Jumat, 10 April 2020

Kecemasan WNI Setelah Virus Corona Mewabah di California

 Andini Safitri, salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) di California, berbagi pengalaman saat negara itu terkena wabah virus Corona. Seperti apa situasi di sana?
Andini tinggal di Koreatown, California. Dia bilang kawasan itu sepi kini. Tak ada lagi mobil lalu-lalang, bahkan barbeque yang menjadi salah satu aktivitas lazim di area itu tak lagi ada.

Ya, sejak virus Corona dinyatakan sebagai wabah oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), Gubernur California, Gavin Newsom, langsung mengimbau warga untuk tinggal di rumah. Dia menjadi gubernur pertama di antara pemimpin negara bagian lainnya di AS yang menyerukan imbauan itu.

"Itu menyusul keputusan Gubernur Gavin Newsom yang mengimbau warga agar tetap diam di rumah terkait perkembangan Coronavirus atau COVID-19 di Amerika Serikat," kata Andini.

"Sejak itu, pemerintah setempat mengimbau masyarakat di California untuk tidak keluar rumah, kecuali untuk memenuhi kebutuhan esensial seperti halnya ke rumah sakit dan membeli kebutuhan rumah tangga," dia menambahkan.

Berbagai tempat seperti bioskop, club malam dan gym ditutup, semua tempat makan hanya menyediakan drive thru, delivery dan take out. Selain itu, perkumpulan atau acara yang melibatkan lebih dari 10 orang pun dilarang oleh pemerintah. Tempat hiburan seperti Disneyland dan Universal Studio juga ditutup hingga keadaan membaik.

"Berbagai konser pun ditunda, padahal saya sudah membeli tiket konser band favorit, terpaksa saya refund tiketnya. Bahkan, kini pantai dan hiking trail pun kena imbas penutupan," kata perempuan berusia 27 tahun itu.

Andini mengakui beberapa hari pertama sejak imbauan pemerintah setempat, keadaan cukup mencemaskan. Utamanya bagi mereka yang memiliki kecemasan tiba-tiba.

"Saya ingat betul salah satu teman saya sempat mengalami panic attack saat COVID-19 menjalar ke Amerika. Saya ingat betapa dia begitu panik melihat berita yang menunjukan betapa bahayanya COVID-19 hingga sulit tidur dan bahkan sampai mual," kata Andini.

"Pada awalnya saya masih santai bahkan saat menghadapi teman saya, namun ketika melihat rak-rak yang kosong akibat banyak orang yang panic buying, saya pun merasa cemas. Cemas akan nasib kebutuhan saya ke depan," ujar Andini.

Andini bilang beberapa masyarakat melakukan panic buying, utamanya untuk kebutuhan utama, seperti tisu toilet, hand sanitizer, disinfektan, air minum dan berbagai macam tisu. Bahkan, ada kalanya makanan instan di beberapa supermarket pun menipis.

Untuk masuk ke dalam supermarket saja harus antre panjang. Bahkan, tak sedikit diberitakan masyarakat yang berebutan kebutuhan rumah tangga di supermarket.

"Beruntung saya tidak sampai mengalami kejadian seperti ini," kata Andini.

Hari pun berganti, perkembangan COVID-19 memang tidak kunjung mereda, angka terus bertambah. Bahkan, saat ini Amerika Serikat memiliki jumlah kasus yang lebih banyak dibandingkan dengan negara lainnya.

Hingga Rabu (8/4/2020) waktu setempat, situs Centers for Disease Control and Prevention, mengkonfirmasi 395.011 COVID-19 di Amerika Serikat dengan jumlah meninggal dunia 12.754 orang.

Sementara itu, California menempati urutan ke-4 kasus terbanyak di Amerika Serikat, dengan total kasus 14,336 dan total kematian 343 menurut situs Departemen Kesehatan California.

"Jika melihat perkembangan kasus ini pun rasanya saya menjadi mual. Begitu banyak angka yang terus bertambah. Bahkan pemerintah menghimbau untuk bersiap jika keadaan akan semakin memburuk. Sulit rasanya melihat pemberitaan di setiap lini masa," kata Andini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar