Senin, 06 April 2020

Selamatkan Diri dari Corona, Suku Asli Malaysia Lari ke Hutan

 Orang Asli yang merupakan penduduk asli Malaysia memilih lari ke hutan usai seorang bocah berusia 3 tahun terinfeksi Corona. Bocah ini tinggal di luar Cameron Highlands, yang merupakan tempat wisata populer di Malaysia.
Setelah salah seorang warganya positif Corona, mereka menutup perbatasan desa dan memutuskan tinggal di hutan yang dianggap lebih aman.

"Kami kembali ke hutan, untuk mengisolasi diri kami sendiri dan mendapatkan makanan untuk kami sendiri," kata salah satu penduduk desa sekaligus aktivis, Bedul Chemai, melalui sambungan telepon dan dikutip Reuters.

"Kami tahu cara mendapatkan makanan dari hutan dan kami bisa menanam di sini," dia menambahkan.

Kendati dipercaya merupakan kelompok tertua yang menghuni Semenanjung Malaysia, Orang Asli merupakan suku yang miskin dan kondisinya paling rentan di Malaysia. Populasi suku ini mencapai 200 ribu orang.

Selain ancaman Corona, Orang Asli juga terancam mengalami kelaparan karena lahan mereka terus berkurang setiap tahunnya. Lahan-lahan itu dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit atau dimanfaatkan perusahaan kayu dengan membabati hutan tempat mereka mencari makan.

"Di beberapa desa, mereka bahkan tidak bisa pergi ke hutan untuk mencari makan," kata Ili Nadiah Dzulfakar dari Klima Action Malaysia, bagian dari kelompok yang mengumpulkan uang untuk membantu Orang Asli.

"Seorang tetua desa mengatakan kepada saya bahwa mereka akan mati karena virus atau mati karena kelaparan," ujar Ili Nadiah.

Namun, pemberian bantuan bagi Orang Asli juga tak mudah. Misalnya salah satu upaya pemerintah memberikan makanan pada sekitar 50 ribu keluarga Orang Asli telah ditolak sebab kelompok ini yang cenderung menutup diri.

Berdasarkan laporan dari Channel News Asia, selain Orang Asli, beberapa suku pedalaman di Australia, Kanada, dan Brasil juga telah menutup perbatasan untuk melindungi kelompok mereka.

Dulu Dicerca, Kini Gaya Hidup 'Hikikomori' ala Jepang Dielukan

Jauh sebelum pandemi corona menyerang, Jepang mempunyai gaya hidup 'hikikomori' atau mengurung diri dan main game di kamar. Dulu dihina, sekarang dielukan.
Tak hanya ramai di Indonesia, pandemi corona juga menjadi perhatian di Negeri Sakura Jepang. Seperti di sini, Pemerintah Jepang pun sudah mengimbau warganya untuk melakukan isolasi diri demi mencegah penyebaran virus corona.

Beragam upaya pun dilakukan, termasuk mempropagandakan kembali gaya hidup 'hikikomori' yang sempat dikritik karena dianggap sangat anti sosial. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (6/4/2020), dalam bahasa Jepang 'hikikomori' berarti menyendiri atau membatasi diri seperti diberitakan media SoraNews24.

Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, 'hikikomori' adalah istilah bagi orang-orang yang tidak ingin pergi keluar rumah. Dengan demikian, mengisolasi diri mereka dari masyarakat selama lebih dari enam bulan.

Dalam prosesnya, 'hikikomori' merupakan istilah untuk sebuah masalah sosial yang dipicu oleh gangguan mental (kecemasan dan depresi), wabah trend, kebiasaan berperilaku, lingkungan traumatik, pemasungan dan seterusnya.

Hanya di tengah pandemi corona seperti sekarang, Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLITT) membuat sebuah dewan khusus gawat darurat bertajuk 'Organisasi Studi Soliter dan Selibat' yang bertugas menerapkan strategi karantina diri.

Untuk menjalankan dewan khusus itu, Pemerintah Jepang pun menunjuk seorang pelaku 'hikikomori' bernama Dakura Maki asal Tokyo (34). Diketahui, Maki telah menerapkan gaya hidup itu selama 16 tahun lamanya di rumah orang tuanya. Singkat kata, Maki sudah 16 tahun tak keluar rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar