Pernah viral di 2017, Siti Raisa Miranda alias Echa (17) kembali jadi perbincangan karena kondisinya. Gadis asal Kalimantan Selatan ini mengidap kondisi yang membuatnya bisa tidur berhari-hari.
Menurut Mulyadi, ayahnya, Echa sempat dirawat di RSUD Dr Ansari Saleh Banjarmasin setelah tiga hari tidak bangun dari tidur. Namun karena pemeriksaan medis menunjukkan kondisinya normal-normal saja, Echa dibawa pulang ke rumah.
Selama tidur berhari-hari, Echa mendapat asupan nutrisi dengan cara disuapi oleh orang tuanya.
Kondisi ini bukan kali pertama dialami Echa. Pada 2017, kisahnya sempat viral dan dikaitkan dengan hipersomnia. Berdasarkan ciri-cirinya, sejumlah netizen mengaitkannya dengan sindrom putri tidur atau Kleine-Levin Syndrome.
Pakar kesehatan tidur dari Snoring & Sleep Disorder Clinic Pondok Indah, dr Andreas Prasadja, RPSGT, ketika itu menjelaskan bahwa Kleine-Levin Syndrome merupakan kondisi yang ditandai dengan penyakit hipersomnia periodik. Artinya, pengidapnya bisa tertidur dalam jangka waktu sangat lama.
"Di Indonesia belum pernah (ada sindrom Kleine-Levin), kali ini baru yang pertama yang saya tahu. Kasusnya sangat jarang, dan pengobatannya pun belum ada yang pas," ujar dokter yang juga praktik di Rumah Sakit Mitra Kemayoran tersebut, Kamis (26/12/2017).
https://tendabiru21.net/movies/the-second-mother-2/
Dikaitkan dengan Echa 'Putri Tidur' dari Kalsel, Apa Itu Hipersomnia?
Echa si 'Putri Tidur' dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan kembali jadi perbincangan karena kondisi hipersomnia yang diidapnya. Sebagaimana pernah dialaminya pada 2017, kini ia kembali tertidur hingga 13 hari.
Kondisi Echa dikaitkan dengan sindrom langka, yaitu sindrom Kleine-Levin. Sindrom ini merupakan penyakit hipersomnia periodik yang bisa membuat pengidapnya tertidur dalam jangka waktu lama.
Apa sih hipersomnia itu?
Hipersomnia adalah kondisi yang membuat kamu merasa mengantuk yang berlebihan pada siang hari. Kondisi ini juga dapat terjadi meski kamu sudah tidur dalam waktu yang lama. Hipersomnia dapat disebut dengan excessive daytime sleepiness (EDS).
Dikutip dari laman Healthline, ada dua jenis hipersomnia yang didasarkan pada faktor penyebab, yaitu primer dan sekunder.
Hipersomnia primer disebabkan karena adanya gangguan fungsi sistem saraf pusat dalam yang berfungsi mengatur waktu untuk terjaga dan terlelap. Kondisi ini bisa membuat si penderita bisa merasakan kantuk secara tiba-tiba. Mereka bisa merasakan kantuk pada siang hari meskipun waktu tidur pada malam sudah terpenuhi.
Sedangkan pada sindrom hipersomnia sekunder lebih cenderung disebabkan oleh rasa lelah akibat kekurangan waktu tidur tidur pada malam hari. Namun, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh adanya riwayat penyakit kronis dan dampak dari konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu.
Siapa yang berisiko mengalami hipersomnia?
Orang dengan kondisi yang membuat mereka lelah di siang hari paling berisiko mengalami hipersomnia ini. Kondisi ini pun termasuk apnea tidur, kondisi ginjal, kondisi jantung, kondisi otak, depresi atipikal, dan fungsi tiroid yang rendah.
American Sleep Association mengatakan bahwa kondisi tersebut lebih mempengaruhi pria daripada wanita.
Orang yang minum alkohol dan merokok secara teratur juga berisiko mengalami hipersomnia. Selain itu, obat yang menyebabkan kantuk dapat memiliki efek samping yang mirip dengan hipersomnia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar