Jumat, 17 April 2020

Kendaraan di Jakarta Kembali Ramai, Ahli Jelaskan Kemungkinan Dampaknya

Setelah 18 hari diterapkan kebijakan work from home (WFH) di DKI Jakarta, volume kendaraan sempat turun secara signifikan. Namun hari ini, Selasa (7/4/2020), terjadi peningkatan kembali volume kendaraan mencapai 10 persen.
"Data menunjukkan memang ada kenaikan 10 persen bila dibandingkan dengan hari Senin minggu yang lalu," kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (7/4/2020).

Menanggapi kembalinya kepadatan volume kendaraan di Jakarta, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengatakan jika keadaan berlangsung seperti ini tingkat orang yang terinfeksi akan semakin bertambah setiap harinya.

"Dengan kondisi sekarang aja prevalensi di tengah masyarakat aja bisa sampai lima sampai tujuh persen angkanya. Artinya dari 100 orang di jakarta ya mungkin ada lima sampai tujuh orang yang positif," kata Prof Ari saat dihubungi detikcom, Selasa (7/4/2020).

Prof Ari kemudian mengatakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa membuat pemerintah lebih tegas dalam mencegah penularan virus Corona COVID-19 ini Khususnya di Jakarta yang kembali macet. Terlebih, Menteri Kesehatan telah menyetujui permintaan Gubernur DKI Jakarta untuk PSBB.

"Misalnya menutup pintu-pintu masuk ke Jakarta atau keluar Jakarta itu musti lebih ketat. Artinya harus ada proses di mana orang tidak mudah keluar masuk pintu Jakarta. Kantor-kantor kita identifikasi aja kalau kantor swasta masih buka ya ditegur. Jadi artinya jangan cuma diatas kertas aja, Jakarta sudah PSBB kenyataanya di Jakarta masih ramai, masih macet," lanjutnya.

Penularan virus Corona COVID-19 menurutnya akan terus meningkat bila banyaknya orang yang masih keluar luar rumah. Bahkan ia mengatakan, jika kondisinya masih terus seperti ini persebaran virus Corona di Indonesia tidak akan selesai.

"Ketika ada orang ramai di jalan maka itu terjadilah interaksi satu orang dengan orang lain, jadi terjadilah penularan infeksi dari satu orang ke orang lain. Ini kita akan lebih dari tiga bulan, mungkin bisa lewat. Akhir tahun ini mungkin Indonesia ga pernah selesai-selesai masalah COVID-nya," tutupnya.

Viral Sopir Pakai Masker dari Celana Dalam, Dokter Kulit Nitip Pesan

 Masker saat ini jadi kebutuhan. Pemerintah menghimbau semua warga yang keluar rumah diminta menggunakan masker demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona.
Anjuran mengenai penggunaan masker bagi seluruh warga itu disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Permintaan yang tinggi, namun jumlah masker yang langka membuat sebagian orang mengakalinya. Seperti yang dilakukan oleh sopir pikap ini, ia menggunakan celana dalam sebagai ganti untuk masker penangkal virus corona.

Hal ini diketahui dalam sebuah video yang dibagikan oleh akun facebook bernama Abahe Fika seperti dilihat detikcom, Selasa (7/4/2020).

Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK(K), FINSDV, FAADV, spesialis kulit dan kelamin dari klinik DNI SKIN CENTRE mengatakan, untuk penggunaan celana dalam tersebut aman-aman saja dan tidak menimbulkan masalah pada kulit wajah. Tetapi syaratnya, sebelumnya harus dicuci bersih terlebih dahulu dengan detergen.

"Penggunaan daleman untuk kulit wajah, umumnya aman dan tidak menimbulkan masalah dengan kulit wajah, sepanjang daleman yang digunakan sudah bersih dicuci dengan detergen," kata dr Darma, saat dihubungi detikcom, Selasa (7/4/2020).

Meski amanbagi kulit, bukan berarti masker dari celana dalam efektif menyaring partikel. dr Darma mengingatkan, masker dengan menggunakan celana dalam memiliki pori-pori yang cenderung lebih longgar.

"Namun penggunaan daleman untuk pengganti masker tentunya tidak bisa efektif dalam mencegah penularan COVID-19 karena daleman cenderung kurang ketat menutup hidung serta pori2 kain cenderung lebih longgar sehingga kurang menyaring virus," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar