Rabu, 10 Maret 2021

4 Fakta Vaksin AstraZeneca, Efikasi hingga Efek Samping

 Vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca bekerja sama dengan Oxford University telah tiba di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA).

"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat EUA pada tanggal 22 Februari 2021 yang lalu dengan nomor EUA2158100143A1," kata Kepala BPOM Penny K Lukito, Selasa (9/3/2021).


Beberapa fakta yang terangkum seputar pemberian izin vaksin AstraZeneca adalah sebagai berikut.


1. Datang lewat 2 jalur

Sebanyak 1.113.600 dosis vaksin AstraZeneca yang tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021) merupakan tahap awal dari batch pertama pengiriman melalui mekanisme COVAX Facility. Vaksin ini langsung disimpan di gudang PT Bio Farma.


Selain melalui mekanisme COVAX Facility, vaksin AstraZeneca yang menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (ChAdOx 1) ini juga akan didatangkan melalui jalur bilateral oleh PT AstraZeneca Indonesia.


2. Efikasi vaksin

Hasil uji klinis pada pemberian 2 dosis dengan interval 4-12 pekan yang melibatkan 23.745 subjek menunjukkan vaksin AstraZeneca punya kemampuan untuk merangsang pembentukan antibodi baik pada dewasa maupun lansia. Efikasi dihitung dengan 2 dosis standar dihitung sejak 15 hari setalah pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar 2 bulan menunjukkan efikasi 62,1 persen.


Sebagai perbandingan, uji klinis vaksin Corona Sinovac di Bandung baru-baru ini menunjukkan efikasi 65,3 persen. Organisasi kesehatan dunia WHO mensyaratkan efikasi di atas 50 persen untuk bisa digunakan.


3. Belum bisa langsung digunakan

Meski sudah memberikan EUA atau izin penggunaan darurat, BPOM masih akan melakukan pemeriksaan fisik dan sampling terhadap vaksin AstraZeneca. Pemeriksaan antara lain meliputi suhu penyimpanan, kesesuaian batch, tanggal kedaluwarsa, dan sebagainya.


"Sebelum produk siap untuk digunakan, Badan POM melakukan proses pelulusan produk (lot release) dan setelah diberikan pelulusan produk, maka vaksin tersebut siap untuk digunakan dalam program vaksinasi," jelas Penny.


4. Efek samping

Sebagaimana produk lain, vaksin AstraZeneca juga dilaporkan memiliki sejumlah kemungkinan efek samping. Beberapa yang dilaporkan antara lain:


Reaksi lokal

Tenderness

Nyeri saat ditekan

Kemerahan

Gatal dan pembengkakan

Reaksi sistemik ringan

Kelelahan

Sakit kepala

Nyeri otot

Meriang

Nyeri sendi

Mual

Demam

Muntah.

https://indomovie28.net/movies/my-love-my-bride/


4 Fakta Hipospadia, Ambiguitas Kelamin Seperti Dialami Aprilia Manganang


Sempat dikenal sebagai atlet bola voli wanita, Serda Aprilia Manganang kini dinyatakan sebagai pria setelah menjalani sejumlah pemeriksaan. Disebut, ia mengidap kondisi yang disebut hipospadia.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jendral Andika Perkasa menyebut, kondisi ini berbeda dengan transgender maupun interseks. Saat ini, TNI AD tengah membantu Aprilia menjalani corrective surgery untuk mempertegas jenis kelaminnya.


Beberapa fakta yang perlu diketahui tentang hipospadia, dikutip dari berbagai sumber, adalah sebagai berikut.


1. Pengertian hipospadia

Dikutip dari Mayo Clinic, hipospadia adalah kelainan bawaan sejak lahir yang ditandai dengan lubang urethra berada di bagian bawah penis, bukan di ujung seperti pada umumnya. Urethra merupakan saluran yang mengalirkan urine dari kandung kemih.


"Pada beberapa anak dengan hipospadia, testis mungkin tidak sepenuhnya turun ke skrotum (kantong buah zakar)," tulis the Centers of Disease Control and Prevention (CDC).


2. Gejala hipospadia

Pada hipospadia, posisi bukaan urethra bisa ada di mana saja. Bisa di pangkal penis, bahkan pada beberapa kasus ada di bawah skrotum. Beberapa gejala yang muncul atau bisa menyertai adalah:


Bentuk penis melengkung ke bawah (chordee)

Bentuk kulup (kulit yang menutupi ujung penis) tidak menutupi kepala penis dengan sempurna

Percikan urine tidak normal saat buang air kecil

3. Penyebab hipospadia

Seperti halnya kelainan bawaan lahir lainnya, para ahli tidak bisa memastikan penyebab pasti hipospadia. Dikutip dari WebMD, beberapa kemungkinan penyebab adalah:


Genetik

Beberapa sindrom genetik dikaitkan dengan kelainan ini. Selain itu, orang tua yang punya riwayat hipospadia punya kemungkinan lebih besar punya keturunan dengan kelainan serupa.


Terapi tertentu

Terapi hormon tertentu untuk membantu kehamilan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko hipospadia.


Usia dan berat badan ibu saat hamil

Risiko melahirkan anak dengan hipospadia lebih tinggi pada ibu hamil dengan usia di atas 35 tahun dan berat badan berlebih atau obesitas. Riwayat diabetes juga meningkatkan risiko.


Paparan racun

Rokok dan pestisida termasuk di antaranya.

https://indomovie28.net/movies/operation-chromite/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar