Pandemi COVID-19 belum berakhir. Bahkan beberapa gejala baru mulai bermunculan. Hingga saat ini, angka tertinggi pasien terkena COVID-19 berada pada usia dewasa hingga lansia. Namun apakah anak-anak bisa terserang COVID-19? Seperti apa gejala COVID-19 pada anak-anak?
Berdasarkan grafik yang diambil dari laman covid19.go.id, hingga 28 November 2020 jumlah pasien terkonfirmasi ada 527.999 orang, 2,6%-nya adalah anak-anak usia 0-5 tahun (sekitar 13.727 anak), dan 8,8% anak-anak usia 6-18 tahun (sekitar 46.463 anak). Angka-angka pada grafik ini akan memberikan gambaran jelas bahwa anak-anak tak kebal terhadap COVID-19.
Dari laman yang sama pula, berikut gejala-gejala yang dialami mereka yang positif terjangkit COVID-19.
Gejala Pasien COVID-19 Usia Anak
Berdasarkan pedoman tata laksana COVID-19 edisi ke-2, Agustus 2020 yang disusun oleh 5 perhimpunan dokter spesialis (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia/PDPI, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia/PERKI, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia/PAPDI, Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia/PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia/IDAI, berat ringannya gejala COVID-19 pada anak-anak terbagi menjadi lima.
1. Pasien Tanpa Gejala
Ini adalah kondisi yang paling ringan. Walaupun hasil PCR positif (Uji SARS-Cov-2 positif) tetapi pada pasien ini tidak ditemukan gejala.
2. Pasien dengan Gejala Ringan
Gejala infeksi saluran napas atas seperti demam, fatigue, mialgia, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, dan bersin. Beberapa kasus mungkin tidak disertai demam, dan lainnya mengalami gejala saluran pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, diare, atau gejala non-respiratori lainnya.
3. Pasien dengan Gejala Sedang/Moderat
Pasien dengan tanda klinis pneumonia tidak berat (batuk atau sulit bernapas ditambah napas dan/atau tarikan dinding dada cepat) dan tidak ada tanda pneumonia berat.
Kriteria napas cepat: usia < 2 bulan: 60 x/menit, usia 2-11 bulan: ≥ 50 x/menit, usia 1-5 tahun: ≥ 40 x/menit, dan usia > 5 tahun: ≥ 30x/menit.
https://nonton08.com/movies/the-lawyer/
4. Pasien dengan Gejala Berat/Pneumonia Berat
Pasien dengan tanda klinis pneumonia (batuk atau kesulitan bernapas), ditambah setidaknya satu dari gejala berikut ini.
-Sianosis sentral atau SpO2 < 93%.
-Distres pernapasan berat (napas cepat, grunting, tarikan dinding dada sangat berat).
-Tanda bahaya umum: ketidakmampuan menyusui atau minum, letargi, atau penurunan kesadaran atau kejang.
-Napas/tarikan dinding dada/takipnea cepat. Dengan kriteria cepat: usia < 2 bulan: 60 x/menit, usia 2-11 bulan: ≥ 50 x/menit, usia 1-5 tahun: ≥ 40 x/menit, dan usia > 5 tahun: ≥ 30x/menit.
5. Pasien Kritis
Pasien dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis, dan syok sepsis.
Walaupun jumlah angka penderita COVID-19 pada anak-anak lebih kecil dibandingkan penderita dewasa, hendaknya menjadi perhatian bagi para orang tua agar selalu waspada dan mengajarkan pada anak-anak agar selalu menjalani protokol kesehatan di tengah pandemi. Apalagi di musim hujan saat berbagai macam penyakit datang bermunculan. Salah satu penyakit yang sering kali datang di musim hujan adalah infeksi saluran pernapasan.
Kenali Saluran Pernapasan Atas dan Gangguannya
Saluran pernapasan manusia terbagi dua, yaitu saluran pernapasan atas yang dimulai dari hidung sampai trakea (tenggorokan), dan saluran pernapasan bawah yaitu dimulai dari bronkus, bronkiolus, hingga alveoli. Baik infeksi saluran pernapasan atas maupun saluran pernapasan bawah gejalanya adalah batuk. Hanya saja batuk yang terjadi pada saluran pernapasan bawah lebih berat dan terkadang disertai dahak dan lendir. Gejala lain dari infeksi saluran pernapasan bawah adalah sesak, meningkatnya frekuensi pernapasan, atau adanya bunyi mengi saat bernafas. Infeksi saluran pernapasan bawah bisa berupa bronchitis, bronchiolitis, dan pneumonia.
Batuk merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang tidak boleh ada dalam saluran pernapasan. Benda asing yang dimaksud bisa berupa virus, bakteri, debu atau makanan maupun minuman yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Berdasarkan sebuah studi, infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus paling banyak terjadi di musim hujan. Sebab di musim hujan virus paling banyak berkembang biak, tidak terkecuali virus COVID-19.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar