Dunia traveling memiliki begitu banyak sisi unik. Mulai dari penerbangan hingga kebiasaan warga lokal, inilah puluhan fakta yang terbilang mengejutkan itu.
Diberitakan Lonely Planet, keunikan dunia traveling yang pertama adalah adanya penerbangan terpendek di dunia. Lalu, ada negara yang tak memiliki sungai hingga topping pizza tak malah paling populer di Swedia.
Tanpa basa-basi lagi, inilah 25 fakta unik dunia traveling yang pasti akan mengejutkanmu.
Hal unik dari kereta api, pesawat, dan mobil:
1. Penerbangan komersial terpanjang di dunia membutuhkan waktu sekitar 30 jam. Maskapai Qantas yang memiliki layanan yang disebut 'Double Sunrise' itu.
Layanan itu beroperasi dari Australia ke Sri Lanka dari tahun 1943-45. Terbang selama 30 jam, penumpang dapat melihat matahari terbit sebanyak dua kali.
Kini penerbangan komersial terpanjang dimiliki oleh Singapore Airlines. Rutenya dari Singapura ke New York dengan rata-rata waktu perjalanan selama 17 jam 50 menit.
2. Penerbangan komersial terpendek membutuhkan waktu kurang dari dua menit. Penerbangan ini beroperasi di antara pulau-pulau Westray dan Papa Westray di Kepulauan Orkney, Skotlandia.
Rata-rata penerbangannya hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah menit. Sedang penerbangan tercepat yang pernah direkam hanya membutuhkan waktu kurang dari 50 detik.
3. Kereta api di Jepang membagikan sertifikat jika terlambat lebih dari lima menit. Pembagian sertifikat ini sebagai komitmen mereka sebagai yang paling tepat waktu di dunia.
Sertifikat keterlambatan dapat diperlihatkan kepada bos atau guru untuk menjelaskan keterlambatan penumpang. Sertifikat keterlambatan juga dikeluarkan oleh operator kereta di Jerman dan di Paris.
Selamatkan Diri dari Corona, Suku Asli Malaysia Lari ke Hutan
Orang Asli yang merupakan penduduk asli Malaysia memilih lari ke hutan usai seorang bocah berusia 3 tahun terinfeksi Corona. Bocah ini tinggal di luar Cameron Highlands, yang merupakan tempat wisata populer di Malaysia.
Setelah salah seorang warganya positif Corona, mereka menutup perbatasan desa dan memutuskan tinggal di hutan yang dianggap lebih aman.
"Kami kembali ke hutan, untuk mengisolasi diri kami sendiri dan mendapatkan makanan untuk kami sendiri," kata salah satu penduduk desa sekaligus aktivis, Bedul Chemai, melalui sambungan telepon dan dikutip Reuters.
"Kami tahu cara mendapatkan makanan dari hutan dan kami bisa menanam di sini," dia menambahkan.
Kendati dipercaya merupakan kelompok tertua yang menghuni Semenanjung Malaysia, Orang Asli merupakan suku yang miskin dan kondisinya paling rentan di Malaysia. Populasi suku ini mencapai 200 ribu orang.
Selain ancaman Corona, Orang Asli juga terancam mengalami kelaparan karena lahan mereka terus berkurang setiap tahunnya. Lahan-lahan itu dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit atau dimanfaatkan perusahaan kayu dengan membabati hutan tempat mereka mencari makan.
"Di beberapa desa, mereka bahkan tidak bisa pergi ke hutan untuk mencari makan," kata Ili Nadiah Dzulfakar dari Klima Action Malaysia, bagian dari kelompok yang mengumpulkan uang untuk membantu Orang Asli.
"Seorang tetua desa mengatakan kepada saya bahwa mereka akan mati karena virus atau mati karena kelaparan," ujar Ili Nadiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar