Di mana terdapat logo Kementerian Keuangan, teks DJP, angka nominal, hingga teks berukuran mikro bertuliskan Ditjen Pajak.

"Jadi kalau diraba ini sama seperti uang, cetakan akan terasa kasar. Fitur ini sama seperti yang diterapkan di uang. Yang digoyang ini bunga yang memiliki tinta alih warna," katanya.

"Dari segi hologram, kalau uang ada benang pengaman, kalau meterai itu hologram. Itu silver dan color image, kalau dari sudut pandang tertentu akan berubah warnanya," sambungnya.

Sementara meterai palsu biasanya memiliki gambar yang kurang jelas dengan warna yang kurang solid. Selain itu, 17 angka nomor seri di meterai palsu biasanya sama dengan meterai-meterai palsu yang lain.

"Ketika menemukan gambar tidak jelas, itu bisa dipastikan meterai palsu. Kalau palsu akan hilang efek perabaannya saat diraba dengan ujung kuku atau ujung jari. Tinta alih warna palsu dicetak dengan metalik atau glossy," jelasnya. https://bit.ly/2QHnxYs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar