Sempat dikenal sebagai atlet bola voli wanita, Serda Aprilia Manganang kini dinyatakan sebagai pria setelah menjalani sejumlah pemeriksaan. Disebut, ia mengidap kondisi yang disebut hipospadia.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jendral Andika Perkasa menyebut, kondisi ini berbeda dengan transgender maupun interseks. Saat ini, TNI AD tengah membantu Aprilia menjalani corrective surgery untuk mempertegas jenis kelaminnya.
Beberapa fakta yang perlu diketahui tentang hipospadia, dikutip dari berbagai sumber, adalah sebagai berikut.
1. Pengertian hipospadia
Dikutip dari Mayo Clinic, hipospadia adalah kelainan bawaan sejak lahir yang ditandai dengan lubang urethra berada di bagian bawah penis, bukan di ujung seperti pada umumnya. Urethra merupakan saluran yang mengalirkan urine dari kandung kemih.
"Pada beberapa anak dengan hipospadia, testis mungkin tidak sepenuhnya turun ke skrotum (kantong buah zakar)," tulis the Centers of Disease Control and Prevention (CDC).
2. Gejala hipospadia
Pada hipospadia, posisi bukaan urethra bisa ada di mana saja. Bisa di pangkal penis, bahkan pada beberapa kasus ada di bawah skrotum. Beberapa gejala yang muncul atau bisa menyertai adalah:
Bentuk penis melengkung ke bawah (chordee)
Bentuk kulup (kulit yang menutupi ujung penis) tidak menutupi kepala penis dengan sempurna
Percikan urine tidak normal saat buang air kecil
3. Penyebab hipospadia
Seperti halnya kelainan bawaan lahir lainnya, para ahli tidak bisa memastikan penyebab pasti hipospadia. Dikutip dari WebMD, beberapa kemungkinan penyebab adalah:
Genetik
Beberapa sindrom genetik dikaitkan dengan kelainan ini. Selain itu, orang tua yang punya riwayat hipospadia punya kemungkinan lebih besar punya keturunan dengan kelainan serupa.
Terapi tertentu
Terapi hormon tertentu untuk membantu kehamilan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko hipospadia.
Usia dan berat badan ibu saat hamil
Risiko melahirkan anak dengan hipospadia lebih tinggi pada ibu hamil dengan usia di atas 35 tahun dan berat badan berlebih atau obesitas. Riwayat diabetes juga meningkatkan risiko.
Paparan racun
Rokok dan pestisida termasuk di antaranya.
4. Operasi untuk hipospadia
Pada beberapa kasus yang ringan, hipospadia tidak membutuhkan operasi. Namun pada beberapa kasus, dibutuhkan corrective surgery untuk memperbaiki posisi bukaan urethra dan meluruskan bentuk penis.
Beberapa kasus hipospadia hanya butuh satu kali corrective surgery, tetapi sebagian membutuhkan beberapa kali operasi.
https://indomovie28.net/movies/madame-aema-2016/
3 Jenis Hipospadia, Kondisi yang 'Mengubah' Aprilia Manganang Jadi Pria
Aprilia Manganang mengidap hipospadia. Kondisi atlet yang sempat dikenal atlet bola voli wanita ini terungkap usai menjalani beberapa pemeriksaan.
Ditegaskan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, kondisi hipospadia yang diidap Aprilia Manganang jelas berbeda dengan transgender dan interseks.
"Sersan Manganang ini bukan transgender, bukan juga interseks. Tidak masuk dalam kategori itu semua. Saya tahu definisinya dan tim dokter pun tahu semua definisinya. Karena memang kelainan yang dialami adalah hipospadia. Jadi selalu kembalikan ke situ," kata Jenderal Andika di Mabes AD, Jalan Veteran, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (9/3/2021).
Hipospadia adalah kelainan sejak lahir saat lubang uretra tidak terletak di ujung penis. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan ada tiga jenis hipospadia yang umumnya ditemui, dari kondisi ringan hingga parah, seperti berikut.
Subcoronal: Lubang uretra terletak di suatu tempat di dekat kepala penis.
Midshaft: Lubang uretra terletak di sepanjang batang penis.
Penoscrotal: Lubang uretra terletak di tempat pertemuan penis dan skrotum.
Apa risikonya mengidap hipospadia?
Beberapa orang yang memiliki kondisi hipospadia ini juga disebut CDC terkadang mepunyai bentuk penis melengkung. Mereka juga memiliki masalah saat buang air kecil, karena keluarnya urin seperti tidak normal.
"Pada beberapa anak laki-laki dengan hipospadia, testis belum sepenuhnya turun ke dalam skrotum. Jika hipospadia tidak ditangani dapat menyebabkan masalah di kemudian hari, seperti kesulitan melakukan hubungan seksual atau kesulitan buang air kecil saat berdiri," jelas CDC.
Siapa yang rentan mengalami hipospadia?
Usia dan berat tubuh: Seorang ibu yang berusia di atas 35 tahun dan obesitas memiliki risiko tinggi melahirkan bayi dengan kondisi hipospadia.
Hormon tertentu: Wanita yang mengonsumsi hormon tertentu sebelum atau selama kehamilan terbukti memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan hipospadia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar