Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir melaporkan informasi terbaru terkait pengadaan vaksin Corona untuk vaksinasi gotong royong. Saat ini pihaknya tengah melakukan negosiasi dengan produsen vaksin Sinopharm dan Moderna.
"Untuk suplainya sendiri kita berharap akhir Maret ini atau awal April yang dari Sinopharm segera akan datang sekitar 500 ribu dosis, tapi sampai Juni nanti total sekitar 15 juta dosis," kata Honesti dalam konferensi pers BNPB, Selasa (9/3/2021).
"Kita punya opsi untuk menambah 15 juta dosis lagi kalau memang kebutuhannya masih ada," tambahnya.
Lebih lanjut, kata Honesti, untuk vaksin Corona buatan Moderna direncanakan akan didatangkan sebanyak 5,2 juta dosis. Meski begitu, Honesti belum bisa menyampaikan kapan tepatnya vaksin Moderna tiba di Indonesia.
"Untuk yang Moderna kita sudah ada pembicaraan untuk bisa mendatangkan sekitar 5,2 juta dosis," ucapnya.
Sementara untuk harganya sendiri, Honesti mengatakan nantinya akan ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. "Tentunya kita masih melakukan proses negosiasi untuk mendapatkan harga yang memang lebih terjangkau untuk perusahaan-perusahaan tersebut," jelasnya.
Berdasarkan Permenkes Nomor 10 Tahun 2021, pengadaan vaksin gotong royong akan ditanggung oleh pihak pengusaha. Namun, vaksin ini akan digratiskan untuk para karyawannya.
Vaksin Corona yang digunakan pun harus berbeda dari yang dipakai dalam program pemerintah, yakni vaksin buatan Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer.
https://indomovie28.net/movies/momentum-2/
CDC Sebut Efek Samping Vaksin COVID-19 Lebih Banyak Dialami Perempuan
Sebuah studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan efek samping dari vaksin COVID-19 lebih banyak dialami perempuan. Ini diketahui setelah menganalisis data lebih dari 13 juta penerima vaksin COVID-19, dan 61,2 persen di antaranya diberikan pada perempuan.
Hasilnya, hampir 7.000 orang mengalami efek samping seperti sakit kepala, kelelahan, dan pusing setelah menerima vaksin. Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya adalah perempuan.
Studi lainnya yang dipublikasi di JAMA juga menunjukkan bahwa reaksi alergi akibat vaksin juga lebih mungkin terjadi pada perempuan. Penelitian ini dilakukan pada 64 ribu penerima vaksin Pfizer-BioNTech dan 38 ribu penerima vaksin Moderna.
Studi tersebut menunjukkan, reaksi alergi akut terjadi pada 1.365 penerima (2,1 persen) vaksin. Sementara itu, reaksi syok anafilaksis atau alergi parah dialami sebanyak 16 orang, di mana 15 orang (94 persen) di antaranya adalah perempuan.
Menurut Sabra Klein, ahli mikrobiologi dan imunologi dari Johns Hopkins Bloomberg, hasil temuan CDC ini sesuai dengan laporan dari studi vaksin lain.
"Sama sekali tidak terkejut. Perbedaan jenis kelamin ini konsisten dengan laporan vaksin lain di masa lalu," kata Klein yang dikutip dari Insider, Rabu (10/3/2021).
Studi yang dipublikasikan pada 2013 lalu tersebut menunjukkan bahwa perempuan lebih berisiko mengalami reaksi setelah mendapatkan vaksin flu.
Melihat ini, Klein mengingatkan agar para perempuan tidak perlu merasa khawatir dengan efek samping yang muncul setelah menerima vaksin. Sebab, efek yang muncul tersebut bisa meningkatkan respons dari kekebalan tubuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar