Rabu, 10 Maret 2021

Studi: Wanita Lebih Rentan Alami Gejala Long COVID

  Bagi kebanyakan orang, infeksi COVID-19 menyebabkan gejala ringan jangka pendek mungkin tanpa gejala sama sekali. Tetapi beberapa orang memiliki gejala jangka panjang yang disebut Long COVID.

Long COVID ditandai dengan beragam gejala, termasuk sesak napas, kelelahan yang ditandai, sakit kepala, dan hilangnya kemampuan untuk mengecap dan mencium secara normal. Sebuah penelitian terhadap 384 pasien Corona yang dirawat di rumah sakit menunjukkan bahwa 53 persen tetap merasa sesak satu hingga dua bulan kemudian, 34 persen mengalami batuk dan 69 persen melaporkan kelelahan.


Dikutip dari laman The Conversation, penelitian oleh King's Collage London menunjukkan bahwa gejala Covid-19 jangka panjang lebih banyak terjadi pada perempuan ketimbang laki-laki. Temuan ini berasal dari analisis orang yang memasukkan gejala dan hasil tes mereka ke dalam aplikasi Covid Symptom Study.


Sementara pria berisiko mengalami gejala yang lebih parah, wanita yang tampaknya lebih terpengaruh oleh long COVID mungkin mencerminkan status hormon mereka yang berbeda atau berubah.


Reseptor ACE2 yang digunakan SARS-CoV-2 untuk menginfeksi tubuh hadir tidak hanya di permukaan sel pernapasan, tetapi juga di sel-sel dari banyak organ yang menghasilkan hormon, termasuk tiroid, kelenjar adrenal, dan ovarium.


Beberapa gejala long COVID juga disebut tumpang tindih dengan gejala menopause, dan penggantian hormon menggunakan obat-obatan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak gejala. Hanya saja, uji klinis akan sangat penting untuk menentukan secara akurat apakah pendekatan ini aman dan efektif.


Selain itu, studi tersebut juga mengamati sampel dari 200 pasien yang sembuh dari COVID-19. Terlepas dari gendernya, mereka menemukan kerusakan organ ringan di jantung 32 persen, di paru-paru 33 persen, di ginjal 12 persen. Kerusakan multi organ ditemukan pada 25 persen pasien.

https://indomovie28.net/movies/challenge-game/


4 Fakta Vaksin AstraZeneca, Efikasi hingga Efek Samping


Vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca bekerja sama dengan Oxford University telah tiba di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA).

"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat EUA pada tanggal 22 Februari 2021 yang lalu dengan nomor EUA2158100143A1," kata Kepala BPOM Penny K Lukito, Selasa (9/3/2021).


Beberapa fakta yang terangkum seputar pemberian izin vaksin AstraZeneca adalah sebagai berikut.


1. Datang lewat 2 jalur

Sebanyak 1.113.600 dosis vaksin AstraZeneca yang tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021) merupakan tahap awal dari batch pertama pengiriman melalui mekanisme COVAX Facility. Vaksin ini langsung disimpan di gudang PT Bio Farma.


Selain melalui mekanisme COVAX Facility, vaksin AstraZeneca yang menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (ChAdOx 1) ini juga akan didatangkan melalui jalur bilateral oleh PT AstraZeneca Indonesia.


2. Efikasi vaksin

Hasil uji klinis pada pemberian 2 dosis dengan interval 4-12 pekan yang melibatkan 23.745 subjek menunjukkan vaksin AstraZeneca punya kemampuan untuk merangsang pembentukan antibodi baik pada dewasa maupun lansia. Efikasi dihitung dengan 2 dosis standar dihitung sejak 15 hari setalah pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar 2 bulan menunjukkan efikasi 62,1 persen.


Sebagai perbandingan, uji klinis vaksin Corona Sinovac di Bandung baru-baru ini menunjukkan efikasi 65,3 persen. Organisasi kesehatan dunia WHO mensyaratkan efikasi di atas 50 persen untuk bisa digunakan.

https://indomovie28.net/movies/my-students-mom/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar