Selasa, 05 Mei 2020

373 Staf Pabrik Daging Olahan di AS Positif Corona

 Sebanyak 373 karyawan dan pekerja kontrak pabrik pengolahan daging babi Triumph Foods di Buchanan, County, Missouri, Amerika Serikat dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Departemen Kesehatan dan Layanan Lansia (DHSS) menuturkan ratusan kasus positif Covid-19 itu ditemukan setelah pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap pegawai pabrik daging.

Ratusan pegawai Triumph Foods dinyatakan positif corona meski tidak menunjukkan gejala Covid-19.

"Kami terus bekerja akhir pekan ini untuk menghubungi para pasien tanpa gejala ini dan telah memulai proses pelacakan kontak terhadap siapa saja yang sempat menjalin kontak dekat dengan para pasien ini," ucap Direktur DHSS, Dr. Randall Williams, seperti dilansir CNN.

Melalui pernyataan, DHSS mendorong siapa pun yang merasa pernah menjalin kontak dengan salah satu pasien dari kluster pabrik Triumph Foods, terutama yang mengalami gejala corona, untuk menghubungi layanan kesehatan sesegera mungkin.

Sebelumnya, DHSS juga telah menemukan 120 karyawan pabrik positif Covid-19 pada Kamis pekan lalu.

Hingga Senin (4/5), AS masih menemukan lonjakan kasus corona. Berdasarkan statistik Worldometer, AS masih menjadi negara dengan kasus corona tertinggi di dunia yakni mencapai 1.188.122 kasus dan 68.598 kematian.

Negara bagian New York menjadi wilayah dengan kasus corona tertinggi di AS yakni mencapai 321.833 pasien dan 24.576 kematian. Sementara itu, negara bagian Missouri tercatat memiliki 8.454 kasus dengan 378 kematian sampai sejauh ini.

Australia-Selandia Baru Sepakat Buka 'Gelembung' Perjalanan

 Pemerintah Australia dan Selandia Baru akan membentuk koridor perjalanan antarnegara 'gelembung lintas-Tasman' jelang dibukanya perbatasan kedua negara.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern akan bergabung dalam pertemuan dengan para pejabat Australia pada Selasa (5/5) untuk membahas koridor perjalanan yang memungkinkan negara-negara tetangga mencabut larangan perjalanan antarkedua negara.

"Pertemuan itu akan membahas sejumlah hal yang berkaitan dengan respons Covid-19 di kedua sisi laut Tasman, termasuk pembuatan gelembung perjalanan. Satu hal yang tidak ingin saya lakukan adalah membahayakan posisi Selandia Baru dengan terlalu cepat membuka perbatasan - bahkan ke Australia," ujar Ardern seperti dilansir AFP.

Ia mengatakan gagasan tersebut muncul setelah kedua negara mencatat penurunan signifikan kasus corona baru dalam beberapa pekan terakhir.

Kedua negara menutup akses masuk untuk warga asing mulai Maret lalu yang berimbas pada industri pariwisata. Ardern tak menampik jika hal itu memberi pengaruh signifikan, namun ia tetap harus fokus untuk mengelola penyebaran Covid-19.

"Itu (pariwisata) memang yang kita inginkan, tetapi fokus utama kami saat ini mengelola kasus baru Covid-19 secara lokal sampai pada titik di mana kami bisa percaya untuk membuka kembali kedatangan bagi warga asing," ujarnya.

Ardern menekankan jika saat ini pihaknya masih fokus memerangi virus corona, alih-alih menghidupkan kembali sektor ekonomi dan pariwisata.

Kendati demikian, ia belum dapat memastikan kapan 'gelembung' bisa diterapkan oleh kedua negara. Ia memastikan pertemuan hari ini akan membahas pendekatan kedua negara dalam memerangi Covid-19, termasuk lewat aplikasi pelacakan kontak.

Saat ini Australia dan Selandia Baru masih menerapkan pembatasan perjalanan secara domestik dan mengharuskan warga yang datang dari luar negeri untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Selandia Baru dalam beberapa hari terakhir mulai mengizinkan warga untuk kembali bekerja setelah laporan nihil kasus baru virus corona. Negeri Kiwi mencatat 1.137 kasus corona dengan 20 kematian di tengah lockdown selama lima pekan.

Sementara negara tetangga, Australia juga mulai melonggarkan aturan lockdown di beberapa negara bagian selama akhir pekan lalu. Warga mulai diizinkan beraktivitas di luar ruangan dan melakukan pertemuan dalam jumlah kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar