Senin, 14 Desember 2020

Perusahaannya IPO, Bos Airnb Tambah Kaya Rp 92 Triliun

 Aplikasi rental penginapan Airbnb telah melakukan penjualan saham perdana atau IPO. Harga saham yang melejit membuat pendirinya bertambah kaya dalam jumlah luar biasa.

Harga saham Airbnb sebesar USD 146 per saham, lebih dari dua kali lipat dari harga IPO dan nilai pasar naik lebih dari USD 100 miliar setara Rp 1.404 triliun (kurs Rp 14.045). Akibatnya, CEO dan salah satu pendiri Airbnb, Brian Chesky, kecipratan untung besar.


Dikutip detikINET dari New York Post, Chesky bertambah kaya USD 6,5 miliar atau di kisaran Rp 92 triliun. Harta total Chesky pun diestimasi menjadi USD 11 miliar, membuatnya merangsek di posisi atas daftar orang terkaya di dunia.


"Ini pertama kalinya saya mendengar angka (kekayaan) sejumlah itu. Saya tidak bisa berkata-kata lagi, saya sangat bersyukur," demikian tanggapan Chesky.


Tak hanya Chesky, dua pendiri Airbnb lain juga makin kaya. Joe Gebbia sekarang hartanya sekitar USD 10 miliar dan Nathan Blecharczyk diperkirakan hartanya sama dengan Joe.


Airbed & Breakfast, Airbnb didirikan pada 2008 dan merupakan industri perhotelan dengan mempopulerkan gagasan menyewakan kamar di rumah orang.


Platformnya digunakan untuk mencari dan memesan akomodasi di 220 negara dan wilayah di seluruh dunia. Airbnb sekarang menawarkan apartemen, rumah, dan kamar hotel lengkap untuk disewa serta pengalaman perjalanan.


Sebenarnya di masa pandemi ini, bisnis Airbnb anjlok besar, namun diprediksi nanti pulih kembali. Pada Mei kemarin, Airbnb merumahkan seperempat dari total karyawannya, atau sekitar 1.900 orang, yang merupakan dampak dari pandemi Corona.


"Bisnis Airbnb terkena dampak yang besar," singkatnya dalam sebuah pesan yang dikirimkan ke para pegawainya yang berjumlah total 7500 orang.


PHK yang dilakukan terhadap seperempat karyawan Airbnb itu diperkirakan bisa menyelamatkan sekitar USD 400 juta sampai USD 500 juta.

https://indomovie28.net/movies/kemarin/


Startup Tidak Mau Adaptasi di Tengah Pandemi, Mending Tutup Saja


 Pandemi COVID-19 membawa dampak negatif untuk banyak bisnis, termasuk startup. Bahkan menurut pemodal ventura seperti CEO BRI Ventures Nicko Widjaja startup yang tidak mau adaptasi di tengah pandemi lebih baik tutup saja.

"Untuk beberapa startup yang kekeuh nggak mau pivot, tidak mau berubah bisnis, tidak mau mengganti ide di saat seperti ini, lebih baik tutup saja," kata Nicko seusai acara kelulusan Grab Ventures Velocity, Kamis (1/10/2020).


"Karena susah juga untuk bilang cara lama nggak akan berhasil sedangkan dunia terus berubah. Dinamika startup ini didasarkan dengan keadaan yang harus terus berubah," imbuhnya.


Menurutnya saat ini ada beberapa segmen startup yang bisa berhasil di tengah pandemi, misalnya startup kesehatan, pendidikan dan agrikultur.


Untuk startup yang saat sudah memiliki produk dan layanan, Nicko menyarankan untuk menjajal use case baru. Ia mengatakan saat ini validasi use case bisa memakan waktu lebih cepat dan bisa langsung dilihat apakah use case berhasil atau gagal.


Meski saat ini kondisi ekonomi masih lemah akibat pandemi, menurut Nicko sekarang justru waktu yang tepat untuk mendirikan startup.


Ia berkaca pada beberapa perusahaan besar yang berdiri di era krisis, seperti Uber dan AirBnB yang berdiri setelah krisis keuangan global tahun 2008. Ia mengatakan krisis adalah bagian dari startup.


"Harapan saya untuk para startup adik-adik yang baru memulai, mulai sekarang itu paling benar. Di mana sekarang semua orang lagi tiarap, Anda yang harusnya maju sekarang," kata Nicko.

https://indomovie28.net/movies/dignitate/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar