Persebaran virus corona yang semakin meningkat membuat virus ini menjadi perhatian utama masyarakat. Virus corona COVID-19 pun selalu menjadi pemberitaan utama di beragam media.
Lalu pernahkah kamu mendadak merasa sedikit demam, tenggorokan gatal, atau sesak napas ketika terlalu banyak membaca informasi mengenai corona?
Menurut dr Andri SpKJ, FACLP, psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, hal ini disebut dengan reaksi psikosomatik. Artinya, wajar terjadi karena rasa cemas timbul setelah membaca terlalu banyak berita negatif tentang virus corona, seperti melihat jumlah kasus kematian yang dilaporkan semakin meningkat.
"Jadi ketidakseimbangan berita ini membuat problem untuk otak kita. Sayangnya otak kita ini lebih responsif sama (hal) negatif. Karena otak kita ini hampir lebih dari 80 persennya lebih mudah menerima hal yang negatif daripada hal positif," ujar dr Andri saat dihubungi detikcom pada Senin (23/3/2020).
Ia mengatakan, kecemasan ini dapat membuat tubuh kita memicu respons yang dapat memunculkan gejala-gejala virus corona COVID-19 saat sedang membaca terlalu banyak berita mengenai virus ini.
"Jadi ketika cemas itu datang, gejala-gejala virus corona COVID-19 itu bisa tiba-tiba muncul karena diaktifkan oleh sistem saraf otonom kita. Jadi, seolah-olah kita responnya muncul seperti gejala batuk dan kebanyakan tuh sesak napas karena cemas, gatal-gatal rasanya kaya seret lehernya atau sesak," ujarnya.
Untuk mengurangi gejala psikosomatik, dr Andri menyarankan agar mulai membatasi informasi terkait virus corona COVID-19. Selain itu, mulailah untuk melakukan relaksasi 10 menit sehari untuk mengurangi gejala psikosomatik ini.
"Pertama kurangi asupan berita, relaksasi yang benar karena relaksasi penting sekali. Relaksasi adalah cara kita mengelola pikiran dan perasaan kita. Minimal 10 menit relaksasi setiap hati," pungkasnya.
Dibanding DPR, Dokter dan Perawat Lebih Butuh Tes Corona
Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadillah, Skep, SH, MKep, menanggapi kontroversi tes corona untuk 2.000 lebih anggota DPR dan keluarganya. Menurutnya, prioritas rapid test virus corona lebih baik ditujukan terlebih dahulu pada tenaga medis.
"Perawat dulu lah, rasional dong," jelasnya saat dihubungi detikcom, Senin (23/3/2020).
Selain tenaga medis, menurutnya masyarakat juga perlu untuk didahulukan dalam rapid test. Hal ini berkaitan dengan pemetaan penyebaran kasus corona di Indonesia.
"Tenaga medis dulu, lalu masyarakat itu penting, supaya bisa memetakan penyebaran, sehingga bisa diantisipasi keberlanjutannya (kasus corona) itu," lanjutnya.
Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Faqih SH, MH, pun mengatakan tenaga medis perlu didahulukan dalam melakukan rapid test.
"Mestinya begitu (tenaga medis dulu) kita prioritaskan sesuai indikasi, rapid test itu harus sesuai indikasi dari hasil pemeriksaan dokter juga," katanya.
Ia juga menjelaskan rapid test harus berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Tidak bisa begitu saja dilakukan.
"Kalau tidak ada indikasi, maka rapid test tidak bermakna, bisa mubazir," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar