Varian Corona B117 sudah ditemukan di beberapa wilayah Indonesia termasuk DKI Jakarta. Beberapa kasus di antaranya tercatat sejak Januari lalu.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio menyebut, total 6 sampel Corona B117 di Indonesia. Selain DKI Jakarta, kasus tersebar di Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.
Mungkinkah Corona B117 sebenarnya sudah mendominasi?
Menurut Prof Amin, belum ada data yang cukup kuat untuk menyimpulkan Corona B117 sudah mendominasi. Hingga saat ini, dari lebih 500 sampel yang disequens, baru ada 6 laporan Corona B117.
"Kalau kita sudah punya ribuan ya mungkin proporsinya akan berubah, tapi saat ini kita masih belum bisa konfirmasi apakah mendominasi atau tidak atau menyebarnya sudah sampai mana belum cukup datanya," beber Prof Amin.
Maka dari itu, Prof Amin menargetkan tahun ini bisa melakukan sequens pada 10 ribu virus, untuk melihat seberapa jauh penyebaran Corona B117. Sejauh ini, hal yang paling menonjol pada Corona B117 adalah varian yang terbukti lebih cepat menular.
Apakah artinya satu orang bisa menularkan Corona ke dua hingga tiga orang atau lebih?
"Yang dikhawatirkan itu, angka reproduksinya jadi semakin tinggi hanya saja secara epidemiologi itu belum ada bukti ilmiah yang kuat," jelas Prof Amin.
Sebelumnya, Riza Arief Putranto, peneliti genomik molekuler dan anggota Konsorsium COVID-19 Genomics UK, mengatakan bahwa varian Corona B117 berpotensi menggantikan varian dominan saat ini. Jika benar menjadi varian dominan, maka siklus pandemi bisa berulang.
"B117 itu lebih cepat, kemungkinan besar hampir peneliti-peneliti besar di dunia memprediksi varian ini akan menggantikan varian yang dominan saat ini," beber Riza dalam diskusi CISDI, Sabtu (6/3/2021).
"Kalau dia dominan, lebih cepat, risikonya apa, akan lebih banyak orang ke rumah sakit, akan berulang lagi siklus yang kita alami di awal dulu pandemi," sebutnya.
https://indomovie28.net/movies/love-for-sale-2/
2,6 Persen Anak Indonesia Punya 'Bakat' Stunting, Ini Sebabnya
Stunting masih menjadi masalah yang cukup serius di Indonesia. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr Hasto Wardoyo, SpOG, mengatakan sekitar 22,6 persen anak Indonesia memiliki 'bakat' stunting. Kok bisa?
"Kita ini punya 'bakat' stunting itu sejak awal. Ternyata bayi yang lahir, data Riskesdas 2018 menunjukkan ada sekitar 22,6 persen bayi yang lahir panjang badannya di bawah standar. Itu kan sudah 'bakat' untuk stunting," jelas dr Hasto.
Panjang dan berat badan bayi baru lahir kerap dijadikan tolak ukur kesehatan bayi. Ukuran panjang bayi normal berkisar antara 48-52 cm dan berat 2,5-3,5 kg. Kurang dari itu, maka anak berpotensi mengalami gagal tumbuh.
"Panjang badan ideal bayi ketika lahir adalah 48 hingga 52 cm. Bayi yang lahir kurang dari 48 cm bisa berpotensi stunting," bebernya.
dr Hasto menyoroti makin terjadi peningkatan anak dengan tinggi di bawah standar mengalami peningkatan menuju 1.000 hari kehidupan. Gangguan pertumbuhan linier atau tinggi badan tidak mencapai standar, merupakan salah satu masalah gizi yang bisa menjadi indikasi stunting.
"Setelah disusui selama 6 bulan dan diperiksa lagi, ternyata ukuran badan yang tidak sesuai dengan umurnya meningkat menjadi 23 persen. setelah diberi mpasi, sampai 23 bulan mendekati hpk, ternyata tinggi badan yang tidak sesuai umur bertambah menjadi 30,7 persen," jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar