Seorang wanita menyamar menjadi perawat di Brasil terancam dibui belasan tahun setelah diduga memberikan vaksin COVID-19 palsu ke perusahaan dan menghasilkan keuntungan hingga Rp 80 juta.
Dikutip dari laman The Sun, perawat bernama tersebut Claudia Monica Pinheiro Torres dituduh menyamar sebagai perawat dan memberikan suntikan vaksin COVID-19 palsu kepada pengusaha seharga Rp 1,5 juta per suntikan di Belo Horizonte, Brasil.
Polisi Federal, yakin perawat palsu tersebut telah memberikan suntikan vaksin COVID-19 palsu kepada setidaknya pada 57 orang bulan lalu.
Perempuan yang berprofesi sebagai pengasuh lansia ini berpura-pura menjadi perawat meski tidak ada catatan mengenai dirinya di Dewan Keperawatan Daerah Minas Gerais.
Rekaman CCTV menunjukkan, Torres mengenakan baju perawat dan memasuki sebuah rumah mewah pada 17 Maret lalu, di mana diyakini memberikan saline alih-alih vaksin kepada pengusaha kaya.
Menurut outlet media setempat, ada catatan dia memasuki properti di lingkungan Gutierrez, di wilayah barat ibu kota pada 5 dan 22 Maret lalu.
Selain mengunjungi rumah-rumah mewah, Torres disebutkan juga telah memberikan suntikan vaksin kepada 40 orang lainnya di garasi bus perusahaan.
Wanita tersebut pun dituduh memalsukan, merusak, atau mengubah produk yang dimaksudkan untuk tujuan terapeutik atau pengobatan.
Awal pekan ini sebuah laporan yang dilihat oleh TV Globo menegaskan bahwa cairan yang ditemukan di rumah wanita itu sebenarnya adalah garam, bukan vaksin.
https://tendabiru21.net/movies/wolfpack/
Gadis Kalsel Tertidur Sampai 13 Hari, Hipersomnia atau Sindrom Putri Tidur?
Pernah viral di 2017, Siti Raisa Miranda alias Echa (17) kembali jadi perbincangan karena kondisinya. Gadis asal Kalimantan Selatan ini mengidap kondisi yang membuatnya bisa tidur berhari-hari.
Menurut Mulyadi, ayahnya, Echa sempat dirawat di RSUD Dr Ansari Saleh Banjarmasin setelah tiga hari tidak bangun dari tidur. Namun karena pemeriksaan medis menunjukkan kondisinya normal-normal saja, Echa dibawa pulang ke rumah.
Selama tidur berhari-hari, Echa mendapat asupan nutrisi dengan cara disuapi oleh orang tuanya.
Kondisi ini bukan kali pertama dialami Echa. Pada 2017, kisahnya sempat viral dan dikaitkan dengan hipersomnia. Berdasarkan ciri-cirinya, sejumlah netizen mengaitkannya dengan sindrom putri tidur atau Kleine-Levin Syndrome.
Pakar kesehatan tidur dari Snoring & Sleep Disorder Clinic Pondok Indah, dr Andreas Prasadja, RPSGT, ketika itu menjelaskan bahwa Kleine-Levin Syndrome merupakan kondisi yang ditandai dengan penyakit hipersomnia periodik. Artinya, pengidapnya bisa tertidur dalam jangka waktu sangat lama.
"Di Indonesia belum pernah (ada sindrom Kleine-Levin), kali ini baru yang pertama yang saya tahu. Kasusnya sangat jarang, dan pengobatannya pun belum ada yang pas," ujar dokter yang juga praktik di Rumah Sakit Mitra Kemayoran tersebut, Kamis (26/12/2017).
Dikaitkan dengan Echa 'Putri Tidur' dari Kalsel, Apa Itu Hipersomnia?
Echa si 'Putri Tidur' dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan kembali jadi perbincangan karena kondisi hipersomnia yang diidapnya. Sebagaimana pernah dialaminya pada 2017, kini ia kembali tertidur hingga 13 hari.
Kondisi Echa dikaitkan dengan sindrom langka, yaitu sindrom Kleine-Levin. Sindrom ini merupakan penyakit hipersomnia periodik yang bisa membuat pengidapnya tertidur dalam jangka waktu lama.
Apa sih hipersomnia itu?
Hipersomnia adalah kondisi yang membuat kamu merasa mengantuk yang berlebihan pada siang hari. Kondisi ini juga dapat terjadi meski kamu sudah tidur dalam waktu yang lama. Hipersomnia dapat disebut dengan excessive daytime sleepiness (EDS).
Dikutip dari laman Healthline, ada dua jenis hipersomnia yang didasarkan pada faktor penyebab, yaitu primer dan sekunder.
Hipersomnia primer disebabkan karena adanya gangguan fungsi sistem saraf pusat dalam yang berfungsi mengatur waktu untuk terjaga dan terlelap. Kondisi ini bisa membuat si penderita bisa merasakan kantuk secara tiba-tiba. Mereka bisa merasakan kantuk pada siang hari meskipun waktu tidur pada malam sudah terpenuhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar