Instalasi seperti turbin angin diharapkan dapat membuat manusia tak lagi ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan energi. Dengan ukurannya yang besar, turbin angin ternyata bisa membahayakan burung.
Sudah banyak burung yang menjadi korban dan mati karena turbin angin. Pasalnya, mereka sering tidak sengaja terbawa angin dan masuk ke dalam baling-baling turbin.
Untuk mengatasi masalah tersebut, sebuah startup bernama IdentiFlight memutuskan untuk melakukan pengujian, di mana mereka memasang kamera pintar pada beberapa turbin angin yang berlokasi di Wyoming.
Dilansir detiKINET dari Ubergizmo, kamera ini memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi burung, terutama jika mereka termasuk spesies yang terancam punah.
Jika kamera tersebut mendeteksi burung, maka sistem akan mengirim sinyal ke turbin yang kemudian akan melakukan gerakan yang sesuai untuk memastikan bahwa bilah baling-baling tidak akan mengenai burung.
Berdasarkan studi awal, mereka menemukan bahwa penggunaan kamera ini telah berhasil mengurangi jumlah burung elang yang terbunuh. Angka ini turun dari 7,5 elang yang mati dalam setahun menjadi 2,5 setahun.
Namun, banyak yang mempertanyakan kelayakan teknologi yang diciptakan IdentiFlight. Hal ini karena ukuran dan berat bilah kipas pada turbin angin menimbulkan pertanyaan, apakah dapat dihentikan tepat waktu atau tidak, dan juga betapa sulitnya menyalakannya kembali.
Selain itu ada juga masalah efisiensi, di mana jika turbin mendeteksi burung secara terus-menerus, mesin akan hidup dan mati sehingga mengurangi efektivitasnya.
Terakhir adalah masalah harga. Sistem IdentiFlight dihargai USD 150.000 untuk instalasi, dan biaya pemeliharaannya pun tidak murah, sekitar USD 8.000 setahun.
https://movieon28.com/movies/blade/
Clubhouse Diblokir China Setelah Ramai Dipakai Diskusi Politik
- Clubhouse, aplikasi audio chat asal Amerika Serikat, tiba-tiba diblokir di China pada Senin (8/2) malam. Sebelum diblokir, aplikasi ini digunakan netizen China untuk mendiskusikan topik politik yang sensitif.
Ribuan pengguna Clubhouse di China mengeluh mereka tidak bisa terhubung dengan server Clubhouse seperti biasa, dan hanya bisa mengakses layanan tersebut lewat VPN, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (9/2/2021).
Halaman utama aplikasi Clubhouse sekarang menampilkan banner berwarna merah dengan tulisan: "Error SSL terjadi dan koneksi keamanan ke server tidak dapat dilakukan." Pengguna juga mengatakan mereka tidak bisa menerima kode verifikasi menggunakan nomor telepon dari China daratan.
Sebelum diblokir, Clubhouse memang tidak menjadi subjek sensor dan blokir seperti aplikasi asal Amerika Serikat lainnya, termasuk Facebook dan Twitter. Seperti diketahui, China memiliki 'Great Firewall' yang menyensor topik-topik sensitif yang tidak disetujui pemerintah dan memblokir aplikasi yang tidak mematuhi aturan sensor ini.
Karena tidak disensor, Clubhouse digunakan netizen China untuk membicarakan topik sensitif seperti protes di Hong Kong, unifikasi China dan Taiwan, serta perlakuan pemerintah China ke warga Uighur.
Ramainya diskusi yang bebas dan bertema politik juga membuat pengguna di China bertanya-tanya bagaimana nasib Clubhouse di masa depan. Ada beberapa room Clubhouse dengan judul seperti 'berapa lama Clubhouse akan bertahan di China' yang diikuti ribuan pengguna.
Aplikasi ini sebenarnya bisa digunakan dengan gratis, tapi pengguna yang ingin bergabung harus mendapatkan undangan. Untuk mendapatkan undangan ini, netizen China rela membayar hingga jutaan rupiah.
Clubhouse juga tidak tersedia di Apple App Store China sejak September. Untuk mengakalinya, netizen China mengunduh aplikasi ini menggunakan Apple ID dari luar negeri.
https://movieon28.com/movies/vampires-vs-the-bronx/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar