Pada hari Senin (4/5/2020), kasus global virus Corona COVID-19 yang dicatat oleh Research Center Johns Hopkins University dari berbagai sumber resmi tembus angka 3,5 juta. Dari jumlah tersebut sekitar 1,1 juta pasien dinyatakan sembuh dan 247.326 lainnya meninggal dunia.
Dikutip dari Reuters, jumlah penambahan kasus baru secara global terlihat mengalami perlambatan bila dibandingkan bulan lalu. Dalam waktu 24 jam terakhir Reuters memperkirakan ada 84.004 kasus baru virus Corona di dunia.
Amerika Utara dan Eropa masih jadi daerah yang melaporkan kasus infeksi virus Corona paling banyak. Namun, ada tren peningkatan jumlah kasus yang mengkhawatirkan di Amerika Latin, Rusia, dan Afrika.
Di Indonesia sendiri hingga hari Minggu (3/5/2020) sudah ada 11.192 kasus positif virus Corona. Sebanyak 1.876 orang dinyatakan sembuh dan 845 meninggal dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pandemi ini masih jauh dari berakhir dan memperingatkan negara-negara waspada bila ingin mulai melonggarkan kebijakan pencegahan penularan virus.
Tren Masker Scuba 'Penangkal' Corona dan Tes Tiup Api yang Viral
Masker scuba menjadi salah satu tren baru di tengah pandemi virus Corona COVID-19. Jenis masker kain yang satu ini memang cukup nyaman karena bisa melar atau stretch mengikuti bentuk wajah, selain juga murah meriah.
Namun karena umumnya hanya terdiri dari selapis kain, banyak pula yang meragukan efektivitasnya menangkal partikel, apalagi virus Corona. Karenanya, muncul metode tes yang viral di media sosial belakangan ini, yakni tes tiup api.
"Masker yang baik itu adalah masker yang ketika ada api, ditiup, api dinyalakan di depan masker, terus kita tiup, itu apinya kalau tidak padam berarti bagus," kata seorang netizen dalam salah satu video yang viral.
Disebut masker scuba karena memang terbuat dari bahan scuba, yang merupakan nama lain untuk bahan sintetis neophrene atau polychloroprene. Material atau bahan ini lebih dulu populer untuk membuat pakaian pada penyelam scuba sehingga dinamakan demikian.
Soal kemampuannya menyaring partikel, diakui memang tidak semaksimal masker bedah apalagi N95. Namun dokter paru dari Omni Hospitals Pulomas dr Frans Abednego Barus, SpP, mengatakan tak masalah untuk dipakai selama tetap mengikuti anjuran tentang physical distancing 1-2 meter dan selalu mencuci tangan dengan sabun.
"Nggak masalah asal jarak tetap jaga," tandasnya.
Ini yang Terjadi Jika Sahur Hanya Minum Air Putih Gara-gara Telat Bangun
Terlambat bangun untuk menyiapkan makan sahur, lalu hanya minum air putih? Hmm... bahaya sih tidak, tetapi tetap tidak dianjurkan.
Bangun awal untuk menyiapkan sahur kadang-kadang memang berat. Tetapi hendaknya tidak jadi alasan untuk sahur dengan menu asal-asalan, apalagi cuma minum air putih.
"Minum banyak air tidak akan berarti lebih terhidrasi, karena hanya memberikan manfaat jangka pendek," kata Shugufta M Zubair, seorang pakar keamanan pangan di Dubai, dikutip dari Gulfnews.
"Tentu saja air putih tidak berbahaya, dan itu baik untuk tubuh, tetapi tidak seharusnya melupakan pentingnya sahur," lanjutnya.
Menurutnya, sahur sebaiknya dilakukan dengan tetap memperhitungkan nutrisi yang seimbang. Tetap harus ada karbohidrat, protein, juga sayur mayur.
Karbohidrat dibutuhkan untuk memberikan energi sepanjang hari, sedangkan protein penting untuk regulasi organ dan jaringan tubuh. Tubuh juga membutuhkan mineral penting seperti kalsium, kalium, dan vitamin D, yang tidak bisa dicukupi hanya dengan minum air putih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar