Ahli penyakit menular Amerika Serikat, Dr Anthony Fauci, memberikan prediksi suram mengenai pandemi virus corona yang saat ini menghantam negaranya. Melihat penyebaran virus, ia melihat COVID-19 dapat membunuh sekitar 200.000 orang Amerika.
"Maksud saya, melihat apa yang terjadi sekarang, saya mengatakan antara 100.000 hingga 200.000 kematian," kata Fauci kepada CNN.
Komentar Fauci menggarisbawahi seberapa jauh puncak wabah virus corona berdasarkan prediksi dari pejabat tinggi federal. Pada awal Minggu (29/3) sore, ada 125.000 kasus di AS dan hampir 2.200 kematian, menurut data dari Johns Hopkins University.
Sebelumnya, Deborah Birx, Koordinator Tanggap Virus Corona AS juga memaparkan model prediksi baru yang menunjukkan lebih dari 100 ribu orang bisa meninggal dunia akibat virus corona. Meski demikian, ada beberapa kritik dari prediksi Birx karena sumber penelitiannya masih belum diketahui.
Fauci dan para ahli lainnya mengatakan krisis akan memburuk, dan peningkatan kasus baru-baru ini telah menyebabkan kekurangan pasokan yang parah untuk rumah sakit di seluruh negeri, terutama di New York, negara bagian dengan jumlah kasus tertinggi di seluruh negeri.
Banyak rumah sakit di seluruh Amerika Serikat kehabisan tempat tidur dalam waktu dua minggu karena kasus terus meningkat.
Dalam upaya untuk menekan penyebaran virus, berbagai kota dan negara bagian - termasuk New York, telah menerapkan perintah tinggal di rumah untuk penduduk mereka, yang kini telah berdampak pada setidaknya 215 juta orang Amerika.
Termakan Hoax Metanol untuk Obat Corona, 300 Warga Iran Dikabarkan Tewas
Sejak Jumat lalu, jumlah kematian akibat virus corona COVID-19 di Iran mencapai 2.378 orang. Total kasus yang terinfeksi pun sudah mencapai angka 32.300 kasus.
Untuk mengatasi ini, masyarakat Iran percaya dengan mengkonsumsi alkohol dengan kandungan metanol di dalamnya, bisa menyembuhkan penyakit akibat virus corona. Tapi, hal ini malah menyebabkan banyak orang meninggal dunia.
Sebanyak 300 orang meninggal dunia karena informasi keliru tersebut. Dikutip dari Daily Star, ini juga menyebabkan lebih dari 1.000 orang sakit setelah mengkonsumsi zat beracun tersebut.
Kepercayaan akan metanol muncul karena zat tersebut digunakan sebagai campuran untuk hand sanitizer sebagai pembersih virus di tangan. Mereka percaya, bahwa dengan meminum larutan tersebut juga memiliki efek yang sama.
"Virus ini menyerang orang-orang yang keadaan tubuhnya buruk. Saat mereka terus mengkonsumsi ini, maka akan lebih banyak yang keracunan. Dan saat itulah virus bisa menginfeksi tubuh manusia," ujar ahli toksikologi klinis dari Oslo, Knut Erik Hovda.
Selain itu, dampak dari keracunan ini membuat jatah tempat tidur untuk para pasien virus corona terus berkurang. Bahkan, bocah berusia 5 tahun juga mengalami kebutaan akibat keracunan alkohol tersebut.
Bukan Disemprot ke Tubuh, Gugus Tugas COVID-19 Ungkap Cara Pakai Disinfektan
Secara umum, cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda seperti di baju. Namun Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku B. Adisasmito, menyebut cairan disinfektan tidak akan melindungi Anda dari virus corona jika berkontak erat dengan orang sakit, jadi sifatnya hanya sementara.
"Disinfektan ini adalah senyawa kimia yang digunakan untuk proses dekontaminasi yang membunuh mikroorganisme, virus atau bakteri, pada objek permukaan benda mati seperti lantai, meja, atau permukaan lain yang sering disentuh, peralatan medis," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Senin (30/3/2020).
Dalam rangka pencegahan COVID-19, penggunaan cairan disinfektan di area publik, pasar, tempat ibadah, sekolah, dan rumah makan, diperbolehkan namun tetap perlu memperhatikan kompsisi dan jenis bahan disinfektan. Tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan seperti fogging karena dapat menimbulkan iritasi kulit bahkan mengganggu pernapasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar