Sejak virus Corona COVID-19 mewabah di dunia, virus ini telah mengalami banyak mutasi dalam rangka bertahan hidup. Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah dapat menurunkan sensitivitas dari alat tes PCR (polymerase chain reaction).
Seperti diketahui, tes PCR merupakan gold standard untuk mendeteksi COVID-19, karena tingkat sensitivitasnya yang tinggi. Namun, bagaimana jika virus ini bermutasi dan menjadi tidak terdeteksi oleh tes PCR?
"Itu yang kita khawatirkan dengan PCR tidak terdeteksi, jadi negatif," ucap Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Subandrio, dalam siaran BNPB, Jumat (12/3/2021).
Meski begitu, Prof Amin mengatakan untuk varian baru Corona yang ada saat ini, tes PCR masih mampu untuk mendeteksinya sehingga tidak perlu dimodifikasi.
"Saat ini belum (ada pemikiran untuk mengubah PCR). Memang dikhawatirkan akan ada penurunan, tapi penurunannya belum signifikan. Jadi belum dianggap perlu untuk merubah PCR-nya," jelasnya.
Sebelumnya, Prof Amin menjelaskan bahwa dari sekian banyak mutasi pada virus, hanya 4 persen yang menyebabkan virus tersebut menjadi lebih berbahaya. "Artinya, menyebabkan perubahan yang lebih signifikan," ucapnya.
Sejumlah hasil dari mutasi virus Corona yang dilaporkan menjadi lebih berbahaya adalah varian B117 dari Inggris, yang disebut 70 persen lebih menular. Varian lain adalah B1351 asal Afrika Selatan yang dicurigai dapat 'menghindar' dari antibodi.
https://nonton08.com/movies/leslie-jones-time-machine/
Hari Perempuan Internasional, Google Beri Rp 359 Miliar
- Google akan memberikan uang senilai USD 25 juta atau sekitar Rp 358 miliar dalam bentuk beasiswa kepada lembaga non-profit. Hal ini bertujuan untuk mengatasi adanya ketidakadilan terkait ekonomi yang kerap dihadapi oleh wanita dan anak-anak perempuan.
Ini juga sebagai upaya Google.org dalam program Impact Challenge. Impact Challenge sendiri adalah cara Google untuk memberikan uang dan dukungan kepada lembaga non-profit yang memiliki ide untuk berupaya memecahkan masalah. Impact Challenge sebelumnya mencakup topik-topik seperti kecerdasan buatan dan perubahan iklim.
Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, raksasa teknologi ini menyerukan aplikasi untuk inisiatif amal yang berfokus pada apa pun mulai dari hambatan menuju kesetaraan ekonomi hingga menumbuhkan kewirausahaan.
"Wanita dan pria tetap berada pada pijakan yang tidak setara - dan ketidaksetaraan ini telah memburuk setelah COVID-19," kata Jacquelline Fuller, presiden badan amal Google yaitu Google.org seperti dilansir detikINET dari CNET, Senin (8/3/2021).
Fuller mengutip statistik dari Pusat Hukum Wanita Nasional yang menunjukkan bahwa perempuan di AS saja telah kehilangan lebih dari 5,4 juta pekerjaan pada tahun 2020.
Sejak pandemi virus COVID-19 dimulai, organisasi lain juga telah menyuarakan kewaspadaan tentang kerugian yang dialami perempuan. Sebuah laporan bulan September dari McKinsey & Company memperingatkan bahwa pandemi dapat membatalkan kemajuan selama enam tahun bagi wanita di tempat kerja.
Untuk mendapatkan beasiswa ini, para wanita bisa melamar dan akan dinilai oleh Peraih Penyair Pemuda AS Amanda Gorman, Chief Diversity Officer Google Melonie Parker dan musisi Shakira.
Batas waktu untuk mendaftar adalah 9 April dan penerima beasiswa ini bisa mendapatkan antara sekitar USD 300.000 dan USD 2 juta, serta dukungan non-moneter seperti bimbingan dari Google.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar