Selasa, 19 Mei 2020

Mantan Bos Streaming Disney Jadi CEO Tik Tok

 ByteDance mengeluarkan pengumuman penting. Mereka baru saja menunjuk Kevin Mayer sebagai Chief Executive Officer (CEO) CEO Tik Tok.
Kevin bukanlah nama baru di industri digital. Sosoknya dikenal sebagai bos dari layanan streaming Disney.

Selain sebagai CEO Tik Tok, Kevin memangku jabatan sebagai Chief Operating Officer (COO) ByteDance.. Kevin akan melapor langsung ke founder dan CEO ByteDance Yiming Zhang.

Kevin ditugasi mengemudikan pengembangan global ByteDance. Dia pun diminta mengawasi fungsi perusahaan termasuk pengembang perusahaan, penjualan, pemasaran, urusan publik, keamanan, moderasi dan legal.

"Dalam perannya sebagai COO, Kevin akan memimpin musik, gaming, Helo, bisnis baru, dan akan berfungsi sebagai CEO TikTok, memimpin platform yang berkembang pesat karena terus membangun komunitas global dari krator, pengguna, dan brand," terang ByteDance dalam keterangan resmi.

Kevin akan menjalani dua peran barunya efektif 1 Juni mendatang. Dirinya mengaku sangat senang mendapatkan kesempatan besar ini.

"Seperti orang lain, saya terkesan melihat perusahaan membangun sesuatu yang sangat langka di Tik Tok - komunitas global online yang kreatif dan positif - dan saya bersemangat untuk membantu memimpin fase selanjutnya dari perjalanan ByteDance ketika perusahaan terus memperluas cakupan produknya di setiap wilayah di dunia," kata Kevin.

Setelah ditinggal Kevin, Disney pun menunjuk Rebecca Campbell untuk menggantikannya. Rebecca sudah 23 tahun berkarier di Disney, jabatan terakhir yang diemban sebagai Presiden Disneyland Resort.

"Kevin telah memberikan dampak luar biasa pada perusahaan kami selama bertahun-tahun, paling baru sebagai kepala bisnis langsung-ke-konsumen," kata CEO Disney Bob Chapek dalam sebuah pernyataan.

Terus Dicekal AS, Ini Tindakan Huawei

 Sudah cukup lama Amerika Serikat memasukkan Huawei dalam daftar blacklist sehingga tidak diizinkan memakai komponen atau teknologi asal Negeri Paman Sam. Bahkan aturan itu baru-baru ini diperketat. Apa tindakan Huawei?
Rotating Chairman Huawei, Guo Ping, mengaku pihaknya akan terus fokus bergerak maju walaupun sanksi AS membayangi. "Dalam setahun belakangan, banyak teknologi menjadi tidak tersedia bagi kami," katanya di panggung Huawei Global Analyst Summit di Shenzhen.

"Meskipun begitu, Huawei berjuang untuk bertahan dan berusaha untuk melangkah ke depan," lanjutnya.

Ia berharap industri dapat terus bekerja sama. "Industri secara keseluruhan harus bekerja sama untuk memperkuat perlindungan properti intelektual, menjaga kompetisi yang adil, melindungi standar global dan mempromosikan rantai suplai global kolaboratif," cetusnya lagi.

Guo meyakinkan bahwa bisnis Huawei tetap solid. Mereka telah menggelar 1.500 jaringan di lebih dari 170 negara dan melayani 3 miliar orang. Kemudian 600 juta konsumen memakai perangkat pintar Huawei.

"Di 2025, ekonomi digital akan bernilai USD 23 triliun. "Industri ITC masih punya potensi besar. Kita bisa melihat lebih banyak peluang ketimbang tantangan di industri ICT," paparnya.

Huawei pun berencana meneruskan investasinya di tiga area kunci, yaitu konektivitas, komputasi dan perangkat pintar.

"Kami akan bekerja dengan pelanggan, mitra, organisasi standarisasi dan semua pemain industri di domain seperti rantai suplai untuk mendorong kolaborasi terbuka dan mengeksplorasi masa depan bersama," tutur dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar