Sabtu, 23 November 2019

Miris, Bayi Pengidap Kondisi Langka Dibuang di Pinggir Jalan Italia

 Malang nasib seorang bayi berusia 4 bulan di Italia, ia ditemukan di pinggir jalan dengan kondisi mengalami penyakit kulit. Ia diduga dibuang oleh orang tuanya, demikian dilaporkan Fox News.

Bayi tersebut ditemukan oleh para perawat di sebuah rumah sakit di kota Turin dan kini sedang dalam perawatan mereka. Hal ini disebabkan oleh penyakit kulit langka yang diidapnya, bernama harlequin ichthyosis, kelainan genetik kulit langka yang membuat kulit bayi terlahir tebal, berkerak, dan terpisah.

Cacat kulit ini bisa merusak tampilan wajah dan membatasi kemampuan bayi untuk bernapas dan makan, serta membutuhkan perawatan intensif, menurut National Organization for Rare Disorders (NORD). Kelainan ini biasanya langsung muncul saat lahir, terlihat dari kencangnya kulit di area mata dan mulut sehingga membuat kelopak mata dan bibir terbuka keluar.

Selain itu, kelainan ini juga bisa membuat tangan dan kaki menjadi bengkak dan sebagian tertekuk, telinga nyaris menyatu dengan kepala. Bayi yang lahir dengan kondisi ini sangat berisiko mengalami suhu tubuh menurun, dehidrasi, dan naiknya kadar sodium dalam darah.

Untuk makan, bayi dengan kondisi ini membutuhkan bantuan tabung makan dan pelumas di bagian mata untuk mengurangi kekencangan di bagian kelopak mata. Beruntung bagi bayi yang dipanggil Giovanninio ini, para perawat menemukan dan merawatnya dengan cepat dan tepat, dan sangat menyukai musik.

"Dia anak yang manis yang suka tersenyum dan suka diajak jalan-jalan di bangsal rumah sakit. Dia sangat gembira jika mendengar suara musik," tutur Daniele Farina, kepala NICU rumah sakit tempat Giovanninio dirawat sementara.

Pihak rumah sakit dilaporkan telah menawarkan untuk mengadopsi bayi ini dan pihak berwajib membantu untuk mencarikan rumah dan orang tua baru bagi Giovanninio. https://bit.ly/33e2EqC

Pria Ini Merasa Mati Otak, Rupanya Kena Sindrom Kejiwaan Langka

Graham (48) terdiagnosis sindrom langka bernama Cotard's, yang membuatnya berpikir ia sedang mengalami mati otak. Kasusnya disampaikan pada jurnal CORTEX, yang disebut kondisinya timbul usai depresi parah yang membuatnya mencoba bunuh diri dengan menyetrum dirinya sendiri.

Ia mengakui bisa berpikir, mengingat, dan berinteraksi dengan orang lain. Namun ia merasa bahwa otaknya tak lagi hidup meski bagian tubuh lainnya tetap hidup.

Dikutip dari Fox News, sindrom Cotard's merupakan kondisi kejiwaan langka yang membuat pengidapnya menolak eksistensi tubuhnya atau bagian tubuhnya sendiri, menurut sebuah laporan kasus berbeda dalam Journal of Neurosciences in Rural Practice.

Dari banyak kasus sindrom ini yang terjadi, banyak pasien yang mengalami malnutrisi dan kelaparan. Reaksi ini biasanya terjadi karena banyak pasien yang berpikiran tak ada untungnya makan, tidur, atau melakukan aktivitas harian jika mereka tak lagi hidup, dan pada kasus Graham, ia merasa tenang jika berada di dekat pemakaman.

"(Hal itu) adalah hal terdekat yang kubisa dengan kematian," katanya dan ia bisa berada di pemakaman cukup lama hingga polisi harus datang menjemputnya kembali ke rumah.

Ketika ia akhirnya mendapat bantuan medis, sebuah PET scan yang ia jalani menunjukkannya adanya aktivitas metabolik yang lebih rendah 20 persen daripada otak orang normal. Salah satu dokternya belum pernah melihat orang yang mampu berjalan dan berbicara dengan kondisi otak serendah itu, karena dampaknya setidaknya seperti orang tidur atau terbius.

Gambar pindaian tersebut bisa menjelaskan mengapa orang dengan sindrom Cotard's merasa mereka tak lagi hidup. Otak secara tidak langsung dalam mode tidur sementara badan melakukan aktivitas dan bergerak. Graham terdiagnosis juga dengan depresi mayor dan beberapa kecemasan.

Penulis studi CORTEX menyimpulkan bahwa sebuah gangguan besar pada pikiran manusia berakar dari kerusakan besar di dalam otak, sehingga berdampak pada 'inti kesadaran' dirinya dan kejadian di sekitarnya. Menurut situs New Scientist, kini Graham bisa kembali hidup normal dengan bantuan penangangan dan pengobatan kejiwaan. https://bit.ly/2XE670p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar