Senin, 08 Februari 2021

Ari Lasso Positif Corona dengan CT Value 16-17, Artinya Apa Sih?

 Musisi Ari Lasso mengaku sempat positif COVID-19. Setelah mengeluh demam tinggi, beberapa waktu lalu ia terkonfirmasi mengidap COVID-19 dengan CT Value di angka 16-17.

Ketika demamnya tak kunjung turun, ia segera melakukan swab antigen dengan hasil positif. Hasil tersebut lalu dikonfirmasi dengan tes PCR (poilmerase chain reaction), dan hasilnya masih positif.


Selama 14 hari demam tak kunjung turun, Ari Lasso mulai merasakan gejala gangguan napas.


"Psikis mulai goyah ternyata tanggal 18 itu aku mandi sudah mulai ngos-ngosan, napasnya pendek-pendek. Kalau ambil napas panjang itu nggak bisa, batuk (langsung), menyakitkan," terangnya.


Lantas, apakah gejala yang dialami Ari Lasso bisa terbaca dari CT Value 16-17?


Dalam wawancara dengan detikcom beberapa waktu lalu, pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan, CT Value adalah jumlah siklus dalam PCR yang dilakukan untuk mencari materi genetik virus dari sampel lendir atau hasil swab.


Bisa jadi, kandungan virus dalam sampel lendir belum terlihat dalam siklus pertama, terlebih jika materi genetik pasien masih terlalu sedikit. Untuk itu, materi genetik harus diamplifikasi sampai kandungan virus bisa terlihat.


Ahmad menegaskan, angka nilai value berbanding terbalik dengan jumlah materi genetik virus. Semakin keci nilai CT Value, semakin besar jumlah materi genetik virus yang ada pada tubuh pasien.


"Jadi kalau pasien punya CT Value di bawah 25, katakan 11 atau 20, 17, 22, itu kita bisa estimasi kayaknya kamu punya banyak virus di tubuh kamu," terangnya.


Sebaliknya, semakin kecil nilai CT Value, semakin besar jumlah materi genetik virus pada pasien. Pada beberapa kasus, CT Value ada pada angka 35. Artinya, jumlah virus pada tubuh sudah dianggap tinggal sedikit dan tidak membahayakan.


"Kalau CT Value sudah di atas 35, itu berarti sudah sedikit banget atau jangan-jangan virusnya sudah mati, tinggal bangkainya saja. Bagaimana dengan 27? Iya 27 itu borderline lah," imbuhnya.

https://movieon28.com/movies/all-that-remains/


Dialami Juga oleh Ari Lasso, Sering 'Halu' Termasuk Gejala COVID-19?


Meski sudah sembuh, Ari Lasso mengaku kerap halusinasi saat terpapar COVID-19. Ia bahkan sulit membedakan mana saat sedang tidur dan bermimpi.

Ia pun berpesan pada semua orang yang terpapar COVID-19, gejala Corona halusinasi ini bisa muncul di awal-awal terinfeksi. Menurutnya, sejak hari pertama hingga hari kelima.


"Jangan khawatir kalau 1 sampai 5 hari pertama mengalami halusinasi, gejala COVID-19 delirium, linglung," bebernya dalam video YouTube Ari Lasso, Minggu (7/1/2021).


Ia mengaku merasa linglung saat berbicara hingga halusinasinya terus memburuk.


"Kalau aku yang paling parah linglungku tuh masalah tidur, bingung membedakan antara tadi tuh tidur, mimpi, atau nggak, atau leyeh-leyeh," katanya.


"Dan dimensi jamnya berubah-ubah, seperti waktu itu aku sepanjang malam mimpi horor, mimpi yang mengerikan, tuhan jangan mimpi kaya gini dong aku ketakutan. Itu 2 hari berturut-turut," ceritanya.


Gejala COVID-19 yang dialami Ari lasso disebut dengan delirium. Mengapa gejala COVID-19 delirium bisa terjadi?


Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah mada (RSA UGM), dr Fajar Maskuri, SpS, MSc, menjelaskan delirium adalah gangguan kognitif atau berkurangnya rasa sadar pada lingkungan. Hal ini disebabkan disfungsi otak pada sejumlah pasien Corona.


"Gejala-gejala itu munculnya fluktuatif dan biasanya berkembang cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari," jelasnya dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.


Gejala Corona delirium yang muncul biasanya meliputi:


Disorientasi

Bicara mengigau

Sulit konsentrasi/kurang fokus

Gelisah

Halusinasi.

"Gejala-gejala itu munculnya fluktuatif dan biasanya berkembang cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari," lanjutnya.


Apa pemicunya?

Penyebabnya bisa beragam, tetapi salah satunya bisa dikarenakan kurangnya oksigen dalam tubuh atau hipoksia. Penyakit sistemik dan inflamasi sistemik juga bisa menjadi penyebabnya.


Adanya gangguan sistem pembekuan darah yang terlalu aktif (koagulopati), dan infeksi virus Corona langsung ke saraf. Selain itu, mekanisme autoimun pasca infeksi dan endoteliitis juga bisa memicu gejala COVID-19 delirium pada pasien tetapi intensitasnya lebih jarang.

https://movieon28.com/movies/the-remaining/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar