Cathay Pacific Ltd diproyeksi menelan kerugian sebesar US$ 2,36 miliar atau sekitar Rp 33,43 triliun (kurs Rp 14.100) selama 2020. Proyeksi itu dirilis Refinitiv berdasarkan survei atas 13 analis terhadap laporan keuangan Cathay Pacific di akhir tahun 2020 mendatang.
Dilansir dari Reuters, Rabu (16/12/2020), maskapai asal Hong Kong itu telah mencatatkan kerugian sebesar US$ 1,2 miliar atau setara Rp 18,4 triliun pada semester I-2020.
Jika proyeksi kerugian akhir tahun terjadi, maka Cathay Pacific akan kembali mencetak rekor dari kerugian paling tinggi sejak tahun 2008 sebesar US$ 1,1 miliar karena krisis keuangan global.
Perusahaan sendiri memperkirakan kerugian di semester II-2020 akan jauh lebih tinggi dari semester I-2020. Pasalnya, perusahaan tak hanya menderita dari permintaan yang rendah, tapi juga masih harus menanggung biaya restrukturisasi, dan kerugian dari berkurangnya armada pesawat.
"Kami masih belum melihat adanya peningkatan yang signifikan dari jumlah penumpang kami," kata Chief Customer and Commercial Officer Cathay Pacific Ronald Lam dalam sebuah pernyataan resminya.
Meski sudah memasuki akhir 2020, Cathay Pacific masih mencatat penurunan jumlah penumpang hingga 98,6% di bulan November. Kemudian, penurunan pada layanan kargo mencapai 26,2%.
"Mengingat pemulihan yang masih berjalan lambat, kami memperkirakan hanya akan mengoperasikan sekitar 9% dari kapasitas sebelum COVID-19 untuk penerbangan bulan Desember, dan sedikit di atas 10% untuk Januari 2021," kata Lam.
Pada Oktober lalu, perusahaan mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) 5.900 pegawai demi menutup kerugian akibat pandemi. Dari angka itu, hampir semua pegawai di anak usaha Cathay Dragon yang hanya melayani penerbangan domestik pun kena PHK.
Perusahaan berupaya memulihkan keadaan dengan melakukan restrukturisasi yang menelan biaya sekitar US$ 238 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Dana itu diperoleh dengan memotong secara permanen gaji dari pilot dan pramugari kontrak yang tersisa.
Pemerintah Hong Kong sendiri sudah berupaya menyelamatkan Cathay Pacific dari kerugian yang lebih dalam dengan memberikan bantuan dana sebesar US$ 644 juta atau sekitar Rp 9,12 triliun.
https://maymovie98.com/movies/following/
Sri Mulyani Beberkan Kelebihan Perempuan Jadi Pemimpin
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara soal kesetaraan gender, dan juga peran perempuan dalam membuat kebijakan yang berpengaruh pada negara, bahkan dunia. Menurut Sri Mulyani pemimpin perempuan juga lebih sensitif dalam menciptakan kebijakan untuk masyarakat.
"Kalau bicara pemimpin perempuan, mungkin mereka lebih sensitif dan secara natural memahami bagaimana sebuah rumah tangga bisa tertekan, dan ketika membuat kebijakan. Saya pikir pemimpin perempuan cenderung lebih sensitif. Cara mereka berpikir dan merancang kebijakan itu dengan menggunakan empati dan pemahaman rinci, kritis, dan memperhatikan kesetaraan untuk semua kalangan," kata Sri Mulyani dalam seminar internasional yang digelar oleh International Budget Partnership (IBP) yang disiarkan virtual, Rabu (16/12/2020).
Khususnya di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), ia menilai perempuan juga menanggung beban besar, tak hanya pria.
"Saya memiliki 84.000 pegawai di Kementerian Keuangan. Sebagian besar dari mereka sudah berkeluarga dan pegawai perempuan sebagai ibu punya beban yang lebih besar. Bukan hanya karena pandemi memaksa mereka harus di rumah, tapi juga mereka harus bekerja dari rumah, dan pada saat yang sama anak mereka harus sekolah dari rumah. Anak-anak itu membutuhkan guru di rumah. Jadi orang tuanya, terutama sang ibu harus menanggung beban yang lebih besar dari sang ayah. Saya yakin ini juga terjadi di semua negara," ujarnya.
Sementara itu, dalam menangani pandemi Corona di Indonesia, Sri Mulyani menilai ada beberapa program yang memang harus langsung ditujukan pada perempuan. Contohnya bantuan sosial (Bansos) untuk keluarga di kelas menengah bawah.
Menurut Sri mulyani Bansos itu disalurkan pemerintah dengan syarat yakni diterima oleh sang ibu.
"Jaringan pengaman sosial yang kami tingkatkan 3 kali, sebagian besar ditujukan untuk membantu keluarga di kelas menengah bawah, bantuannya itu harus diterima oleh Ibu sebagai kepala keluarga. Sehingga, bantuan itu digunakan dengan baik, terutama untuk pendidikan anak," imbuh dia.
Sri Mulyani menambahkan peran perempuan tak hanya di satu area saja, seperti perekonomian rumah tangga atau negara, tapi juga punya peran besar di bidang lainnya.
"Jadi itulah kenapa kita membicarakan bagaimana kaum wanita bisa mendorong perannya dalam ekonomi, politik, dan di area lainnya," tandas dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar