Seorang selebriti cantik, Cut Memey berhasil memangkas berat badan sebanyak 9 kg. Pencapaian ini tidak lepas dari komitmennya yang kuat untuk berolahraga secara rutin. Belakangan, Memey memang dikenal sebagai trainer kebugaran.
Kuncinya, menurut Memey, adalah menjadikan olahraga sebagai kebutuhan. Kalau hanya menunggu waktu sesempatnya, maka kemungkinan bakal sulit menjaga komitmen.
"Dulu aku berpikir kalo berolahraga kalau ada waktu saja. Tapi setelah merasa enjoy. Aku membuat olahraga ini menjadi salah satu kebutuhan buat aku," kata Memey dalam diskusi online, Senin (18/5/2020).
Cut Memey menjadikan olahraga sebagai kebutuhan.Cut Memey menjadikan olahraga sebagai kebutuhan. Foto: detikHOT
Selain itu, Memey juga menyarankan untuk mandi sebelum melakukan aktivitas olahraga. Dengan mandi, badan akan terasa lebih fresh sehingga olahraga jadi lebih bersemangat.
"Sebelum aku memulai aktivitas olahraga, aku biasanya pasti mandi pagi dulu, biar seger, biar fresh dan sebagai salah satu bentuk recharge biar semangat untuk olahraga, dan ganti pakaian yang sekiranya nyaman untuk dipakai," kata Memey.
"Dan aku juga selalu berusaha untuk tampil bagus saat ke studio, misalkan aku beli outfit olahraga baru tiap minggu, kaya seneng aja kalo pakai ke studi mau olahraga," pungkasnya.
Ilmuwan Klaim Virus Corona Bisa Mati Secara Alami Sebelum Vaksin Muncul
Profesor Karol Sikora, ilmuwan sekaligus mantan petinggi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklaim bahwa virus Corona COVID-19 Ini bisa mereda dan mati secara alami, bahkan sebelum vaksin muncul.
"COVID-19 bisa terbakar secara alami, sebelum vaksin apapun dikembangkan. Kami melihat pola yang kira-kira sama di mana-mana, dan saya menduga kekebalan yang kami miliki lebih kuat dari yang diperkirakan," katanya yang dikutip dari Daily Star, Selasa (19/5/2020).
"Kita harus terus memperlambat perkembangan virus sampai bisa mereda dengan sendirinya. Menurut saya ini skenario yang layak," imbuh Profesor Karol.
Profesor Karol mengatakan belum ada yang tahu apakah klaim ini akan pasti terjadi. Situasi yang ia klaim tersebut masih sebuah kemungkinan atau prediksi. Namun, ia terus mengingatkan untuk menjaga jarak dan berharap jumlah kasus tidak akan terus meningkat lagi.
Di samping itu, para peneliti terus berlomba untuk mengembangkan vaksin yang bisa digunakan untuk mengendalikan virus Corona. Salah satunya sedang berlangsung di University of Oxford, yang mungkin hasilnya akan terlihat bulan Juni mendatang.
"Kami juga ingin memastikan bahwa seluruh dunia juga mempersiapkan vaksin ini dalam skala besar, hingga bisa diberikan ke populasi yang ada di dunia," kata Profesor Sir John Bell, profesor bidang kedokteran di Oxford University.
Uji Coba Vaksin Corona pada Manusia Laporkan Hasil Awal yang Menjanjikan
Hasil uji coba vaksin virus Corona COVID-19 pada manusia disebut memberi 'secercah harapan'. Studi di Amerika Serikat (AS), Moderna, menunjukkan hasil positif dari delapan sukarelawan ketika menjalani uji coba vaksin mereka yaitu mRNA-1273.
Meski begitu, hasil lengkap dari tes tahap pertama dalam pengembangan vaksin yang melibatkan 45 peserta ini belum diketahui. "Vaksin pada umumnya aman dan ditoleransi dengan baik," kata Moderna dalam sebuah pernyataan pada Senin (18/5/2020).
"Data sementara tahap awal ini, menunjukkan vaksinasi dengan mRNA-1273 menghasilkan respons kekebalan virus yang sama besar yang disebabkan oleh infeksi alami," ujar Tal Zaks, Chief Medical Officer Moderna, dikutip dari Channel News Asia.
Studi yang dijalankan oleh Institut Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) ini melaporkan delapan sukarelawan menghasilkan antibodi penetral. Hal ini diuji dalam sel manusia di laboratorium dan terbukti menghentikan replikasi virus. Semakin tinggi dosis vaksin yang diberikan, semakin banyak antibodi yang dihasilkan oleh para sukarelawan.
Namun, belum diketahui apakah respons antibodi ini akan bertahan lama. Robin Shattock, profesor infeksi mukosa dan imunitas, mengatakan temuan Moderna adalah kabar menggembirakan.
"Meskipun penting untuk meneliti data aktual, temuan yang dilaporkan sesuai dengan harapan bahwa kandidat vaksin harus menyediakan tingkat antibodi penetral yang setidaknya setara dengan orang yang sembuh," katanya, dikutip dari The Guardian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar