Senin, 04 Mei 2020

Tanda 'Misterius' di Lengan Kim Jong Un, Kemungkinan Bekas Ambil Darah?

 Foto terbaru pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menunjukkan tanda misterius di lengan kanannya. Hal ini mengundang perhatian karena sempat beredar spekulasi soal kondisi kesehatannya yang memburuk akibat lama tak muncul di depan publik.
Dalam foto yang dirilis kantor berita Korut, KCNA. Kim kembali muncul untuk melakukan pemotongan pita dalam pembukaan sebuah pabrik pupuk di Sunchon, dekat ibu kota Pyongyang, pada Jumat (1/5/2020).

Terkait hal tersebut ahli jantung dr Vito A Damay, SpJP(K), Mkes, FIHA, FICA, FAsCC, dari Siloam Hospital Lippo Village menjelaskan khusus radial artery puncture biasanya ada di dekat pergelangan tangan. Namun pada beberapa kasus memang ada kemungkinan prosedur dilakukan sedikit lebih atas dari pergelangan.

"Kadang-kadang dalam kondisi tertentu, misalnya akses yang kurang baik, maka bisa agak naik ke atas posisinya. Nah gambar foto Kim Jong Un itu tidak terlalu jelas posisinya di mana," kata dr Vito pada detikcom, Senin (4/5/2020).

dr Vito menjelaskan radial artery puncture biasanya dilakukan saat pasien akan menjalani kateterisasi dan pemasangan ring jantung.

Kata Ilmuwan Nanoteknologi Soal Tes Tiup Api untuk Uji Masker Scuba

Sejak diwajibkannya seluruh masyarakat menggunakan masker kain sebagai langkah pencegahan virus corona, muncul banyak sekali jenis masker nonmedis dan salah satu yang populer adalah masker scuba. Jenis masker penggunaannya terbilang cukup populer di masyarakat karena dianggap nyaman dan harganya pun tergolong murah.
Namun beberapa waktu lalu muncul keraguan soal efektivitas masker scuba dalam menyaring partikulat seperti bakteri dan virus. Banyak yang kemudian beramai-ramai mencoba metode untuk mengujinya yakni dengan memakai masker scuba sambil meniup api yang viral di media sosial.

"Masker yang baik itu adalah masker yang ketika ada api, ditiup, api dinyalakan di depan masker, terus kita tiup, itu apinya kalau tidak padam berarti bagus," kata seorang netizen.

Peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir yang juga tengah melakukan penelitian terkait teknologi untuk masker, mengatakan tes tiup api hanyalah indikator awal pengujian kualitas masker. Pada dasarnya ada beberapa kriteria untuk menguji kinerja masker di antaranya:

Uji filtrasi bakteri
Uji partikulat
Uji aliran udara

"Itu hanya indikator awal saja sebab untuk mengecek filter ada syaratnya seberapa bisa dia menahan bakteri kemudian berapa partikulat yang bisa ditahan," katanya saat dihubungi detikcom dan ditulis Senin (4/5/2020).

Melihat tes yang dilakukan pada bahan masker scuba, pada saat dipakai memang terjadi peregangan karena bahannya yang lentur sehingga pori-pori kain terbuka dan aliran udaranya makin besar.

Pada masker medis atau masker N95, serat dan benangnya akan tersusun rapat sehingga partikulat bakteri dan virus bisa tertahan namun memang pemakainya menjadi tak nyaman.

"Kalau aliran udara besar memang lebih nyaman tapi efektivitas penyaringan bakteri atau virus biasanya lebih turun," sebutnya.

Walaupun serat dan bahannya tak serapat masker medis atau masker N95, masyarakat tetap bisa menggunakan masker kain karena umumnya memiliki daya saring partikel 50 hingga 80 persen.

"Untuk penggunaan sehari-hari di masyarakat yang tidak kontak langsung, cukup membantu untuk mencegah walau kemampuannya kecil," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar