Rabu, 03 Maret 2021

Gunung Es yang Lebih Besar dari Jakarta Terbelah di Antartika

  - Gunung es berukuran raksasa terbelah dari lapisan es Brunt Ice Shelf di Antartika, tidak jauh dari markas penelitian negara Inggris, British Antartic Suvey (BAS). Besarnya diestimasi 1.270 kilometer persegi, sekitar dua kali ukuran DKI Jakarta dan tebalnya 150 meter.

Gunung es tersebut sudah terpantau retak sejak November 2020 dan retakannya itu terus memanjang sampai akhirnya benar-benar terbelah. Jadi, ilmuwan memang sudah memperkirakan kejadian ini walaupun tetap masih bikin takjub.


Retakan yang terjadi tumbuh sekitar 1 kilometer per hari hingga kemudian benar-benar terpecah dari intinya. "Tim kami di BAS telah bersiap untuk peristiwa ini selama bertahun-tahun," kata Direktur BAS, Jane Francis.


Bahkan di tahun 2016, lokasi penelitian mereka dijauhkan dari lokasi itu untuk mencegah kemungkinan terburuk. Di kemudian hari, para staff hanya bekerja selama musim panas karena jika harus dilakukan evakuasi karena gunung es terbelah itu, akan sulit dilakukan di musim dingin.

"Ini adalah situasi yang dinamis. Empat tahun silam, kami memindahkan Halley Research Station untuk memastikan ia tidak ikut terbawa saat gunung es terbentuk. Itu adalah keputusan yang bijak," sebut direktur operasional BAS, Simon Garrod.


Tim ilmuwan Inggris saat ini terus mengamati pergerakan gunung es itu dengan perangkat GPS dan juga citra satelit. Peristiwa semacam ini disebut sebagai sesuatu yang alami dan juga kecil kemungkinannya disebabkan oleh perubahan iklim.


"Dalam beberapa minggu mendatang, gunung es itu mungkin bergerak menjauh atau terdampar dan tetap dekat jaraknya dengan Brunt Ice Shelf," sebut Francis yang dikutip detikINET dari CNN, Senin (1/3/2021).


Ada kemungkinan juga terbelahnya gunung es berukuran masif ini akan memicu bagian lain dari lapisan es untuk terpecah. "Waktu yang akan memberitahu apakah hal ini akan memicu lebih banyak kepingan terpecah dalam beberapa hari atau minggu," kata Prof Adrian Luckman dari Swansea University.

https://nonton08.com/movies/the-model/


Kecerdikan WhatsApp Meredam Signal dan Telegram


 Aturan privasi baru WhatsApp yang kontroversial membuat banyak orang berpaling pada layanan pesaing, utamanya Telegram dan Signal. Akan tetapi WhatsApp tidak tinggal diam dan pada akhirnya, dinilai mampu meredam gejolak ini.

WhatsApp sebelumnya mungkin tak menduga aturan privasi baru itu meresahkan user, utamanya karena kebijakan berbagi data dengan Facebook. Download Telegram dan Signal pun langsung melesat, pengguna mereka tumbuh jutaan dan menempati ranking satu aplikasi terpopuler di sejumlah negara.


WhatsApp pun mulai sadar dan gencar melakukan sosialisasi, terutama dengan pesan bahwa pesan pengguna tetap aman karena ada penyandian secara default. Tidak ada yang bisa membaca komunikasi pengguna kecuali pengirim dan penerima.


Di sisi lain, aturan privasi baru itu juga ditunda penerapannya dan konsekuensinya diperlunak. Dari sebelumnya menghapus akun pengguna yang tidak menerima aturan privasi, akhirnya mereka tetap bisa memakai WhatsApp meski fungsi mengirim dan menerima pesan dibatasi jika tetap tidak menerima kebijakan baru di tanggal 15 Mei mendatang.


"WhatsApp saat ini berada di puncak download di iPhone dan Android dan lebih menarik lagi, kompetitornya yang paling serius telah terbenam. Signal meroket setelah kecaman pada WhatsApp, dipicu oleh headline media. Namun keramaian itu telah meredup," sebut Zak Doffman, pakar keamanan siber dalam kolomnya di Forbes seperti dilihat Senin (1/3/2021).


Untuk meredam Signal, WhatsApp tidak menyasar sekuritinya yang memang lebih baik. Namun demikian, sosialisasi terus menerus WhatsApp pada 2 miliar penggunanya bahwa mereka tetap aman, mungkin membuat popularitas Signal semakin menurun.


Beralih ke Telegram yang jumlah penggunanya sudah tembus 500 juta user. WhatsApp pun menyasar titik lemah Telegram, bahwa pesan yang dikirim di aplikasi ini tidak secara default dilindungi oleh enkripsi end to end.

https://nonton08.com/movies/the-hitmans-wifes-bodyguard/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar