Sejak diwajibkannya seluruh masyarakat menggunakan masker kain sebagai langkah pencegahan virus corona, muncul banyak sekali jenis masker nonmedis dan salah satu yang populer adalah masker scuba. Jenis masker penggunaannya terbilang cukup populer di masyarakat karena dianggap nyaman dan harganya pun tergolong murah.
Namun beberapa waktu lalu muncul keraguan soal efektivitas masker scuba dalam menyaring partikulat seperti bakteri dan virus. Banyak yang kemudian beramai-ramai mencoba metode untuk mengujinya yakni dengan memakai masker scuba sambil meniup api yang viral di media sosial.
"Masker yang baik itu adalah masker yang ketika ada api, ditiup, api dinyalakan di depan masker, terus kita tiup, itu apinya kalau tidak padam berarti bagus," kata seorang netizen.
Peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir yang juga tengah melakukan penelitian terkait teknologi untuk masker, mengatakan tes tiup api hanyalah indikator awal pengujian kualitas masker. Pada dasarnya ada beberapa kriteria untuk menguji kinerja masker di antaranya:
Uji filtrasi bakteri
Uji partikulat
Uji aliran udara
"Itu hanya indikator awal saja sebab untuk mengecek filter ada syaratnya seberapa bisa dia menahan bakteri kemudian berapa partikulat yang bisa ditahan," katanya saat dihubungi detikcom dan ditulis Senin (4/5/2020).
Melihat tes yang dilakukan pada bahan masker scuba, pada saat dipakai memang terjadi peregangan karena bahannya yang lentur sehingga pori-pori kain terbuka dan aliran udaranya makin besar.
Pada masker medis atau masker N95, serat dan benangnya akan tersusun rapat sehingga partikulat bakteri dan virus bisa tertahan namun memang pemakainya menjadi tak nyaman.
"Kalau aliran udara besar memang lebih nyaman tapi efektivitas penyaringan bakteri atau virus biasanya lebih turun," sebutnya.
Walaupun serat dan bahannya tak serapat masker medis atau masker N95, masyarakat tetap bisa menggunakan masker kain karena umumnya memiliki daya saring partikel 50 hingga 80 persen.
"Untuk penggunaan sehari-hari di masyarakat yang tidak kontak langsung, cukup membantu untuk mencegah walau kemampuannya kecil," pungkasnya.
Kisah Selebgram Falla Adinda Jadi Relawan Medis Corona di Wisma Atlet
Sejak Wisma Atlet Kemayoran dijadikan Rumah Sakit Darurat (RSD) untuk pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19 di Jakarta, banyak kisah yang dibagikan petugas medis mengenai pengalaman mereka selama bertugas di sana.
Salah satunya adalah dr Falla Adinda, seorang dokter dan influencer di sosial media Twitter maupun Instagram. Diketahui, selama satu bulan, dr Falla akan menjadi relawan medis untuk penanganan pasien virus Corona di RSD Wisma Atlet.
Saat dihubungi detikcom, Minggu (3/5/2020) dr Falla membagikan ceritanya selama menjadi relawan di Wisma Atlet, ia bergabung sebagai relawan medis pada Selasa (21/4/2020) lalu.
dr Falla menceritakan bagaimana ia bisa menjadi relawan untuk bisa ditempatkan di Wisma Atlet. Dengan langkah awal mendaftar terlebih dahulu ke instansi para petugas masing-masing.
"Dokter dan nakes yang masuk sini, adalah orang-orang dari Polri, TNI, dan juga relawan medis. Karena relawan ini mendaftar ke instansinya mereka masing-masing untuk bisa ditempatkan di Wisma Atlet," ujar dr Falla, saat dihubungi detikcom, Minggu (3/5/2020).
Ia pun menjelaskan sistem kerja untuk di Wisma Atlet adalah selama 1 bulan, dan tidak diizinkan untuk pulang selama bertugas, karena Wisma Atlet termasuk kepada wilayah red zone.
Falla mengatakan untuk jam kerja di Wisma Atlet terbagi atas 3 kali shift dalam sehari. Mulai dari pukul 02.30 untuk shift pertama, dan shift terakhir berakhir pula pada pukul 02.30 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar