Selasa, 19 Mei 2020

Dahlan Iskan dan Tanri Abeng Blak-blakan soal Kondisi BUMN (2)

Sesama Direksi Saling Berebut Pengaruh

Dahlan membeberkan pengalamannya selama menjabat sebagai Menteri BUMN. Menurutnya, yang sulit dalam memimpin BUMN adalah menghadapi sesama direksi yang sering bertengkar.

"Yang sulit di BUMN itu direksinya sering berebut pengaruh. Direksinya sering bertengkar dengan direktur utama (dirut) atau sesama direksi. Kemudian perbedaan itu dibaca oleh staf ke bawah dan masing-masing kemudian seperti punya pengikut internal di perusahaan itu," kata Dahlan dalam diskusi virtual bersama LP3ES, Senin (18/5/2020).

Dahlan yang sempat berkecimpung di dunia swasta merasakan betul perbedaan saat di BUMN. Jika di swasta sesama direksi tidak cocok langsung dipecat, di BUMN sesama direksi dinilai hal yang biasa.

"Saya lahir di swasta besar di swasta. Di swasta itu tidak ada direksi yang tidak cocok dengan dirutnya itu tidak ada, semua direksi harus cocok sama dirutnya karena kalau tidak diganti. Tapi di BUMN itu sangat biasa ada direksi tidak cocok dengan dirutnya. Dari pengalaman itu bahwa mulai waktu itu tidak boleh lagi direksi tidak boleh cocok sama dirutnya," ungkapnya.

Kejadian seperti itu tentu tidak baik bagi kesehatan perusahaan. Terlebih banyak direksi yang merangkap jabatan di perusahaan lain yang membuat masing-masing direksi tidak solid karena memiliki bos sendiri-sendiri.

"Direksinya kadang-kadang mencari backing di luar apakah dia politisi, apakah dia pejabat yang lebih tinggi sehingga katakanlah ada 5 direktur di 1 BUMN, bisa saja 5 direktur itu punya bos sendiri-sendiri. Nah ketika saya jadi Menteri BUMN saya tidak mau hal itu terjadi. Itu yang saya sebut harus ada loyalitas di dalam perusahaan itu kepada manajemennya," ucapnya.

Tanri Abeng Beberkan Biang Kerok yang Menghambat Kinerja BUMN

Tanri menyoroti politisasi yang terjadi dalam perusahaan-perusahaan pelat merah. Hal itu dinilai menjadi hambatan utama BUMN untuk maksimalkan kinerjanya.

Menurutnya selama ada politisasi, manajemen BUMN tidak memiliki kuasa penuh dalam menjalankan operasional perusahaan.

"Kalau manajemennya diobok-obok, kalau manajemennya tidak memiliki kapasitas karena diintervensi, maka BUMN tidak akan pernah optimum kinerjanya," kata Tanri dalam diskusi virtual bersama LP3ES, Senin (18/5/2020).

Oleh karenanya, dia mendorong agar politisasi dalam BUMN segera dihapus sehingga kinerja perseroan dapat tumbuh secara maksimal.

"Kuncinya BUMN jangan ada birokratisasi dan politisasi. Tapi kenyataannya tidak bisa itu dihilangkan sama sekali," ucapnya.

Untuk menekan politisasi dalam manajemen BUMN, Tanri menyarankan agar perusahaan pelat merah menjual sebagian sahamnya ke publik. Pasalnya, BUMN yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak lagi bisa semena-mena mengambil langkah strategis.

"Serahkan kepada publik saja, dijual saja. Baru demikian akan bisa independen betul," ujar dia.

Dahlan menyebut BUMN pangan selain Perum Bulog masih lemah. Bahkan saking lemahnya kalah dengan bakso di Blok S karena BUMN tersebut terlalu kecil.

"Agak memalukan menurut saya kalau BUMN kuat di bidang yang tidak terlalu terkait dengan ketahanan negara tapi sangat lemah yang justru secara langsung terkait dengan kepentingan publik. Misalnya waktu itu saya sangat prihatin bahwa BUMN di bidang pangan kalah dengan bakso Blok S saking kecilnya dan saking jeleknya," kata Dahlan melalui telekonferensi, Senin (18/5/2020).

Dahlan tidak menyebut siapa BUMN yang dimaksud. Namun alasan itulah yang membuatnya merasa gagal menjadi Menteri BUMN selama menjabat pada periode 2011-2014 lalu.

"Sebetulnya saya merasa gagal ketika jadi menteri adalah ketika mendorong agar BUMN mempunyai perusahaan di bidang pangan yang seraksasanya. BUMN ini kan milik negara sedangkan pangan adalah ketahanan negara seharusnya jangan sampai BUMN di bidang pangan lebih kecil dibanding BUMN yang di bidang bisnis pada umumnya yang semua orang sudah melakukan," ucapnya.

Selain itu dalam hal ekspor BUMN dinilai masih lemah. Padahal jika mau, Indonesia bisa didorong menjadi penghasil buah tropis besar dan bisa diekspor seperti yang dulu ia lakukan.

"BUMN sangat lemah di bidang ekspor ini. Karena itu waktu itu saya menyampaikan bahwa kita harus membuat perkebunan durian 5.000 hektar (Ha), perkebunan pisang 5.000 Ha. Pokoknya buah tropis harus menjadi andalan Indonesia. Maka Keunggulan Indonesia yang wilayahnya panjang sekali dari barat sampai ke timur yang berada di area tropis, kenapa tidak produksi buah tropis besaran," ucapnya.
Selanjutnya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar