Kamis, 16 April 2020

Bareng Bill Gates, Bio Farma Mau Buat Vaksin Corona

PT Bio Farma (Persero) berencana melakukan riset dan pengembangan (research and development/R&D) terkait vaksin virus Corona (COVID-19).
Pembuatan vaksin ini dilakukan bekerja sama dengan lembaga kesehatan yang didirikan oleh Bill Gates, yakni Koalisi Inovasi Kesiap siagaan Epidemi (The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations/CEPI).

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan lembaga itu sedang dalam tahap pengembangan vaksin di internalnya. Nantinya, Bio Farma akan melanjutkan pengembangan tersebut di laboratorium miliknya.

"Masih proses dengan lembaga dari dalam dan luar negeri. Kita sudah mengajukan opsi untuk proses scale up (tahap pengujian untuk produksi) untuk vaksin yang lagi dikembangkan. Yang lagi jalan komunikasinya dengan CEPI," kata Honesti dikutip detikcom dari CNBC Indonesia, Kamis (16/4/2020).

Namun, saat ini proses pengembangan vaksin masih dalam skala lab di CEPI, belum masuk ke tahap percobaan klinis. Bio Farma akan bekerja sama dengan lembaga baik di dalam maupun luar negeri untuk bertukar informasi dan melanjutkan penelitian yang sudah ada sebelumnya.

"Kalau kita bikin dari nol, penelitian awal bisa 10-15 tahun. Tapi kalau kerja sama dengan berbagai lembaga penelitian mungkin ada shortcut (jalan pintas). Misal ada lembaga riset yang sudah tahap 1, tapi mungkin mereka tak punya kapasitas melanjutkan. Jadi memang harus ada koordinasi. Kalau seandainya sudah ada yang ke tahap 2, bisa 2-3 tahun lebih cepat," ucap Honesti.

Nampaknya masyarakat harus sabar menunggu karena proses produksi vaksin virus Corona ini baru bisa digunakan oleh masyarakat dalam waktu 2-3 tahun mendatang. Proses ini sudah menggunakan prosedur emergency policy untuk mempercepat proses tersebut.

Jokowi: Izin Produsen Alat Kesehatan Tak Boleh Dihambat!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kepada para menteri untuk tidak mempersulit izin para produsen alat-alat kesehatan. Justru dia meminta agar para industri itu digenjot membuat alat kesehatan.

Jokowi mengatakan saat ini ada 213 negara saat ini menghadapi permasalahan yang sama yakni pandemi virus Corona. Dengan banyaknya negara yang mengalami masalah yang sama, maka terjadi perebutan alat-alat kesehatan.

Berdasarkan hal itu, dia menginstruksikan para menteri untuk melihat potensi dan mendorong industri dalam negeri yang mampu memproduksi alat-alat kesehatan.

"Kita harus melihat kembali seluruh potensi sumber daya yang kita miliki di negara kita. Terutama industri dalam negeri kita untuk memproduksi alat-alat kesehatan untuk penanganan COVID-19, baik industri bahan baku obat, farmasi, fitofarmaka, berkaitan dengan APD, industri masker atau yang berkaitan dengan industri ventilator," ujarnya saat membuka rapat terbatas, Rabu (15/4/2020).

Untuk itu, Jokowi instruksikan untuk memberikan dukungan kepada pelaku industri yang memproduksi alat-alat kesehatan tersebut. Salah satunya dengan relaksasi proses perizinan yang tidak menghambat, termasuk persoalan standarisasi.

"Semua kementerian ini jangan sampai ada yang menghambat proses perizinannya, baik urusan APD yang masih butuh standar ini, standar ini. Menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki agar standar ini terpenuhi, tapi jangan dipersulit. Tolong dengarkan betul keluhan-keluhan di bawah, sehingga tidak ada namanya perizinan menghambat produksi yang ada," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar